Missing A Person

SketchGuru_20130209212725

A: Hi,  there.

Me: Hi.  Good morning. Did you sleep well?

A: Sort of. I woke up so many time.

Me: How come? Are you ok?

A: I’m fine.  My legs sore.  I had to walk alot and my campus is sooo huge.

Me: No campus shuttle?

A: every 6 minutes.  But I still have to walk from the shuttle stop.  How’s  our son?

Me: He’s fine.  Missing his mom terribly but he tries not to show it.

A: You should talk to him.  He may need it.

Me: I will.

That’s a typical evening (or morning in the US) conversation between my wife and me.  She has been away to continue her study abroad for a while.  I, on the other hand, am learning how to become a single parent for the first time. Luckily,  with the technogy of internet and social media,  communication is easier than it was decades ago when communication was done only by means of telephone calls (which was super duper expensive) or by mails.  Nowadays distance is irrelevant.  We can communicate anytime and anywhere we want.  Still,  communitations without the actual presence of the person are different.  The presence of a person whom we care about won’t cause suffering of “loss” and for a grownup even though still can be handled maturely,  I still miss the person. It is different for a child who misses his mom.  Some kids can express his or her feeling but how about a kid who is still learning how to express his feeling? It is hard.  My son is playing a “tough”  boy.  I can sense his needs for his mom’s presence from his expression and his daily activities.  He basically needs more attention and care.  I need to offer double doses of attention.  By doing everything twice as much as before,  the chaotic situations occure frequently.  We used to share house chores and responsibilities and now everything is under my care.  Tough? Of course! Easy?  Not really… Hahaha.  These situation makes me appreciate greatly  all single parents.

My son is facing his “mid theme” review at school.  Usually it is my wife’s job to accompany him preparing, now it is mine.  I am a teacher,  but teaching subjects which are not my field is something else.  I tried to ask my wife though internet chatting media about some math problems but hey,  my brain is packed with lots of things and it doesn’t function properly.  How can I help my son with his problems about KPK and FPB (Lowest Common Multiple (LCM) and Highest Common Factor)?  I need to be creative!  So I asked my son if he understood about them and asked him to teach me.  Here we go,  he taught me well and now I understand! Instead of me giving him exercises,  he gave me some and he showed me how to do those problems.  Mission’s completed! 

To all single parents,  you guys are awesome! I salute you all.

 

 

Advertisements

Purpose

Aku duduk di warung kopi langgananku sesudah bekerja keras sepanjang pagi. Hari ini hari Sabtu, biasanya aku libur, tetapi karena bagian Conference CSU ngaco, maka turn over group yang akan menggunakan Student Halls terjadi hari Sabtu dan hanya menyediakan 2 jam saja untuk menyiapkan asrama. Bersungut-sungut jelas tidak akan menyelesaikan masalah, walau kami hanya berhasil mengumpulkan 4 orang sukarelawan termasuk aku dan bossku, tapi kami kerja cepat dan dalam 1 jam semua beres. Akhirnya aku bisa menikmati kelegaan dan rasa bahagia sambil nyeruput es kopi kegemaranku. Ada rasa puas bahwa semuanya beres dan aku bisa memulai akhir pekan tanpa beban lagi.
Sambil duduk merenung dan menikmati kopi, tiba-tiba aku teringat percakapan di WA dengan seorang sahabat kentalku yang barusan kehilangan putri satu-satunya.

“Hallo Jo, lagi ngapain?”
“Akhir-akhir ini gua sering teringat Jo pernah bilang gini: Kalo ga ada Kano, gua ga tau mau ngapain lagi. Hidup gua selesai.”

“Inget engga?”

“Itu persis yang gua rasakan sekarang.” Katanya lagi.
Aku tercenung dan terus terang aku tidak tahu harus bersikap bagaimana karena kehabisan kata-kata. Kondisi sahabatku ini memang sangat berat, tapi aku kenal dia seperti adikku sendiri dan aku yakin dia punya kekuatan yang sangat hebat. Sebagai seorang single parent yang kehilangan satu-satunya alasan untuk hidup (kalau mengutip ucapanku yang dia barusan bilang tadi) memang tampaknya hidup sudah selesai.

Dari percakapan itu aku terus berpikir tentang tujuan hidup. What is actually my purpose of life? sepertinya sudah beberapa kali aku menulis tentang ini, dan selama ini sesungguhnya masih merupakan sebuah pertanyaan yang belum pernah dapat dijawab dengan tuntas karena ujung-ujungnya tidak lebih dari jawaban klise seperti misalnya kebahagiaan atau ingin hidupku menjadi lebih baik.
Belum lama ini aku membaca sebuah blog yang bercerita tentang Dalai Lama yang melakukan perjalanan ke sebuah ski resort. Salah seorang yang menyertai perjalanan beliau menyampaikan sebuah pertanyaan:
What is the meaning of life?”

Dengan santai Dalai Lama menjawab,

The meaning of life is happiness”

Lalu beliau melanjutkan,

“Itu bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Yang sulit adalah, Apa yang membuat kamu bahagia? Apakah uang? rumah yang besar? keberhasilan? teman? kebaikan? atau yang lain? itu adalah pertanyaan yang harus kita semua berusaha jawab.

What makes true Happiness?”

Tapi sekarang ini jangankan membahas mengenai arti sebuah kehidupan, sahabatku ini sedang dirundung sebuah kesedihan yang sangat masif. Kehilangan satu-satunya orang yang paling dekat, paling dicintai dan menjadi pusat dari seluruh fokus kehidupannya bukan sesuatu yang mudah.

Menurut salah seorang psikolog yang pernah aku baca tulisannya, kesedihan merupakan perasaan yang “hidup” yang fungsinya adalah mengingatkan kita pada sesuatu yang bermakna, berarti dan penting yang memberikan arti kehidupan.
“When we feel sadness, it centers us. In general, when we recognize our emotions and allow ourselves to feel them in a healthy and safe capacity, we feel more grounded, more ourselves and even more resillient.”

Mungkin ini yang perlu dilatih. Kita tidak bisa menghilangkan kesedihan dengan mengabaikan emosi. Menutup emosi juga sama saja menutup diri kita dari rasa senang. Kita tidak bisa hanya memilih rasa senang tanpa juga merasakan kesedihan. Kemampuan kita untuk merasakan emosi adalah kodrat manusia.

Semua orang berlomba-lomba mengejar kebahagiaan, itu bukan hal yang aneh. Ada yang beranggapan berlibur membuat bahagia, ada yang belanja, memiliki rumah yang besar, mengejar kekuasaan di ranah politik, menjadi kaya, pesta, berfoya-foya, apa lagi? semua hal-hal random kita kejar sekedar berusaha mencari kebahagiaan. Akhirnya kita lelah, semuanya itu memang menyenangkan, tapi sesudah semua berakhir apakah kita bahagia? Lalu apa? seperti pertanyaan Dalai Lama, what makes true happiness?
Lalu aku pernah juga membaca mengenai purpose of life. Aku lupa siapa yang nulis tapi aku ingat yang dia katakan, The purpose of life is being useful, to be compassionate, to be honorable. Nah ini buatku menarik. Yang aku tangkap secara tidak langsung, tujuan hidup itu mengarah ke luar, bukan ke dalam; ke orang lain, ke sekeliling kita, bukan untuk diri sendiri. Jadi tujuan hidup itu bukan hanya semata-mata untuk menyenangkan diri sendiri, mendahulukan kepentingan diri sendiri atau keuntungan diri sendiri.
Ada salah seorang penulis juga berpendapat bahwa Kebahagiaan adalah produk sampingan, byproduct, dari being usefulness; Semakin kita berguna bagi orang lain, semakin kita menjadi agen perubahan yang memberikan manfaat bagi orang lain, mempunyai empati, compassionate, itu yang akan membuat seseorang bahagia.

Nah setelah kehilangan seseorang yang menjadi fokus dari tujuan, misi dan motif dalam menjalani kehidupan, logikanya tentu saja sangat wajar jika aku kehilangan tempat berpijak. Buat apa lagi aku hidup jika seseorang yang menjadi fokus kehidupanku tidak ada lagi? Aku kehilangan arah, aku tersesat, I am totally lost!

Setelah aku lama merenung, aku mulai melihat banyak flaws, kesalahan, ketidak-benaran, kesalah-kaprahan soal perkataanku bahwa “jika Kano tidak ada lagi, maka hidupku selesai!” Memang kata “Kano” seakan-akan menjadi pusat dari tujuan hidupku, tapi justru itu yang menjebak. Aku seharusnya bukan memusatkan seluruhnya pada satu objek, yang kebetulan seorang manusia, si Kano itu. Tapi pusatnya justru seharusnya pada usefulness, being useful-nya. Tidak penting siapa, karena seperti yang aku ungkapkan di atas, tujuan hidup itu seharusnya “ke luar”!!! Bolehlah ke satu orang, atau beberapa orang seperti keluarga atau orang orang yang kita cintai misalnya. Tapi itu bukan suatu yang absolut. Karena jika itu absolut maka jika kita kehilangan dia atau mereka, habislah sudah. Jadi yang paling utama adalah “ke luar”-nya itu.

Ke luar tanpa suatu misi maka akan sulit menjadi berguna. Mungkin sebaiknya untuk bisa keluar aku harus tahu apa yang ada “di dalam” dahulu, dari situ sepertinya akan lebih mudah mengetahui what my calling is.

Mengetahui panggilan hidup maka akan menciptakan misi, misi akan membuat kita tetap fokus, membuat hidup kita tidak tumpul atau membosankan dan yang terpenting, misi memberikan alasan kita untuk hidup, mengarah pada penentuan tujuan hidup, the purpose of life and hopefully at the end, the reason of my existence!

Gitu ya? hmmm…. kayanya ini akan jadi semacam refleksi hidup yang harus terus menerus dilakukan…

Duh berat amat sih… nulisnya sampe kepala senut-senut…

Sebelum aku tutup aku barusan diingatkan oleh seorang sahabatku yang bilang, “Mas, aku percaya kebahagian bisa dicapai dengan being useful, tapi ingat loh, harus ballance, you have to be useful but don’t let others take advantage of you!”

Bener juga sih.. kita berasa berguna tapi kalo dimanfaatkan ya ujung-ujungnya bukan bahagia tapi SEBEL!!!! Have a good week everybody☺ ***

End of Spring Semester

Colorado State University Transit Center ramai sekali hari ini tapi bus-bus kota sebaliknya tampak kosong. Menjelang hari-hari terakhir perkuliahan di semester musim semi memang selalu begini. Mahasiswa-mahasiswi hampir semuanya telah menyelesaikan ujian dan kebanyakan siap-siap pulang kampung. Asrama-asrama mulai ditinggalkan penghuninya, di tempat parkir disediakan tempat-tempat sampah raksasa di mana para mahasiswa membuang banyak hal, dari persediaan makanan yang tidak sempat dihabiskan, bantal, seprai, selimut bahkan TV, kulkas, kipas angin dan barang-barang elektronik yang tidak bisa mereka bawa atau sudah rusak. Di salah satu sisi juga ada sebuah kontainer yang menampung barang-barang yang disumbangkan mereka. Bisa dilihat barang-barang menumpuk, beberapa kulkas, microwave, sepeda, gantungan baju, rak plastik dan sebagainya yang mereka sumbangkan. Beberapa sukarelawan memasukkan barang-barang itu ke dalam kontainer yang nanti akan mereka bagikan ke penduduk yang membutuhkan, rumah-rumah penampungan gelandangan, panti sosial dan sebagainya. Para mahasiswa mulai mengangkuti barang-barang pribadinya ke dalam mobil atau truk dibantu teman-temannya maupun keluarga yang menjemput. Sebentar lagi asrama-asrama ini kosong dan berubah menjadi semacam “hotel” untuk kegiatan summer camps, conference, dan sebagainya. Tadi pagi beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang tinggal di asrama tempatku bekerja bersalam-salaman, berpelukan mengucapkan selamat tinggal serta selamat berlibur. Mereka hampir semuanya tidak akan kembali lagi ke asrama karena hanya mahasiswa tahun pertama saja yang diwajibkan tinggal di asrama. Tahun ke dua dan seterusnya mereka mencari tempat tinggal di luar kampus.

