Missing A Person

SketchGuru_20130209212725

A: Hi,  there.

Me: Hi.  Good morning. Did you sleep well?

A: Sort of. I woke up so many time.

Me: How come? Are you ok?

A: I’m fine.  My legs sore.  I had to walk alot and my campus is sooo huge.

Me: No campus shuttle?

A: every 6 minutes.  But I still have to walk from the shuttle stop.  How’s  our son?

Me: He’s fine.  Missing his mom terribly but he tries not to show it.

A: You should talk to him.  He may need it.

Me: I will.

That’s a typical evening (or morning in the US) conversation between my wife and me.  She has been away to continue her study abroad for a while.  I, on the other hand, am learning how to become a single parent for the first time. Luckily,  with the technogy of internet and social media,  communication is easier than it was decades ago when communication was done only by means of telephone calls (which was super duper expensive) or by mails.  Nowadays distance is irrelevant.  We can communicate anytime and anywhere we want.  Still,  communitations without the actual presence of the person are different.  The presence of a person whom we care about won’t cause suffering of “loss” and for a grownup even though still can be handled maturely,  I still miss the person. It is different for a child who misses his mom.  Some kids can express his or her feeling but how about a kid who is still learning how to express his feeling? It is hard.  My son is playing a “tough”  boy.  I can sense his needs for his mom’s presence from his expression and his daily activities.  He basically needs more attention and care.  I need to offer double doses of attention.  By doing everything twice as much as before,  the chaotic situations occure frequently.  We used to share house chores