Di akhir semester musim semi juga diwarnai dengan kelulusan, selama minggu terakhir ini banyak upacara wisuda. Di sini tampaknya wisuda tidak digabung menjadi 1 seremoni tetapi banyak, sehingga bisa dijumpai banyak mahasiswa yang mengenakan toga di didampingi oleh keluarganya di mana-mana selama beberapa hari. Itu sebabnya kampus dan CSU transit center begitu ramai.

Aku menyaksikan keramaian ini sambil asyik duduk menikmati hangatnya sinar matahari yang sudah berbulan-bulan tidak aku nikmati. Aku duduk menunggu Kano yang pulang dari sekolah dan akan sama-sama baik bus menuju rumah. Menjelang akhir semester ini selama 1 bulan kano mengikuti kegiatan track and field seperti tahun lalu. Kalau tahun lalu Kano masuk ke grup lari dari sprint, estafet hingga lari jarak jauh, tahun ini kano memilih lempar cakram dan tolak peluru. Kegiatan dimulai sepulang sekolah hingga jam 4 sore. Karena bus sekolah sudah tidak ada, Kano harus naik bus kota dari sekolah ke Down Town lalu dilanjutkan bus berikutnya ke CSU. Biasanya dia tiba di kampus pukul 5 sore di mana aku menunggu sambil membawa makan malam, lalu pulang sama-sama atau kano pulang sendiri membawa makanan yang sudah aku siapkan, sedangkan aku kembali bergabung dengan Nina untuk belajar hingga malam hari. Tahun lalu Kano hampir setiap kali aku jemput ke sekolah dan pulang sama-sama, tahun ini dia sudah pulang sendiri walau perjalanan lumayan jauh dan berganti bus kota.

Pada saat menunggu inilah aku melihat sesuatu hal yang menarik. sesuatu dibungkus piring kertas diberi nama dan tertempel di sebuah tiang.

Aku perhatikan tidak ada seorangpun yang tertarik untuk melihat isinya, maupun mengambilnya. Di piring kertas itu hanya tercantum sebuah nama.

Tak beberapa lama bus nomor 31 tiba. Para penumpang turun dan penumpang yang tadi menunggu lalu dengan tertib naik. Sang sopir turun karena masih sekitar 10 menit lagi bus itu akan berangkat. Pak sopir berjalan menghampiri tiang dan mengambil piring kertas itu membuka serta mengambil isinya yang ternyata adalah sebuah charger HP. Dia tertawa dan menoleh ke arah aku duduk. Aku begitu terpesona menyaksikan kejadian ini. Pak sopir baik ke bus, mengambil pulpen dan menulis kata Thank You, lalu menempelkan kembali piring kertas itu ke tiang.

“Wow, pikirku. Coba di tempat lain, barang itu pasti sudah lenyap!”

Ya, betul sekali. Di sini semua cukup aman karena kebanyakan orang jujur, tidak suka ikut campur urusan orang lain dan juga tidak tertarik pada barang yang bukan miliknya.

Kejadian lain yang tidak kalah menariknya juga pernah aku saksikan. Pada waktu itu aku duduk di dalam bus kota nomor 6 yang akan membawa aku ke tempat fisioterapi. Ada 3 orang anak SMP yang akan naik bus sambil membawa sepeda. Semua bus kota di sini memang dilengkapi dengan rak sepeda di bagian hidung bus

Rata-rata sebuah bus dapat mengangkut 3 buah sepeda. Nah 3 anak itu masing-masing membawa sebuah sepeda tapi ternyata bus itu sudah mengangkut 1 sepeda sehingga hanya 2 sepeda saja yang bisa diangkut. Anak yang masih memegang sepeda akhirnya menaruh sepedanya di tempat perhentian bus, distandar dan ditinggalkan begitu saja tanpa dikunci, lalu naik ke dalam bus sambil berkata ke teman-temannya. “I’ll pick it up later!”

Sepeda itu bukan barang murah loh, yang kualitas paling sederhana saja harganya di atas $75 apalagi yang bagus, bisa ratusan dollar harganya. Kalau aku, jelas tidak akan pernah meninggalkan sepeda tanpa dikunci sembarangan karena kalau ada yang ngambil, repot harus nabung untuk bisa membeli lagi. Nah anak itu dengan santai meninggalkan sepedanya di pinggir jalan tanpa dikunci. Mengagumkan bukan?

Aku juga punya beberapa teman yang mobilnya diparkir dan tidak pernah dikunci. Suatu waktu topiku tertinggal di mobilnya. Waktu aku mau ambil, aku SMS dia tapi tidak dijawab, maka dengan santai aku ke mobilnya aku buka pintu lalu aku ambil topi yang tertinggal itu. Sesudah itu aku tinggalkan pesan bahwa aku sudah ambil topi di mobilnya. Malamnya baru dia membalas pesanku itu. Ada teman lain juga yang kebetulan tempat kerjanya berdekatan, masih satu kampus tapi beda departemen. Dia suka mampir di dekat kantorku dan meninggalkan mobilnya dalam keadaan hidup. Aku pernah tanya,

“Mas mobilmu kok ditinggal dalam keadaan hidup? dikunci engga?”

dijawab: ” engga aku kunci kok, aman. Sengaja aku tinggal dalam keadaan hidup supaya heater jalan terus, jadi tetap hangat.”

Waktu itu memang winter dan suhu sangat rendah, jadi wajarlah kalau ingin suhu di dalam mobil tetap hangat.

Nah dari kejadian-kejadian yang aku alami ini, aku melihat beberapa hal yang menarik. Pertama, apakah memang kebanyakan orang di sini itu jujur dan tidak suka mengambil milik orang lain? aku tidak bisa menjawab, mungkin saja sih, sebab jika orang-orang di sini suka mengambil barang yang bukan miliknya, maka tentu tidak akan ada orang yang seenaknya naruh barang tanpa pengawasan. Kedua, apakah banyak orang yang tidak atau kurang menghargai barang miliknya? Di sekitar apartemenku bisa aku lihat mainan anak-anak bertebaran di sekeliling kompleks. Ada mainan dari plastik, sepeda roda tiga, sepeda besar kecil, scooter, bola basket sampai ember dan sendok untuk main pasir dan senjata mainan. Oh selain mainan, di teras rumah yang tidak berpagar kami menaruh barang-barang pribadi seperti cooler, grill untuk barbeque, meja, kursi, dan lain-lain. Kalau semua dikumpulkan bisa membutuhkan beberapa truk besar.

Kalau soal mobil temanku yang dibiarkan dalam keadaan menyala, akhirnya aku tau jawabannya. Mobil jaman sekarang tidak pakai kunci starter lagi, cukup tekan tombol. Kalau mobil itu dicuri misalnya, dalam jarak beberapa ratus meter mobil itu akan mati dan tidak bisa dihidupkan lagi, karena kunci remotenya (yang dibawa oleh pemilik kendaraan) jaraknya terlalu jauh. Jadi aman!!!! Tapi kalau mobil temanku yang tidak pernah dikunci, aku tidak tau jawabannya deh hahaha. Ketiga, apakah mungkin masyarakat sini percaya akan keamanan? mereka yakin barangnya aman tidak akan disentuh atau diambil oleh siapapun? mudah-mudahan memang begitu deh. Yang jelas, semua ini buat aku merupakan pengalaman yang mengagumkan***

100th Blog

Sabtu pukul 9 pagi. Karena hari libur, aku masih bisa berbaring santai di kamar. Selimut aku biarkan acak-acakan dan menikmati pagi dengan bermalas-malasan tertawa-tawa membaca komentar teman-teman di tanah air yang membahas soal soto sulung, bala-bala serta mie ayam. Mereka memang bandel-bandel ngerjain aku yang sedang kangen makanan tanah air. Musik lembut dari speaker kecil warna merah di sampingku mengiringi perasaan bahagia yang sedang aku rasakan. Di luar salju turun tanpa henti padahal saat ini sudah di pertengahan musim semi. Bunga- bunga yang mirip Cherry blossom (entah apa itu namanya karena ketika aku tanya teman-temanku kebanyakan mereka tidak tahu) mulai mekar dimana mana, warnanya putih, pink, merah, dan ungu serta belum banyak daunnya, hanya bunga-bunga.

Pepohonan yang gundul di saat musim dingin kini mulai memunculkan tunas-tunas daun, demikian juga rumput dan semak-semak mulai menghampar hijau. Bunga-bunga seperti tulips, daffodils, crocus ataupun hyacinth bermekaran menyajikan aneka macam warna yang sangat indah.

Burung-burung yang selama musim lalu entah menghilang kemana, mulai kembali menyambut matahari dengan nyanyian mereka yang ceria. Pagi ini begitu indah walau salju tipis menutupi semua warna, dari pucuk pepohonan, atap rumah hingga rerumputan. Aku tersenyum sambil memandang ke luar jendela memperhatikan butiran butiran salju yang jatuh dan terbang kesana-kemari ditiup angin. Aku merasa beruntung,

Yes, I am a lucky one, some people say so and I believe I am.

Mungkin saja aku itu seorang pelamun karena hampir setiap saat aku sibuk berimajinasi, berpikir tentang sesuatu yang nyata atau hanya sekedar berandai-andai. Pada saat itu seringkali kelekatanku dengan kenyataan menjadi samar dan sebagian dari diriku seolah-olah hidup dalam sebuah fantasi yang begitu intens hingga emosiku sangat menyatu dalam semua episode yang terputar dalam benak.

Kupejamkan mataku dan pikiranku melayang menembus ruang dan waktu. Terbang ke suatu tempat di masa lalu.

Saat itu matahari belum sepenuhnya terbit dan aku berjalan menggendong ransel yang penuh dengan berkas-berkas pekerjaan. Jalanan begitu lengang, belum banyak kendaraan, orangpun masih belum ramai. Seorang bapak tua berpakaian kuning dan agak bungkuk sibuk membersihkan sampah peninggalan orang-orang yang berjualan makanan semalam. Bau basi , Busuk dan masam sesekali menerpa indra penciumanku ketika melewati gundukan-gundukan sampah yang belum sempat dibersihkan. Aku harus berjalan hati-hati karena berusaha menghindari genangan-genangan air kotor sisa para penjual mencuci piring atau mangkuk bekas makan, becek di mana-mana. Tempat ini di malam hari menjadi tempat tujuan kuliner kaki lima. Emperan toko penuh dengan pedagang dan pembeli. Tapi pagi ini semua kosong, toko-toko masih tutup, dinding-dinding dan pintu-pintu tampak berdebu dan di gang-gang tampak gerobak-gerobak penjual yang sebagian ditutup terpal kumal dan diikat tali tambang plastik. Gang ini tampaknya menjadi tempat penyimpanan ketika para penjual pulang. Di beberapa tempat aku lihat ibu-ibu yang menjual nasi kuning, bermacam-macam gorengan dan kopi. Semuanya di emperan toko yang terus terang menurutku kumuh dan kotor. Trotoar memang terlihat sudah disapu tapi lantainya kotor karena bekas tumpahan entah minuman atau kuah makanan yang meninggalkan noda-noda yang menghitam.

Di beberapa tempat juga tampak orang-orang yang tidur di atas kardus bekas dan memakai selimut dari ujung kaki hingga menutupi kepala. Secara spontan aku pindah jalan kaki di tepi jalan raya karena menghindari mereka yang sedang beristirahat. Di dekat mereka juga ada yang sudah bangun dan duduk sambil merokok memegang gelas plastik sangat tipis bekas aqua yang berisi kopi. Di salah satu sudut ada sebuah gerobak yang berisi macam-macam dari mulai pakaian hingga perabot rumah tangga. Di dekatnya ada 2 orang anak-anak kecil, mungkin berumur 5 dan yang lebih besar sekitar 7 atau 8 tahun dengan pakaian kumal dan kotor. Sepertinya mereka baru bangun tidur dan wajah mereka kotor tidak kalah dengan pakaiannya. mereka berjongkok sambil makan gorengan dan nasi di atas daun pisang dan koran. Seorang ibu sambil menggendong bayi memperhatikan mereka dan seorang laki laki sedang berjalan mendekati si ibu dengan segelas kopi. Tampaknya mereka adalah sebuah keluarga yang tidak mempunyai rumah. Di dekat gerobak itu masih terhampar tikar dan kain kain di mana mereka tidur. Sebentar lagi toko-toko akan mulai buka dan trotoar itu akan berangsur-angsur ramai. Aku berpikir kemana keluarga itu akan pergi begitu kegiatan bisnis di daerah itu mulai berjalan. Aku sedih melihat pemandangan ini. Di sebuah pusat kota, selalu ada kisah pedih seperti ini. Di banyak pusat kota yang pernah aku kunjungi, sering aku saksikan cerita yang sangat kontradiktif dan memprihatinkan dari dua kondisi yang bertolak belakang. Sebuah keangkuhan dan sebuah rintihan berdampingan, bersentuhan tapi dipisahkan sebuah jurang imajiner tapi nyata terlihat dan sangat terasa.

Kurogoh saku belakangku, kuambil selembar uang dan kuhampiri ibu itu lalu kosodorkan kepadanya tanpa kata-kata. Hanya sebuah senyuman dan dibalas dengan senyuman serta bisikan ucapan syukur. Ibu itu mengangguk dan menempelkan uang itu ke dahi nya sambil bibirnya bergerak gerak. Entah doa atau ucapan syukur aku tidak tahu, aku kemudian berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi. Dadaku sesak dan rasa pedih menjalar ke seluruh panca inderaku.

Aku terus berjalan perlahan-lahan. Saat itu baru pukul 6 lewat. Aku masih punya setidak-tidaknya 1 jam sebelum pekerjaanku mulai. Kuhampiri sebuah kedai kopi kecil yang tertutup kain bekas iklan salah satu kopi instant lalu memesan secangkir kopi susu. Sudah beberapa kali aku mampir di tempat ini dan aku semakin sering bertukar cerita. Si bapak penjual kopi itu asalnya dari Garut. Mempunyai sepetak sawah yang dijaga oleh istri dan salah seorang kerabatnya sementara dia mengadu nasib di kota. Setiap 3 minggu sekali dia pulang ke kampungnya membawa hasil keuntungan berjualan. Selama bekerja di Bandung dia tinggal di sebuah kamar kos bersama 5 orang lainnya. Entah bagaimana mereka mengatur jadwal sehingga 1 kamar dapat cukup untuk istirahat 6 orang. Seingatku ada yang bekerja di malam hari dan ada yang bekerja di siang hari.

Ucapnya, “Upami ngekos nyalira mah moal tiasa nyandak artos ka lembur atuh pa.” (Kalau kost sendirian tidak akan mampu membawa uang ke kampung halaman dong, pak)

Dengan dibagi 6 orang maka 1 bulan dia hanya perlu membayar tidak sampai 50 ribu. Dari Bapak penjual kopi ini juga aku tahu bagaimana mereka harus setor uang setiap hari kepada “penguasa” lapak, ada retribusi resmi, uang keamanan, dan sebagainya.

“Kenapa harus ada uang untuk menjamin kemananan?” Ini sebuah pertanyaan yang sudah basi, bahkan di pemukiman pun ada pungutan ini. Jadi kalau tidak ada uang maka tidak aman kah?

Untuk para pedagang kecil di pinggir gang, pungutan-pungutan itu sangat besar. Total yang dipungut selama 1 bulan bisa beberapa kali lipat dari uang kos dia selama 1 bulan. Sementara “penguasa” lapak pekerjaannya hanya duduk di pos sambil merokok dan mengobrol.

Kuhabiskan kopi yang aku pesan lalu kubayar dan mulai berjalan perlahan menuju tempat aku bekerja. Lagu-lagu yang dilantunkan oleh Karen Carpenter membuat suasana hati yang terpengaruh kekumuhan tempat itu menjadi semakin sendu.

“Beberapa bulan lagi suasana yang sedang aku alami ini akan menjadi suatu kenangan.” Kataku dalam hati.

Dan memang benar, setiap kali aku mendengarkan syair lagu lagu yang dinyanyian oleh Karen ini, aku langsung teringat pada keluarga gerobak, onggokan-onggokan sampah, emperan toko yang kotor dan si bapak tukang kopi.

Why do birds suddenly appear
Every time you are near?
Just like me, they long to be
Close to you

Aku berjalan di gang sempit yang penuh dengan gerobak jualan.

Why do stars fall down from the sky
Every time you walk by?
Just like me, they long to be
Close to you

Kopi ABC susu yang aku minum di tempat si bapak agak terlalu manis dan ampasnya nyangkut di gigi.

On the day that you were born the angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moon dust in your hair of gold and starlight in your eyes of blue
That is why all the girls in town
Follow you all around
Just like me, they long to be
Close to you

Tukang jualan karung dari bahan goni dan plastik mulai menggelar jualannya di trotoar dan supaya tidak terbang karung-karung yang ditumpuk dengan rapih itu ditindihi batu. Lalu aku tiba di perempatan, di sebelah kananku ada sebuah pasar yang sangat ramai karena trotoar digunakan oleh para pedagang buah-buahan dan makanan, sementara pasarnya sendiri masuk ke bagian dalam. Di sebrang ada toko yang warnanya kuning terang, lalu beberapa toko sebelahnya ada bank BNI. Gang tempat aku bekerja tidak jauh dari situ.

On the day that you were born the angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moon dust in your hair of gold and starlight in your eyes of blue

aku melompati genangan air yang kotor penuh sisa makanan dan bau basi

That is why all the girls in town
Follow you all around
Just like me, they long to be
Close to you
Just like me, they long to be
Close to you
Wa, close to you
Wa, close to you
Ha, close to you
La, close to you

Angkutan kota bersliweran, Tukang bubur ayam dan kupat tahu petis mulai dikerumuni pembeli. Beberapa langkah lagi aku akan tiba di depan gang. biasa di sana banyak tukang becak bermain catur sambil menunggu penumpang. Di sisi mulut gang bersebrangan dengan para pacatur ada warung rokok kecil yang menempel ke dinding Alfa Mart. Aku mampir membeli sebotol aqua, selama bekerja nanti aku banyak minum karena tenggorokanku mudah kering, terutama karena kadang harus banyak teriak-teriak menghadapi anak-anak yang bandel dan malas. Mereka memang seringkali menjengkelkan, tapi aku cukup mencintai pekerjaanku. Kutenteng botol aqua dingin ini sesudah minum beberapa teguk. Menghela napas panjang dan bersiap menghadapi riuh rendah suara yang sering membuat aku merasa lelah.

“Jo, hari ini kamu punya rencana apa?”

Aku tersentak dan terjaga dari lamunanku karena tiba-tiba istriku bertanya dari luar pintu kamar. Rambutnya masih basah dan wajahnya terlihat segar setelah selesai mandi.

“Hmmm… belum tau.” kataku sambil mulai berpikir tentang jadwal hari ini.

Baru tersadar bahwa lamunanku itu muncul ketika lagu-lagu Carpenters mulai mengalun dari speaker kecilku itu. Seperti yang pernah aku ceritakan, musik bagiku identik dengan suatu peristiwa dan pengalaman di masa lalu. Dan kali ini lagu yang dinyanyikan oleh Karen langsung memicu pada suatu kejadian yang telah lama berlalu.

“Kasih tau aku ya, karena mungkin seharian aku akan kerja di perpustakaan. Kita bisa ke downtown sore nanti dan cari kopi atau snack kalau kamu mau.” Kata istriku sambil berlalu.

“Emang sore akan cerah? sekarang aja salju masih turun, males ke mana-mana.” jawabku

“Nanti siang juga berenti dan kata ramalan cuaca sore suhunya nyaman.” timpalnya.

“Ok, kita liat aja nanti. Aku akan WA kamu nanti siang.”

Aku melompat dari tempat tidur dan mulai membereskan bantal-bantal dan selimut. Aku ingat hari ini aku punya banyak pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan. Begitu nanti beres, aku bisa mulai bersantai dan menikmati akhir pekanku. ***

Upil dan Mahasiswi Cantik

Seperti biasa aku berangkat bekerja pagi-pagi sebelum matahari betul-betul terbit. Saat ini sudah musim Semi dan temperatur sudah terasa hangat di siang hari, kalau aku beruntung aku bisa menikmati matahari yang cerah dengan suhu 20-an. Colorado memang unik, walau dikatakan sudah musim semi, salju masih suka turun. Seperti misalnya Jumat minggu lalu sepanjang hari suhu anjlok hingga di bawah nol dan matahari sama sekali tidak terlihat. Dari subuh hingga malam salju tidak berhenti tapi kemudian besoknya cerah sekali, udara hangat, matahari bersinar terang dan salju yang pagi hari masih menutupi atap, taman dan sebagainya langsung mencair dan menghilang! Di musim semi juga siang mulai lebih panjang daripada malam hari. Pukul 6 pagi sudah mulai terang dan matahari baru terbenam pukul 7:30-an.

Aku meninggalkan apartment sekitar pukul 6:20. Di sini jam segitu masih sangat sepi karena kebanyakan orang-orang di sini bangunnya siang. Jalanan juga sepi sekali, hanya setiap beberapa menit baru ada kendaraan lewat.

Ketika aku melewati di tempat parkir sebuah SMS masuk.

“Joe, once again I am not going in. I am still sick. Can you touch up first floor Edwards? cos we don’t have Angelica today.”

Aku memang sudah punya firasat bahwa bossku belum akan sembuh karena kemarin waktu kami bicara di telepon, dia terdengar sangat parah. Aku jawab bahwa dia tidak perlu khawatir karena aku bisa handle 2 gedung, dan aku bilang agar dia banyak istirahat dan cepat sembuh.

Hari ini aku akan repot sekali karena boss tidak masuk dan ditambah aku kekurangan 1 karyawan lain.

“Mudah-mudahan saja besok membaik” Pikirku, sebab aku akan kehilangan 1 orang lagi karena dia minta ijin berobat. Walau bukan pertama kali kami kekurangan tenaga, tapi sekarang aku yang bertanggung jawab, jadi bebannya semua ada dipundakku, dan ini rasanya jauh lebih berat.

Sampai di tempat tunggu bus kota, langit sudah mulai berwarna oranye. Bus tiba pukul 6:31 dan di dalam terlihat agak kosong. Hanya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang biasanya pergi ke gym sebelum kuliah. Aku duduk sambil mendengarkan lagu dan membuka HP untuk membaca berita dan obrolan di group. Di depanku ada seorang mahasiswi cantik duduk menyamping. Di kakinya ada duffle bag dan sebuah ransel disamping tempat duduknya. Sesekali aku memandangi dia dan kembali melihat HPku, menikmati lagu atau bahkan melamun.

Tiba tiba aku merasa ada sesuatu yang aneh, loh… kok mahasiswi cantik itu ngupil 😮 “Waaaah, cantik-cantik kok kaya gitu sih di muka umum?” pikirku tidak percaya dengan penglihatanku sendiri. Biasanya di masyarakat bule, eh sebetulnya engga cuma bule sih tapi dimana-mana juga begitu, membersihkan hidung di muka umum itu perbuatan yang tidak baik. Lah ini mahasiswi cantik kok begitu… langsung deh nilainya merosot drastis. Cantiknya langsung hilang! Nah aku makin bengong ketika hasil ngupilnya dia pandangi dengan seksama hahaha… “Duh nih cewek.” pikirku lagi. “Kacau banget! coba deh ah.. masa ngupil di publik lalu dipandangi lagi… jangan jangan nanti dimakan! hahahaha” pikirku geli sendiri membayangkan sesuatu yang lucu walau terus terang juga menjijikan. Hahaha…

Mahasiswi itu memang sibuk sekali dengan aktifitas gilanya.. dan…. sesudah dipandangi dengan takjub (mungkin loh, karena keliahatan wajahnya puas sekali, sepertinya dia berhasil dengan gilang gemilang! 😂) lalu jari itu masuk mulut hingga setengahnya. O Em Ji!!!! aku tersentak kaget, menggosok-gosokan mataku dan berharap yang baru aku saksikan itu hanya sebuah ilusi dan hanya imajinasiku semata. Sekian detik berlalu lalu jari itu keluar dari mulutnya…. Ternyata ini nyata, bukan khayalan… Aku langsung mengalihkan pandanganku ke HP tapi bayangan kejadian yang baru saja aku saksikan itu tidak bisa hilang. Aku lihat bapak Tua yang duduk dihadapannya dan sepertinya dia juga bengong dan dahinya berkerenyit. Ah ternyata bukan aku sendiri yang jadi saksi… Aku gelengkan kepala dan berusaha menghapus semua kejadian itu. Mudah-mudahan wajahnya bisa terlupakan supaya besok aku tidak ingat yang mana mahasiswi yang ngupil itu… hoek cuihhhh 😣 lebih baik aku memikirkan pekerjaan, bagaimana membagi tugas diantara anak buah supaya 2 gedung bisa dikerjakan dengan lancar walau kekurangan tenaga. Ngapain juga mikirin mahasiswi cantik yang seneng makan upil. Kacau nih dunia persilatan!!!! hahahahaha***

Believe It or Not, It’s Free!

“Kamu tuh banyak mikir. Terlalu kuatir akan banyak hal!”

Kataku pada diri sendiri sambil meletakkan segelas besar Ice caramel macchiato kegemaranku di sebuah meja yang agak tinggi di salah satu sudut kedai kopi yang siang ini terlihat lumayan ramai. Di belakangku ada seorang pria yang sedang asyik menikmati Cappucino dan duduk menghadapi sebuah laptop. Di sampingku ada 4 orang yang ramai ngobrol sambil minum kopi. Aku taksir mereka mungkin berusia sekitar 60-an. Ramai sekali mereka tertawa-tawa dan suara mereka lumayan keras. Di depanku seorang wanita cantik berambut coklat pirang berkacamata, juga asyik dengan laptopnya. Rambutnya panjang hingga ke dada, mengenakan mantel krem dengan baju berbahan kaos sampai ke paha yang tertutup legging hijau lumut.

Aku menghembuskan napas dengan lega.

“Ah, ternyata engga serumit yang aku pikirkan.” pikirku lagi

“Biasanya khan kalo yang gratis-gratis suka banyak ini-itunya. There’ll always be a catch. Nothing is free in real life!” debatku

“Buktinya sekarang engga!”

“Ya itu, aku heran.”

Well, enjoy!”

“I know, right? This is awesome!”

Aku tersenyum, merasa lega dan senang. Sekarang tinggal tunggu email, mulai membaca buku yang semalam aku unduh dan mulai belajar. Sudah puluhan tahun aku tidak “belajar”, “This is it! Here comes the first step of pursuing my dream!”

Pikiranku terus bergulir dan “berdialog” dengan diri sendiri sambil melepas lelah dan menikmati es kopi di siang hari ini. Teman-temanku masih bekerja sementara aku minta ijin menggunakan 1 jam jatah liburku untuk pulang lebih awal dan mengurus pendaftaran kelas yang akan aku ambil. 1 kelas per semester, masing-masing 3 kredit. Setahun 9 kredit, maka dalam 3 tahun plus 1 semester aku bisa selesai 30 kredit total. Itu kalau semua lancar, jadwal tidak bentrok dengan jam kerja.

Aku baru saja selesai mendaftarkan diri untuk kelas pertamaku di Summer semester tahun ini. Sejak beberapa waktu terakhir ini aku sibuk memilih kelas yang akan aku ambil dengan banyak pertimbangan. Kelas yang ingin sekali aku ambil ternyata baru akan diberikan Fall nanti, Spring kemarin aku terlambat karena ketika aku memperoleh jawaban email dari graduate chair yang aku hubungi, kelasnya sudah keburu penuh, sedangkan aku hanya punya beberapa hari untuk memilih kelas yang lain. Jadilah summer ini aku baru memulai.

Sepanjang pagi aku gelisah dan banyak berpikir “bagaimana jika” yang selalu jadi kebiasaanku untuk memulai sesuatu yang aku tidak pahami. Employee study privilege adalah benefit yang bisa aku nikmati sebagai “pegawai negri”. Aku pernah cerita dulu bahwa aku dapat 9 kredit gratis per tahun untuk belajar. Nah inilah dia.

Kenapa sih aku gelisah? hahaha… ini mungkin lucu sekali. Aku besar di negara yang rumit. Yang namanya gratis itu bisa dibilang hanya omongan kosong, selalu ada sesuatu di balik janji-janji. Yah di Amerika juga sama sih, coba aja kalo di internet selalu ada istilah try it for free, register for free, eh ujung-ujungnya ada udang dibalik rempeyek khan? Ga benar-benar gratis. Akhirnya aku meyakini bahwa sesuatu yang gratis itu cuma candaan belaka. It’s too good to be true. Mangkanya aku gelisah, berandai-andai kira-kira nanti sesulit apa, berbelit-belit engga atau bahkan dilempar dari ruangan satu ke ruangan lainnya seperti kalau ngurus surat atau dokumen di pengalaman-pengalamanku sebelumnya.

Jadi siang ini aku ijin dan berangkat dari tempat kerja pukul 1:40. Jalan kaki sekitar 1 km lalu naik bus sekitar 15 menit. Aku belum pernah ke gedung ini, jadi agak muter-muter. Begitu masuk gedung langsung berhadapan dengan petugas di Front Desk. Aku sampaikan maksud kedatanganku.

Si petugas bilang,”All I need is just the form”

Aku serahkan formulir yang sudah aku isi dan ditandatangani bossku. Petugas meneliti formulir itu sebentar, lalu:

“That’s it!” katanya.

Is that all? all set?” tanyaku tidak percaya.

Yes, all set. You will get an email. You have a good day!” Kata petugas itu sambil tersenyum. Aku melongo karena tidak menyangka prosesnya semudah dan secepat ini. Wow! Tiba-tiba petugas itu terlihat cantik sekali di mataku hahahaha…

Aku keluar gedung lalu bingung tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sudah ijin dari tempat kerja dan appoinment dengan chiropractor-ku masih 2 jam lagi. Jadi jalan kakilah aku sambil mendengarkan lagu. Tidak jauh dari situ ada kompleks rumah sakit, fitness, klinik serta kedai kopi. Jadi disinilah aku menghabiskan waktu, duduk menikmati kopi dan bengong dalam rasa ketidakpercayaan. Tapi semuanya itu nyata, dan kalau nanti aku terima email dengan konfirmasi yang positif, maka mulailah pengalaman baru yang sudah aku nantikan selama belasan tahun.. wah surreal sekali ini dalam hati sambil lagi-lagi tersenyum. Kuraih gelas kopiku, hmm… harum dan nikmat sekali, menurutku ini hari yang sangat indah!***

Flu, Phony Eggs and Reading Habit

Horee… Dapat Ilmu baru! Tiba tiba aku dapat “broadcast” dengan judul seperti ini di grup WA. Secara singkat pesan itu menganjurkan bila kena flu atau sakit kepala, minum air hangat 2 atau 3 gelas, tunggu beberapa saat lalu minum kopi pahit 1 gelas. Katanya minum air hangat akan “menggelontor” virus dan keluar melalui air seni, lalu kopi menjadikan kita “aware“, menghilangkan kantuk sehingga cepat sembuh? Huh????? 🤔

Setahuku virus flu itu menyerang sel-sel tubuh, memang virus itu juga terdapat pada cairan-caitan tubuh kita seperti air seni, air liur, mucus, dan cairan dari hidung kemudian dari situ virus flu banyak menyebar lalu menjadi wabah. Tapi aku sangat yakin bahwa virus tidak secara mudah digelontor dengan air minum. Dari pemikiran itu aku menjadi sangsi bahwa broadcast ini bisa dipertanggung-jawabkan. Kedua, minuman mengandung caffein justru dilarang pada saat kita sakit karena mengakibatkan dehidrasi. Kok ini malah disuruh minum kopi. Ngaco! Ketiga, seandainya broadcast itu benar, buat apa pemerintah dan departemen kesehatan sibuk membuat penelitian setiap tahun mempelajari flu virus strain? Sudah diketahui secara ilmiah bahwa virus ini bermutasi dan setiap tahun ada varian atau subtype baru. Selama ini vaksin yang diberikan ke masyarakat berdasarkan hasil penelitian dan sampel dari jenis virus tahun sebelumnya lalu diproduksi secara masal dan diberikan ke masyarakat menjelang musim flu. Dengan melakukan ini diharapkan meminimalkan jumlah korban. Dengan usaha itu saja di Amerika tahun 2018, yang baru akan menuju bulan April, sudah ada lebih dari 40 ribu korban meninggal dengan rata-rata 4000 orang per minggu! Lalu Virus flu dapat dibasmi dengan minum air 2-3 gelas? absurd!!!! Kalau benar, ngapain mengeluarkan jutaan dollar untuk meneliti dan memproduksi vaksin? Pikir saja kalau tanpa asuransi kesehatan kita harus merogoh kantong sebesar $25 loh. Asuransi kesehatan berupaya mendorong masyarakat mendapat vaksinasi. Kenapa? biaya menyembuhkan jauh lebih besar! lalu katanya flu bisa disembuhkan dengan minun air? kalau begitu dengan mudah pemerintah mendorong masyarakat minum banyak-banyak khan? “Ga bener ini.” Pikirku.

Penasaran, aku langsung mencari informasi di internet. Tujuan pertama aku adalah mencari informasi yang tepat dan melihat apakah pendapatku itu benar dan didukung secara ilmiah. Dan memang ternyata begitu, pendapatku itu benar.

Baru-baru ini juga aku geleng-geleng kepala menonton video di Youtube, tentang telur palsu. Dan anehnya masyarakat termakan issue itu lalu jadi ramai. Pernah tidak mereka berfikir, seandainya benar nih ya hehehe, berapa ongkos untuk membuat telur palsu? bayangkan bagaimana caranya membuat cangkang telur sedemikian rupa meniru aslinya, kemudian membuat membran yang dibilang sebagai “kertas” yang tidak hancur walaupun basah kena cairan putih telur? lalu meniru kuning telur dan sebagainya? dan dijual dengan harga 1500 rupiah????? Aku yakin hanya orang tolol yang mau bersusah payah membuatnya lalu dijual dengan harga segitu! Kata orang jaman now, It is not worth it!!!! Daripada repot-repot mending buat candil atau kue lumpur lalu dijual 1000 rupiah per buah. Halal, enak dan ga pake tipu-tipu! Tobat deh hahahaha…

Sepertinya kita sudah bosan dengan segala hal seperti ini. dan Kita juga sudah tahu mengapa hal semacam ini bisa mudah terjadi. Salah satunya keterbatasan pengetahuan dan kurangnya keinginan untuk mencari tahu secara lebih mendalam. Terus terang aku juga heran loh, yang mem-broadcast tulisan tentang flu dan minum air sebagai remedy-nya itu temanku yang tidak bisa dibilang kurang ilmu karena dia sarjana, orang berpendidikan. Mengapa bisa begini? Aku tidak tau jawabannya dan hanya bisa mengira-ngira. Kalau dibilang malas membaca, lah dia khan sebelum mengirimkan tulisan ini pasti sudah dibaca dulu khan? Kurang literasi? hmm… dia sarjana loh, minimal seorang sarjana seharusnya mempunyai kemampuan literasi yang baik, pola berpikir yang baik serta mempunyai dasar pengetahuan yang baik atau setidak-tidaknya mempunyai kebiasaan sebagai orang berpendidikan untuk meneliti ulang sebelum berpendapat. Begitu khan? Tapi fakta menunjukkan sebaliknya. Contoh saja, di group WA yang sama aku juga sering mendapatkan broadcast entah berita, entah opini yang mirip-mirip tadi tapi sebelumnya ada catatan dari sipengirim;

” Ini betul atau tidak ya? aku belum check?”

Sungguh loh dalam hati aku benci dengan orang-orang semacam ini. Mereka melemparkan berita tanpa bertanggubg jawab. Sebagai orang yang mempunyai tanggung jawab moral sudah selayaknya memperhatikan kepentingan umum serta akibat yang mungkin akan terjadi jika menyebarkan berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan isinya.

contoh misalnya:

Teman- teman aku dapat berita bahwa kota Cirebon dilanda Tsunami. Aku tidak tau berita ini betul atau tidak karena belum aku check.

Loh, orang kaya gini khan kurang ajar. Bayangkan ada teman yang memiliki keluarga di Cirebon, jangankan berpikir untuk check ulang berita itu, dia pasti langsung panik dan berusaha mengontak keluarganya khan?

Kejadian orang yang melakukan broadcast semacam ini tidak hanya sekali dua kali loh, sering! Aku suka sebel dan coba cari fakta sesungguhnya, begitu aku tahu bahwa berita itu tidak benar aku konfrontasi di group. Lalu dengan santainya dia cuma bilang,”oh aku cuma copas!” dan kemudian lewat begitu saja tanpa merasa bersalah. Brengsek khan semacam ini?

Dari semua itu, aku mulai berpikir. Orang-orang semacam ini sebetulnya mempunyai motivasi apa sih? Kalau dibilang mereka ingin dianggap mempunyai pengetahuan luas ya tidak juga, buktinya mereka menyebarkan berita atau informasi yang tidak benar. Dengan demikian kita tahu bahwa dia tidak mempunyai pengetahuan yang cukup. Apakah mungkin karena dia care pada temantemannya sehingga dia menyebarkan tips-tips kesehatan yang ngaco? ini bukan care namanya tapi menjerumuskan. Bayangkan kalau itu terjadi di Amerika yang entah mengapa masyarakatnya sangat rentan terhadap virus flu sehingga puluhan ribu orang meninggal, bisa tambah parah khan? Atau dia ingin dianggap sebagai orang yang rajin membaca? oh itu aku setuju! Dia rajin membaca tetapi bukan pembaca yang bijak. Dan kalau hanya membaca posting-an orang lain, terus terang aku bilang bahwa dia bukan betul-betul membaca. Membaca yang sungguh-sungguh itu akan mempunyai keuntungan seperti:

. Menambah pengetahuan

. Menstimulir keinginan berpikir secara sehat, positif, analitis dan kalau mungkin sekalian yang ilmiah. Tergantung dari jenis bacaannya.

. Menghibur, jika membaca bacaan-bacaan ringan dan hiburan sehingga:

. Mengurangi stress

. Memperkuat ingatan

. Meningkatkan fokus dan kemampuan konsentrasi

. Memperluas kemampuan kosa kata. Dan bahkan

. Meningkatkan kemampuan menulis dengan lebih baik.

Banyak sekali manfaat membaca. Membaca yang sungguh-sungguh loh ya, bukan asal-asalan. Mudah-mudahan saja generasi yang akan datang dapat lebih baik karena kalau aku perhatikan anak-anak sekarang banyak difasilitasi di sekolah, seperti misalnya di sekolah anakku dahulu di Indonesia, sejak dini kebiasaan membaca mereka dipupuk. Setiap hari Kamis pagi mereka duduk di mana-mana di lingkungan sekolah dan membaca. Tampak hening dan khusuk mereka menikmati saat-saat itu. Aku juga melihat antusiasme orang-orang menggunakan “jastip”, Jasa titip buku ketika ada bursa buku besar-besaran di Jakarta. Lalu juga di sekolah anakku setiap tahun diadakan bursa buku, tukar menukar buku dan sebagainya. Kalau kegiatan sekala kecil ini menular ke mana-mana, aku yakin akan dapat meningkatkan kemampuan literasi masyarakat. Mudah-mudahan saja… ***

Food in LV

Beberapa waktu yang lalu kami pergi liburan musim semi. Lokasi yang kami pilih adalah Nevada, tepatnya di kota Las Vegas. Kenapa memilih tempat ini? karena banyak pilihan menarik, di samping menyediakan banyak ragam program hiburan, banyak atraksi, show, dan kuliner kelas dunia yang bahkan banyak chef terkenal punya restoran di sini seperti misalnya Gordon Ramsay, Bobby Flay, Giada de Laurentis dan lain-lain. Kalau senang Buffet, Las Vegas adalah surganya! Suatu siang kami mencoba brunch di buffet yang merupakan ranking no 1, di Caesar Palace, namanya Bacchanal Buffet, Ada banyak ragam jenis makanan yang di sajikan dan boleh makan sepuasnya sampai eneg hahaha. Mereka menyajikan Seafood lengkap dari lobster bisque, udang, kepiting, oysters, clams, escargot, mussells dan lainnya. Kemudian untuk pencinta beef dan pork mereka menyajikan berbagai jenis seperti misalnya ribs, prime ribs, wagyu, macam-macam sosis yang bukan main nikmatnya, ada breakfast sausages, Kielbasa, hot links, dan banyak lagi. Kemudian ada juga berbagai jenis dimsum, sushi, chinese food, Thai food, Vietnamese food, mexican food, spanish food seperti Paella, ada Italian food yang menyajikan seafood cioppino, pasta, pizza dan sebagainya yang makyus sekali. Dalam waktu 30 menit aku sudah tidak ingat lagi apa saja yang aku makan dan berapa kali piring diangkat oleh waiter hahaha, sebetulnya kalo mau aku bisa juga upgrade minuman. Dengan menambah $15 aku bisa minum mimosa (champagne + orange juice) sepuasnya, tapi khan aku tidak mau mabuk karena masih banyak acara dan ingin bisa menikmati sisa hari ini. Jadi aku skip dan lanjut dengan dessert yang tak kalah ragamnya. Mexican flan, creme brulee, tiramisu, panacotta, es krim, kue-kue beraneka macam, crepes, dan puluhan jenis makanan penutup.

Makanan apa lagi yang dapat dijumpai di Las Vegas? silahkan saja sebut nama benua, lalu cari jenis makanan dari benua itu dan cari di Las Vegas, pasti ada hahaha… Aku sebetulnya sangat open minded kalo soal makanan apalagi sekarang aku mulai belajar berdamai dengan yang namanya cinnamon, kalau sedikit masih bisa handle lah, tapi belum berani dengan cinnabon (cinnamon rolls dll) atau apple pie yang bau kayu manisnya bisa tercium dari jarak 1 kilometer hehehe… aku masih takut.

Anyway, dalam hal makanan aku sangat terbuka dan mau mencoba makanan baru, sayangnya aku berpergian dengan Kano yang sangat picky soal makanan. Dimata dia, makanan yang bisa dimakan hanyalah American food, sushi, dan steak. Repot! Harus berantem dulu kalau mau coba makanan yang di luar comfort zone dia.

Di Fort Collins pilihan makanan begitu terbatas, jadi begitu lihat jenis makanan yang banyak variasinya aku langsung kalap. Untung budget-ku terbatas jadi masih bisa direm apalagi dokter yang memberikan terapi mewanti-wanti sebelum aku liburan

“Awas kalau berat badanmu naik, kamu sudah berada di track yang benar, turun 15 lbs itu bagus, jangan naik lagi.” Ancamnya.

Nah, akhirnya aku dan Nina tidak pakai diskusi diskusi lagi kalau ingin makan makanan yang di luar daftar makanan Kano. Suatu malam kami ke restoran korea karena aku sudah lebih dari 10 tahun tidak makan Kalbi.

Maklumlah di Fort Collins restoran Asia bisa dihitung dengan jari karena pangsa pasarnya terbatas. Begitu nemu kalbi aku serasa hidup di masa lalu di mana yang jual makanan seperti ini ada dalam radius kurang dari 100 meter. Nikmat tiada tara. Dan percaya atau tidak, Kano menyukainya!!! Dia pesan yang standar, bulgogi, mirip dengan teriyaki beef. Tapi begitu dia coba punyaku, dia bilang,

“Next time I’ll order something like yours!”

Haa!!. Berhasil aku! Hahahaha

Kalbi adalah iga sapi yang dipotong tipis dengan tulang-tulangnya, direndam dengan saos rendaman khas korea dan dibakar. Rasanya bukan main, di Indonesia juga banyak sih, hanya jenis dagingnya daging lokal sehingga tidak terlalu empuk. Kalau daging impor ya kocek harus tebal. Yang menarik dari makanan Korea adalah side dish-nya. Ada Kim chi, selada air yang dimasak dengan cara yang khas dengan harum minyak wijen, toge yang juga ada aroma minyak wijennya, korean pancake, dan sebagainya. Ajib!

Kalau ke state Nevada atau California, jangan pernah tidak mampir ke gerai burger yang namanya In-n-out burger. Ini gerai burger kesukaanku, kenapa? murah, enak dan mereka menyajikan kentang goreng yang segar. Khas mereka adalah memotong kentang segar terus digoreng, tidak pakai kentang beku. Menu burgernya hanya 3, Burger, Cheese burger, double cheese burger. Semua menggunakan bahan yang segar, bawang, tomat dan selada dengan saos Thousand Island handalan mereka, Kentang goreng, minuman, dan milk shakes.

Disamping In-n-Out Burger aku juga suka Jack in the Box, ini juga gerai hamburger waralaba seperti mcD, Carls Jr. atau B. King, tapi dengan kualitas di atas mereka kalau menurutku. Kalau ke 2 gerai hamburger ini jangan lupa pesan Milk shakes, dijamin puas dan pasti merasa berdosa karena pasti sibuk menghitung berapa ribu kalori yang sudah dikonsumsi hahaha (Aku tidak cerita apa-apa ke dokterku loh… didamprat entar hahaha)

Sebetulnya kami sudah memiliki daftar panjang makanan apa saja yang akan kami coba, dari buffet, fine dining, makanan jalanan dan juga makanan yang direkomendasi oleh banyak kritikus makanan, hanya karena keterbatasan waktu kami tidak sempat mencoba semuanya. Aku agak kecewa juga sebab ada 1 tempat yang aku ingin coba namanya Tacos el Gordo. Salah seorang temanku di tempat terapi merekomendasi tempat ini, tapi sayang waktuku sangat terbatas.

Dari banyak tempat yang telah kami kunjungi, ada satu yang sangat menarik dan aku senang dapat mengunjunginya. Ini tempat donat yang terkenal di Las Vegas.

Tempatnya hampir di ujung down town, donat tradisional yang sangat unik, enak, empuk dan bukan jenis donat modern yang empuk karena bahan pengempuk. Variasinya macam-macam, ada creme brulee, blood orange, coconut dream, maple bacon, dan puluhan jenis lainnya. Yang aku pilih adalah Caramelized Pinapple. seumur hidup aku belum pernah makan donat sebesar ini… raksasa! Lihat saja gambar di bawah ini. 3 donat ukuran standar dan satu milikku yang luar biasa besar. Aku tidak mampu menghabiskan, jadi aku bawa pulang. Rasanya? huaaaa… donut terhebat sepanjang masa! Empuk tidak bau ragi tapi ada keseimbangan antara rasa manis dengan rasa buah nanas. Icingnya tidak terlalu overwhelming seperti donut pada umumnya. Di atas icing, ditaburi kelapa parut dan candied pineapple. Mungkin pencipta resepnya mendapat inspirasi dari minuman pinacolada hahaha.

Selama hampir seminggu di LV, ada satu tempat yang kami kunjungi 2 kali (disamping gerai burger tentunya). Namanya Cafe Sanuki, Sebuah Cafe yang menyajikan makanan Jepang. Kebetulan Nina sedang tergiur untuk makan Udon dan kano tidak pernah menolak jika diajak makan Chicken Katsu. Suatu malam kami mampir dan kami menyukainya. Menunya menarik, dibuat saat kami memesan sehingga relatif fresh, harga sangat terjangkau dan yang terpenting enak.

Mereka menyajikan aneka ramen, udon, rice bowl, tempura, rice rolls bahkan pork belly bao yang kalau di Indonesia mungkin sama dengan mantau. Enak sekali, oleh sebab itu kami ke sana hingga 2 kali.

Las Vegas memang salah satu surga makanan, disamping merupakan tempat hiburan, tempat untuk melepaskan diri dari segala kegiatan rutin, pekerjaan dan tempat melepas stress. Kota ini juga disebut sebagai kota yang tidak pernah tidur, semakin malam semakin hidup. Las Vegas juga dinamai sin city! Kenapa? sebab segala kegiatan “dosa” tersedia di sana. Surga kaum hedonis, surga bagi pencinta kehidupan yang bebas. Menurutku Las Vegas juga kota yang paling tidak sehat, sungguh bertolak belakang dengan Fort Collins yang bersih dengan komitmen untuk menjadi green city, masyarakatnya sangat sehat dan bugar karena udara dan lingkungan yang sehat dan mencintai kegiatan outdoor dan sport. Bagaimana dengan Las Vegas? Aku bisa melihat orang lalu lalang di tempat umum membawa gelas bir, minuman alkohol lainnya selama 24 jam non stop! Bau rokok dimana-mana, di jalan raya, kasino, restoran, semuanya. Yang pasti jalan raya penuh botol, gelas bekas alkohol, dan sebagainya. Mungkin ini ciri dari sin city, kota penuh dosa hahahaha. Mungkin ada yang penasaran mengapa disebut sin city, tapi aku yakin semua bisa menebak karena Las Vegas identik dengan judi, tapi sebetulnya banyak yang jauh lebih menarik untuk diceritakan, dan itu perlu judul yang berbeda, sekarang sih makanan saja dulu hehehe ***

I’m Gonna Miss You 😢

Aku terpekur menghadapi piring yang terletak di meja, sementara Kano sibuk bercerita tentang temannya Mylo yang sedang bersedih. Kano begitu kasihan kepada salah satu sahabatnya ini.

“Why do you feel sorry for him?” tanyaku.

“So, there is a girl. She is our best friend, too. Mylo likes her and he asked her to go out.” cerita Kano

“And? did she want to go out with him?” tanyaku agak bersemangat. Aku merasa tertarik dengan topik obrolan kami sore ini. Anakku sudah mulai menjalani kehidupan remajanya. Biasanya kami hanya ngobrol soal game yang terus terang aku sama sekali tidak mengerti dan tidak terlalu tertarik, kali ini beda dan serasa aku berbicara dengan Kano menggunakan “bahasa” yang sama dan bisa dimengerti.

“Well, the problem is, she said no.” Kata Kano.

“Mylo got rejected?” tanyaku menegaskan.

“He did, I feel sorry for him.” Katanya simpatik.

“It’s normal, Kano. When you ask somebody out, there are only two possibilities. The answer is either yes or no. But you have to give it a shot otherwise you’ll never know whether she likes you and wants to be your girl friend or not.” Kataku.

“I know, right.” Timpalnya.

The key is you have to know when the perfect time to pop the question is.” kataku agak sok tau

Anakku terdiam dan mulai sibuk dengan HP-nya dan menikmati sepiring besar Nachos kesukaannya, sementara aku melihat piringku yang belum tersentuh. Sepiring Shrimp Fajita plate yang aku pesan karena hari ini hari Jumat dan aku bernazar untuk tidak makan daging selama 40 hari, masih ada 1 minggu lagi sebelum Easter, Paskah.

Setumpuk keju parut di sudut piring, salsa, sour cream dan guacamole, lalu ada mex-tex rice dan Shrimp fajita with onions and bell peppers. Di samping piring ada mangkok kecil berisi Borrachos beans dan 3 lembar tortilla yang dibungkus foil.

Selama beberapa saat kami tidak berbicara dan aku mulai tenggelam dalam perasaanku akhir-akhir ini yang belum banyak aku ungkapkan pada siapapun.

Kami mulai menikmati makan malam yang tersaji di meja. Fuzzy Taco’s, restoran yang kami kunjungi mulai ramai. Tempat ini merupakan salah satu tempat favorit para mahasiswa karena makanannya enak, murah, minuman yang disajikan juga variatif dari bir, margarita bahkan campuran kedua-duanya.

“You look very sad, daddy.” kata Kano tiba-tiba disela-sela makan malam kami.

“I am, Kano.” Kataku jujur

“Why?” tanya Kano. Sejenak dia berhenti makan dan meraih gelas lemonade-nya.

“I just lost a friend. A very good friend. I almost asked her to be your God mother 13 years ago.” kataku.

“Why didn’t you?” Tanya Kano

“I couldn’t. She was not a Catholic.”

“Oh.” kata kano pendek.

Beberapa hari yang lalu memang aku sangat terkejut mendengar sebuah berita sedih. Sahabatku tiba-tiba masuk rumah sakit, koma dan meninggal dunia 3 hari kemudian. Dia tidak pernah sadar dari komanya. Katanya dia terkena Brain aneurysm. Ada pembuluh darah yang lemah di otak, lalu pecah dan mengalami pendarahan. Team dokter berusaha menyelamatkan jiwanya dengan memberikan life support, tapi memang otaknya sudah tidak bereaksi dan tidak mendapat cukup supply oksigen walaupun organ-organ tubuh masih berfungsi. Beberapa hari sebelumnya padahal aku masih melihat komentar-komentar dia dan postingannya di media sosial.

Sahabatku ini orangnya sangat bersahaja, kocak, sangat ramah dan sikapnya sangat positif dalam menghadapi hidup. Aku pertama kali mengenalnya belasan tahun yang lalu di Hawaii ketika kami sama-sama tinggal di asrama di kampus. Pribadi yang sederhana, jujur dalam bertutur sapa, komentar-komentarnya juga sangat lucu.

“Mas Jo, di Amerika banyak anak yang namanya diambil dari nama Sunda loh.” katanya jenaka

“Masa sih?” komentarku

“Iya lah.. nama Sunda khan sering pake pengulangan. Misalnya Wawan Suryawan atau Didi Mulyadi” katanya

“Lalu yang di Amerika apa?” Tanyaku penasaran.

“Ice Juice.” katanya sambil ketawa.

Dia mengucapkan tidak dengan cara Inggris tapi dengan gaya sunda “iceu juiceu”

Aku tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata, dan cerita itu tidak pernah bisa aku lupakan.

Sahabatku ini memang benar-benar apa adanya, tidak jaim ataupun menutup-nutupi latar belakangnya dari sebuah kota kecil di Jawa barat, padahal suaminya adalah salah satu sahabatku yang terpandai yang pernah aku kenal, menulis puluhan buku bahkan setelah lulus S3 kemudian menjadi profesor di universitas di California hingga sekarang. Dia selalu menjadi seorang pribadi apa adanya, jujur, polos dan sederhana. Itu yang selalu berkesan tentang dia. Pernah suatu sore kami bersama-sama teman-teman yang lain menikmati sunset di Waikiki. Kami bermain gitar, memukul kendang dan bernyanyi hingga dangdutan. Dengan santainya dia menari. Riuh penuh senda gurau, bahkan para turis yang berlalu lalang kadang ada yang berhenti ikut menyaksikan kegilaan kami. Itu mungkin salah satu peninggalan dia yang aku miliki dalam sebuah rekaman video.

(The one who has a girl in pink on her lap, Photo by Prof. Dr. Merlina Lim)

Seminggu terakhir ini di media sosial seputar aku penuh dengan berita dan tulisan-tulisan teman-temanku mengenai kepergian dia. Dan sejauh ini pula aku belum mampu berkata-kata bahkan untuk mengucapkan ungkapan bela sungkawa saja aku belum bisa. Hingga beberapa hari setelah berita menyedihkan ini aku masih belum menerima sebagai sebuah fakta yang nyata. Aku masih belum percaya.

Saat ini, tepat pada saat aku menulis ini, Jasadnya sedang berada di pesawat menuju perjalanan dari California ke Jakarta untuk dikebumikan di tempat peristirahatannya yang terakhir di sana, meninggalkan suaminya dan seorang anak perempuan yang masih berusia 6 tahun.

Aku kadang ingin menggugat, mengapa Tuhan memanggil yang terbaik? sementara mereka-mereka yang sering membuat kekacauan dan penderitaan tetap dibiarkan. Mengapa yang memberi kesejukan, menularkan kebahagiaan justru direbut? Ini sebuah misteri yang tidak pernah dapat aku mengerti.

Beberapa hari sebelum sahabatku ini pergi, dia mengutip kata-kata ini di statusnya di media sosial:

“Don’t grieve. Anything you lose comes around in another form” (Rumi)

Jangan berduka, segala sesuatu yang hilang akan hadir dalam bentuk yang lain. Mungkin begitu kalau diartikan. Apakah ini nasihatnya yang terakhir?

Ah.. sahabatku. Engkau pergi terlalu cepat. Belum juga aku dapat mengunjungimu. Tetapi engkau selalu hadir dalam kenangan kami, ratusan bahkan ribuan orang yang pernah bersentuhan dengan kehadiranmu. Pribadi sepertimu akan membuat semua yang kau sentuh tersenyum dan bahagia.. bahkan surga sekalipun. Surga akan bergembira menerimamu.”

“Kalau daddy diem aja dan engga makan, udangnya aku curi loh.” Tiba-tiba Kano nyeletuk.

Selama beberapa saat tadi aku memang hanya memandangi makanan tanpa berbuat apapun. Pikiranku terus menerawang.

Aku tersenyum, “Kamu mau?” tanyaku.

Maybe one or two.” Jawab Kano

Help yourself.” Kataku.

Kami terus menikmati makan malam berdua. Kami berdua memang sedang bersedih, yang satu bersedih karena sahabatnya gagal dalam cinta, dan yang satunya karena ditinggal sahabatnya ke alam baka. Yah, itulah hidup. Penuh dengan cerita***

in memoriam, my very best friend, Neneng Syahdati Rosmi. May you rest in peace +++

(Her final resting place. Photo by Feriyal Amal Aslam)

Petrifying Adventure

Salah satu kegiatan liburan musim semi kami yang baru lalu adalah perjalanan menuju national parks di sekitar Las Vegas, salah satunya adalah Death Valley atau Lembah kematian yang berada di California dekat perbatasan dengan Nevada, butuh sekitar 2.5 jam perjalanan dari Las Vegas hingga ke lembah ini.

Kami berangkat sekitar pukul 9 pagi dan rencananya sebelum ke lembah kematian ini kami akan mampir sebentar ke salah satu ghost town yang letaknya berdekatan.

Perjalanan ke sana ternyata cukup membosankan karena hampir tidak ada yang dapat di lihat kecuali padang pasir dengan rumput-tumput ala kadarnya yang sebagian mengering, bukit bukit gundul, Joshua Trees, dan batu-batuan.

Kano yang semalam kurang tidur terlihat mulai bosan bahkan sempat tertidur, Nina yang nyupir juga sering menguap dan aku cukup ketar-ketir karena mobil Nissan Versa yang kami sewa ternyata sangat sensitif, gampang melenceng kalau setir goyang sedikit. Untungnya mobilnya sangat enak dikemudikan karena masih baru, ketika kami menerima mobil ini di odometer baru tertera 4 miles (6,4km) saja, belum punya plat nomor dan masih bau mobil baru.

Sesudah kami melakukan perjalanan selama 2 jam, ternyata GPS yang kami gunakan mengarahkan ke tempat yang salah, jadi Rhyolite Ghost Town yang rencananya akan kami kunjungi kami batalkan. Tetapi anehnya ketika kami sudah meluncur menuju lembah kematian, justru ghost town itu malah ketemu. Jadilah kami mampir. Kota ini bekas peninggalan penduduk yang bekerja sebagai buruh tambang. Bangunan-bangunan yang tersisa sudah sebagian besar hancur. Ada gedung sekolah, gedung bisnis dan juga sebuah rumah bergaya spanyol yang masih agak utuh. Sisanya sudah menjadi puing.

Kami tidak berlama-lama di sana karena walau di gurun, ternyata anginnya sangat dingin dan hari ini angin sangat kencang, katanya hingga 50 miles/hour (80km/jam) sangat tidak nyaman.

Death Valley adalah sebuah lembah yang unik dan memberi kesan mengerikan. Dari namanya saja sudah berbau kematian, belum lagi fakta-faktanya. Konon lembah ini pernah tercatat sebagai tempat terpanas di dunia, pada suatu waktu suhunya mencapai 134°F (56.7°C) baru kemudian ada yang melaporkan bahwa di daerah Azizia di Libya suhunya pernah mencapai 136°F (57,8°C). Lembah Kematian ini juga sangat kering dan merupakan daerah paling rendah di amerika Serikat, yaitu 282 Kaki (hampir 86 m) di bawah permukaan laut. Kalau ingin punya gambaran secara umum bagaimana rupanya Death Valley, perhatikan film Star Wars IV, The New Hope dan VI, Return of the Jedi. Banyak episode yang diambil di sana, terutama ketika menggambarkan gersangnya planet Tatooine tempat di mana Luke skywalker dibesarkan oleh Uncle Owen dan Aunt Beru.

Kenapa lembah ini diberi nama Lembah Kematian? konon katanya jaman dahulu ada sekelompok pionir yang mencari daerah pertambangan, kemudian mereka tersesat di sini. Karena begitu kering dan tidak menampakkan adanya kehidupan, kelompok ini mengira bahwa mereka tidak akan selamat. Akhir cerita mereka diselamatkan oleh 2 orang anak muda dan hanya satu orang yang meninggal. Mereka yang selamat diceritakan masih tetap dihantui pengalaman yang mengerikan ini hingga akhir hidup mereka.

Secara pribadi ketika aku berada di sekitar sana, aku merasakan suatu sensasi yang magis dan menyeramkan. Sekelilingku kering dan datar dikelilingi bukit gundul dan terdapat warna putih disana sini yang aku kira itu semacam garam, ternyata memang mineral, talcum, borax, gypsum dan sebagainya. Pemandangannya sebetulnya termasuk indah dan memberikan kesan yang “wow”, tetapi begitu mengetahui banyak cerita dibalik keindahan yang mengerikan ini, aku jadi semakin merinding.

Ada kisah sebuah keluarga yang pergi mengunjungi tempat ini dan tidak pernah terlihat lagi. Beberapa hari kemudian van mereka diketemukan dengan 3 ban kempes dan terperosok di pasir. Beberapa waktu kemudian penduduk menemukan tulang belulang 2 diantara anggota keluarga ini sementara salah seorang anak laki mereka hingga saat ini tidak pernah diketemukan.

Di sekitar lembah ini juga bisa dijumpai minimal selusin ghost towns. Puing-puing inilah yang menjadi saksi tentang apa saja yang dulu pernah terjadi di sini.

Hari semakin siang, sesudah kami ke visitor center, menunjukkan annual pass kami untuk ke seluruh national parks di Amerika, sehingga tidak perlu bayar lagi, kami keliling-keliling sebentar. Lalu mulai scenic drive yang berpuluh-puluh kilometer. Lembah kematian ini sangat luas berhektar-hektar, tampak terhampar padang tandus yang terlihat seperti danau yang kering, di banyak tempat tampak seperti ada genangan berwarna putih. Jalan yang kami lalui sepi sekali, GPS sudah tidak berfungsi lagi, telepon tidak mendapat sinyal dan hanya ada beberapa kendaraan yang melakukan kegiatan yang sama seperti kami, jalanan berkelak-kelok dan semakin lama disekitar kami hampir tidak ada tumbuhan sama sekali, hanya pasir kasar dan batu-batuan.

Tadi ketika keluar dari visitor center kami sempat berfikir untuk mengisi bahan bakar untuk berjaga-jaga sehingga walau sudah beberapa saat mengemudi kami berbaik arah menuju Gas Station. Ketika tiba di sana, kami terkejut karena harga bensin di situ lebih dari 2x lipat harga normal. Namun ketika melihat indikator bahan bakar, kami agak tenang karena masih menunjukkan 1/2 tanki lebih sehingga kami memutuskan tidak mengisi bahan bakar di situ dan kamipun melanjutkan perjalanan.

Bukit- bukit terlihat gersang dan berlipat-lipat menunjukkan kontur yang indah sebetulnya, apalagi dipadu dengan latar belakang langit biru yang cerah dengan awan putih di sana sini, memang memberikan perasaan takjub akan keindahan alam sekaligus menyadarkan betapa kecilnya manusia ditengah alam yang luar biasa ini.

Banyak lokasi yang sebetulnya bisa kami kunjungi, tetapi karena hari semakin sore kami memutuskan tidak mampir kemana-mana dan terus mengikuti alur scenic drive. Biasanya sebelum kami berpergian kami selalu dilengkapi dengan pengetahuan dan informasi yang cukup, namun Death Valley ini bukan pilihan utama kami, rencana sebelumnya adalah Grand Canyon, tapi karena memperhitungkan jarak dan tenaga, kami akhirnya memilih yang lebih dekat sehingga kami memilih ke sini, yang tidak kami sadari adalah jarak scenic drive ini ternyata 140 miles (225km). Benar saja, tidak lama kemudian Nina berkata,

” Jo, bensin tinggal 2 strip nih. Kita harus gimana?”

“Ya udah jalan aja terus, mudah-mudahan di depan ada pom bensin.” kataku.

Aku sesungguhnya mulai panik karena kalau melihat sekeliling, yang tampak hanya gurun yang kosong, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan, didepan kami hanyalah gunung gundul dan tidak menjanjikan ada perkampungan apapun. Lalu aku ingat sekitar 5 menit yang lalu ada sebuah pertigaan dan ada bangunan satu-satunya. namanya hotel Amargosa dan Amargosa Opera house. Aku bilang ke Nina untuk putar balik dan aku akan meminta bantuan dan mencari informasi tentang tempat penjualan bahan bakar.

Hotel Amargosa adalah kompleks kecil dengan bangunan yang sangat kuno dan agak tidak terurus, terletak benar-benar in the middle of nowhere!

Kami tiba di sana dan mencari informasi. Seorang wanita separuh baya dengan aksen yang aneh menjumpai kami di lobi hotel yang kuno, agak gelap dan dipenuhi ornamen-ornamen kuno. Tiba-tiba aku merasa seperti di dalam film Twilight Zone, sungguh aku tidak mau berlama-lama di situ. Ada perasaan dingin dan seram yang menyelubungi diriku. Beberapa hari kemudian aku membaca cerita-cerita seram tentang hotel ini. Katanya di kamar no 24 orang-orang yang menginap disana selalu diganggu suara orang menangis, di kamar no 32 kebanyakan orang merasa merinding dan membuat bulu kuduk berdiri terus dan di kamar 9 dikatakan sebagai kamar yang paling menyeramkan karena banyak penginap di sana bercerita bahwa mereka sering terbangun karena ada yang menarik-narik kaki mereka. Para staff di sana malah menyebut sebuah lorong hotel itu dengan istilah “Spooky Hollow”.

Di kompleks hotel itu juga ada sebuah opera house kuno yang hebatnya masih digunakan untuk pertunjukkan yang menampilkan pemilik hotel itu. Katanya hotel itu dulunya bekas asrama para pekerja penambang borax.

Dari informasi wanita di lobi hotel seram tadi, kami harus mengambil jalan lain karena ada sebuah pom bensin di situ dan jaraknya sekitar 24 miles ke arah Timur. AC mobil kami matikan jendela kami buka untuk menghemat bahan bakar dan mengemudi dengan kecepatan tertentu. Indikator bensin mengatakan bahwa bahan bakar cukup untuk 27 miles lagi. Mobil jaman sekarang sangat canggih dan dapat memberikan informasi yang akurat. Tapi apakah itu semua bisa dipercaya?, apakah wanita itu memberikan informasi yang akurat?

Perjalanan mulai semakin menegangkan, kiri kanan kami hanya padang tandus dan jauh di depan kami adalah bukit gundul, tidak ada tanda-tanda adanya perkampungan, apalagi pom bensin. Indikator bahan bakar semakin berkurang, sekarang tinggal 1 setrip dan berkedip-kedip lalu kemudian mati tidak menunjukkan apapun.

“Jo, indikator bensin mati, aku gak tau bisa berapa jauh lagi.” kata Nina.

“Sudah, nyupir aja terus,” kataku.

“Daddy, I am scared. Are we gonna be stranded in the desert? Are we gonna die?” kata Kano hampir menangis ketakutan.

“Stop it kano, we’ll be fine.” kataku

Padahal dadaku bersebar-debar sangat kencang, telapak tanganku sudah basah dan dingin karena kuatir. Nina terlihat sangat panik dan tangannya memegang dadanya. Wajahnya terlihat sangat kuatir.

Jo, can you call 911? or ask for help? can you wave to anybody for help?”

Aku bilang, ” Sudah nyupir aja terus.”

Aku berusaha menyembunyikan rasa panikku. Telepon tidak ada sinyal, kami mengemudi tanpa tahu ada di mana dan menuju ke mana karena GPS tidak berfungsi. Yang aku sadari adalah kami berada di padang tandus dan jauh dari mana-mana tidak ada tanda kehidupan, dengan segalon air yang tinggal setengah dan beberapa batang coklat. Tidak akan bertahan lama kalau kelaparan dan kehausan. Terus terang aku juga sangat ketakutan, tapi aku berfikir tidak ada gunanya aku menunjukan rasa panik dihadapan Nina dan Kano. Panik tidak akan membuat suasana berubah, salah satu dari kami harus berusaha bersikap tenang dan yakin. Yang sedikit menghibur aku adalah tidak jauh di belakang kami ada sebuah truk sangat besar berjalan satu arah dengan kami, jadi seandainya kendaraan kami kehabisan bahan bakar dan mati, minimal aku bisa minta tolong pengemudi truk itu. Entah apa, aku belum punya ide yang penting ada orang yang dapat aku mintai tolong. Itu saja! Fakta itu sedikit menghibur dan membuat aku agak tenang dan bisa menutupi rasa panikku.

Perjalanan tidak banyak berubah, jalan dari tadi seperti itu terus, tidak banyak perbedaan. Aku tidak tahu lagi sudah berapa lama kami mengemudi, rasanya jauh sekali tapi tidak ada kemajuan. Kami masih berada ditengah gurun dan sudah sejak tadi indikator bahan bakar tidak berfungsi. Tanpa sadar aku berdoa dalam hati, kulirik kano yang duduk dibelakang menutupi mukanya ketakutan, wajah nina juga bertambah panik. Begitu melewati sederatan bukit gundul jauh di garis horison tampak warna putih seperti bangunan, semakin lama semakin jelas dan banyak. Aku sangat tegang dan terus berdoa semoga bensin tidak segera habis. Ada rasa lega sedikit bahwa di depan sana ada perkampungan atau kota kecil, seandainya mesin mati, toh kemungkinan aku masih mampu berjalan untuk membeli bensin. Tapi tetap aku masih berasa tegang karena daerah begitu datar dan aku tahu walaupun sudah kelihatan tapi masih berkilo-kilometer jauhnya.

Bangunan-bangunan semakin jelas tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda pom bensin. Kami akhirnya memasuki kota kecil, perasaan bahagia dan lega mulai aku rasakan dan mulai melihat ke kiri dan ke kanan mencari pom bensin. Sudah berkilo-kilo meter kami masuk kota dan internet mulai bisa diterima. Aku langsung googling, gas stations near me. Dan TING!!!! banyak tanda merah seperti pushpins tampil di layar telepon dan beberapa saat kemudian di sebelah kiri tampak papan nama menjulang tinggi, sebuah gas station.

Kami belok ke kiri, berhenti di depan tempat mengisi bensin tapi tidak langsung ke luar. Aku memejamkan mata mengucapkan syukur, lututku lemas tidak ada tenaga dan butuh beberapa saat untuk mengembalikan semangatku. Aku lirik Nina juga tampak menghela napas panjang sekali dan duduk tidak bergerak beberapa saat, sementara itu Kano buka pintu, keluar dari mobil dan berteriak keras sekali, “YES!!!!”

Aku akhirnya bisa tertawa dan menemukan diriku kembali lalu keluar, mengambil kartu kredit dan mulai mengisi bensin sambil tidak henti-hentinya bersyukur. Tanki aku isi penuh, total $24.72, entah berapa gallon yang pasti dengan uang segitu untuk mobil compact, biasanya sekitar 10 gallon dan aku yakin tadi aku mengisi lebih dari 10 gallon, artinya tadi tanki bahan bakar kering kerontang. Ya Tuhan.

Begitu selesai mengisi bahan bakar dan aku masuk mobil, kano berkata,

“Let’s not talk about gas or gas station for a while, I don’t want to remember this experience for a very long time!”

Aku setuju, sesudah mengunjungi lembah kematian, mendengar dan membaca cerita-cerita orang yang hilang dan meninggal di sana, mengunjungi ghost town, berhenti di hotel yang seram dan berhantu, hampir terdampar di gurun karena kehabisan bensin, sepertinya ini bukan pengalaman menyenangkan walau aku akui ini pengalaman yang seru dan sulit dilupakan. Jadi, aku usul sebaiknya kami makan siang saja karena hari sudah mulai sore, tadi belum makan siang dan ada Jack in The Box di depan yang menyediakan aneka macam burger yang sedap serta milk shake yang sangat enak. Waktunya merayakan pengalaman yang menyeramkan ini dan segera melupakannya sambil menyeruput milk shake!***

Childish Excitement

“Kamu tuh orangnya melankolik” kata seseorang pada suatu waktu, duluuuu sekali.

“Oh ya? hahahahah…, kamu pikir begitu?”

“Iya lah, semuanya pake rasa.”

” Kalo pake rasa itu betul, tapi kalo melankolis itu jauh.” kataku sambil tersenyum karena merasa lucu.

Aku yakin dia bermaksud bahwa aku banyak mempertimbangkan segala sesuatu dan menjalani hidup dengan “rasa”. Lain halnya dengan orang yang melankolis, orang itu cenderung menunjukkan kesedihan, sementara aku tidak. Aku banyak ketawa, emosional, aku banyak menggunakan faktor emosi dalam mengambil keputusan. Kalau mengacu pada konsep Myers-Briggs, aku termasuk orang yang extraversion, sensing, feeling and Judment hehehehe… Melankolik itu cenderung untuk mereka yang menunjukkan rasa sedih atau malah depresi. Aku sih cuma sekali-kali aja, tergantung sikon. Tapi ga terus-terusan berlarut dalam kesedihan, wong aku itu orangnya cengengesan, kok! hahaha..

Itu lamunanku pagi ini ketika berjalan dalam dingin -11°C menuju tempat kerja sambil memegang gelas kertas berisi kopi dari kedai langgananku dan mendengarkan musik lama, Africa-nya Toto.

Berjalan kaki di pagi hari itu menyenangkan (walau sangat dingin di musim sekarang ini). Lalu lintas masih lengang, belum banyak orang dan suasana sangat damai. Aku bisa berpikir, melamun bahkan bersenandung tanpa khawatir ada orang yang mentertawakan karena suaraku jelek. Ini adalah salah satu hal yang aku sukai ketika tinggal jauh dari kampung halaman, yaitu “being nobody” dan tidak banyak dikenal orang, sehingga aku bebas melakukan apa saja seenak udelku. Sebagai contoh dulu waktu masih tinggal di pulau di tengah samudra Pasifik, sepulang berenang aku bisa cari lapangan rumput yang luas, berbaring di rumput di pinggir jalan berbantalkan ransel dan tidur dengan lelap. Aku merasakan kebebasan sejati tanpa khawatir dengan judgment orang lain dan tanpa harus jaim. Aku sadar di Indonesia jauh berbeda karena aku dan istriku punya peran. Aku guru yang punya eks murid ratusan bahkan di atas 1000, istriku seorang dosen yang juga mahasiswanya ribuan. Sebagai somebody kami tidak bisa seenaknya jalan sambil pelukan, atau melakukan sesuatu yang tidak lazim di masyarakat. Di sini? hahaha… beda dong, seperti misalnya aku pernah pulang dari pesta nikahan dan kepanasan karena harus pakai pakaian pesta, lalu apa yang aku lakukan? buka baju, telanjang dada dan pulang jalan kaki. Ada yang peduli? tidak ada! Ada yang melototin karena aku pakai celana cubit-cubitan rapih dengan sepatu tiktok mengkilap kinclong tapi telanjang dada dan sementara baju aku gulung ditaruh disekeliling leher kaya handuk supir angkot? nope! nobody cares! bebas!!!!! Kebayang kalau di Bandung aku begitu, pasti dianggap orang stress dan perlu diperiksa oleh dokter jiwa. Nah dengan statusku sekarang, aku sungguh menikmati kondisi ini. Tidak perlu pakai topeng, jaim, dan bertingkah laku sesuai aturan sebagai somebody, saat ini aku bisa menikmati menjadi aku, dan itu sungguh membahagiakan. Well, masih ada sih batas-batas aturan, misalnya pulang kerja aku ingin mampir nongkrong di bar, tetapi karena aku bekerja sebagai pegawai pemerintah aku terikat aturan harus menjaga prilaku di publik misalnya tidak boleh minum-minum dengan pakai seragam. Nah, aku bawa vest atau baju ganti, pulang kerja aku ganti baju lalu mampir minum bourbon atau margarita dan menikmati sisa hariku dengan sesuatu yang menyegarkan dan membuat diriku rileks. 😉

Ngobrol tentang “rasa”, semalam aku merasa-kan sesuatu yang sudah lamaaaaaa sekali aku tidak rasakan. Semacam excitement kekanak-kanakan yang luar biasa. Aku memang begitu, ada sisi kekanak-kanakan yang sulit aku hilangkan sejak kecil. Kalau aku akan berpergian atau liburan, maka aku terserang semacam excitement attack, entah ada atau tidak istilah itu hahaha, aku begitu bersemangatnya sehingga aku agak mual-mual, acid reflux, terbatuk-batuk terus sampai ingin muntah. Entah mengapa, yang jelas adrenalinku begitu tinggi, sangat bersemangat hingga badanku tidak mampu mengendalikannya.. hasilnya ya sampai ongkek-ongkekan. Nina yang sudah mengerti gejala itu selalu mentertawakan, mengejek dan gangguin aku.

Nah semalam kami merencanakan akan liburan musim semi. Kebetulan aku punya jatah libur 1 minggu yang belum aku ambil. Jadi mulailah kami hunting. Mau kemana, pilih hotel apa, naik transportasi apa, perlu sewa kendaraan tidak, tempat-tempat mana saja yang akan dikunjungi, cari informasi kuliner yang unik, budgetnya gimana dan sebagainya.

“Jo, liat nih hotel ini.”

“Gila loe, itu mah hotel mahal banget!” kataku waktu Nina menunjukkan sebuah foto di internet.

“Eh baca dulu dong deal-nya nih!” kata Nina

“Ah… beneran ini?” kataku tidak percaya.

“Iya, kalau kita book hari ini ongkos pesawat ditanggung sama hotel.”

“Bertiga? roundtrip?” aku masih tidak percaya.

“Iya. Mangkanya baca ini!”

“Waaah gilaaaa…. belum pernah gua liat deal kaya gini. Ambil.. ambil cepetan!” kataku sambil mulai batuk-batuk dan mual.

Istriku yang hapal dengan reaksiku langsung nyengir dan mata jailnya mulai berbinar-binar. Aku langsung siap-siap karena aku tau apa yang sebentar lagi akan terjadi. Aku dah mulai kebal dijailin. Hahahaha…

“Ok, terus kita rencana mau ke mana aja? Grand Canyon? Red Rock Canyon, Hoover Dam?” tanyaku mengalihkan topik sambil meraih buku notes dan ballpoin.

“Hahahahaha…” Istriku ngakak karena dia juga hapal aku berusaha mengalihkan arah pembicaraan dan menghindari godaan.

“Jadi kita ambil aja ya,” kata istriku sambil masih senyum-senyum. (huh! nyebelin ...)

“Iya lah, kapan lagi bisa tinggal di hotel mewah. Tuh malah di bilang kamarnya di tingkat atas, luas dengan dekorasi Perancis modern. Eh dapet breakfast engga?” tanyaku

“Kayanya engga deh, tapi aku dah punya daftar breakfast buffet, yang katanya enak. Ada di 10 tempat makan terenak di sana.” kata Nina.

“Tapi aku mau ke tempat yang dulu itu loh… kan termasuk tempat terenak di downtown dan murah banget.” kataku.

“Tapi sekarang review-nya ga bagus loh. Engga kaya dulu. Gua dah browsing.”

“Wah sayang ya, tapi murahnya itu loh. Ga ada yang ngalahin.” bantahku.

“Ya nanti kita lihat, aku juga mau Baja Fresh sama In ‘n Out Burger.” jawab Nina.

“Kita bikin daftar aja.” kataku.

Ini kegiatan seru yang sudah lama tidak aku nikmati. Sejak dulu Nina dan aku kalau mau liburan selalu merencanakan jauh-jauh hari. Kami merencanalan segala sesuatunya hingga ke detail terkecil. Berdasarkan pengalaman sebelum-sebelumnya kami bahkan menge-print jalan yang harus ditempuh pakai map quest karena waktu itu belum ada yang namanya GPS. Kok sampe di print? kurang kerjaan amat hahaha.. Bukan apa-apa, itu semua karena aku tidak bisa membaca peta, jangankan peta, kiri atau kanan saja aku bingung. Pernah suatu waktu di LA aku salah kasih arah, akhirnya harus muter berkilo-kilo meter atau waktu di SF kami kesasar gara-gara aku salah belok. Nah dari pengalaman itu akhirnya kami cetak di kertas jalur point to point yang nanti tinggal dibaca ketika nyupir dan begitu selesai tinggal kami buang kertasnya. Jadi kalo kami liburan pasti bawa folder tebal seperti skripsi yang isinya petunjuk arah hahaha.

Yang namanya liburan, buat aku keasyikannya sudah dimulai sejak membuat rencana. Kemudian sesudah rencana matang dimulai dengan masa penantian, hitung mundur, persiapan, packing, dan keberangkatan serta liburan yang sebenarnya.

Tadi di awal, aku bilang bahwa “rasa” ini sudah lamaaaaa sekali tidak aku alami, kenapa? entahlah, walau ada gairah yang mirip tapi waktu di Indonesia kok ya beda rasanya. Kalau mau liburan yang paling utama aku kuatirkan adalah fasilitas, misalnya ada wc duduk tidak? kalo mau nyupir sendiri dan butuh ke wc, dimana bisa dapat yang duduk? repot. Mangkanya karena kondisi kami memang agak kurang fleksibel sehingga keinginan untuk eksplorasi tempat-tempat liburan tidak terpenuhi. Ujung-ujungnya kami hanya pergi ke tempat yang itu-itu saja. Kebergairahannya akhirnya jadi sangat minimal.

Tempat yang nanti akan kami kunjungi kali ini juga bukan tempat yang asing karena sudah pernah kami kunjungi beberapa kali, tapi ini akan menjadi tempat yang menarik bagi Kano. Kami ingin mengajak Kano menikmati hotel yang tematik. Misalnya ke hotel yang didesain sedemikian rupa sehingga menyerupai kota Paris, atau Venesia dengan alun-alun dan sungai beserta gondolanya. Atau juga aku akan mengajak Kano berpetualang ke Mesir, yaitu hotel yang lengkap dengan piramid, patung-patung dewa-dewi mesir kuno, Sarcophagus, obelisk dan sebagainya. Ada juga hotel yang bertemakan kerajaan di Inggris jaman dahulu, dengan baju zirah dan lain lain di Excalibur. Banyak tempat menarik di sana sekaligus juga show dan wisata alam yang agak berbeda karena di padang pasir.

Aku terus berjalan menuju tempat kerja, diujung timur langit sudah mulai memerah, mudah-mudahan matahari akan keluar hari ini. Sementara lagu yang aku putar berganti dengan yang jauh lebih bersemangat, Freddy Mercury dengan: don’t stop me now

Tonight I’m gonna have myself a real good time
I feel alive
And the world I’ll turn it inside out
And floating around in ecstasy

So don’t stop me now, don’t stop me
‘Cause I’m having a good time, having a good time

I’m a shooting star leaping through the sky like a tiger
Defying the laws of gravity
I’m a racing car passing by like Lady Godiva
I’m gonna go go go

There’s no stopping me
I’m burnin’ through the sky two hundred degrees
That’s why they call me Mister Fahrenheit
I’m traveling at the speed of light
I wanna make a supersonic man out of you

Don’t stop me now
I’m having such a good time, I’m having a ball
Don’t stop me now
If you wanna have a good time just give me a call
Don’t stop me now
‘Cause I’m having a good time
Don’t stop me now
Yes I’m havin’ a good time
I don’t want to stop at all

I’m a rocket ship on my way to Mars
On a collision course
I am a satellite, I’m out of control
I am a sex machine ready to reload
Like an atom bomb about to explode

I’m burnin’ through the sky two hundred degrees
That’s why they call me Mister Fahrenheit
I’m traveling at the speed of light
I wanna make a supersonic woman of you

Don’t stop me, don’t stop me
Don’t stop me hey hey hey
Don’t stop me, don’t stop me
I like it
Don’t stop me don’t stop me
Have a good time, good time
Don’t stop me don’t stop me
Alright

I’m burnin’ through the sky two hundred degrees
That’s why they call me Mister Fahrenheit
I’m traveling at the speed of light
I wanna make a supersonic man out of you

Aku bersenandung dengan gembira, walau aku harus bekerja akhir pekan ini dan baru memperoleh day offs awal Pebruari nanti, aku tidak peduli. Ada sesuatu yang aku tunggu-tunggu. Liburan yang pasti akan asyik, makanan yang enak-enak, kota yang penuh cahaya lampu dan tidak pernah tidur. Asyik!

Rasa hangat menjalar dari dalam perut ke atas dan terus hingga hampir ke tenggorokan.. aku tahu sebentar lagi akan terasa pahit dan asam. Aku ambil napas dalam- dalam dan berusaha menenangkan diri. aku mulai terbatuk-batuk dan rasa mual harus aku tahan…

“wah ekstra shot kopi ini keras juga” kataku dalam hati padahal aku tahu excitement attack mulai hadir…. “monyong ah… ga bisa liat orang seneng!” gumamku dalam hati hahahaha….. Aku melompati gundukan es di tepi jalan. Gedung tempatku bekerja sudah terlihat di depan mata.***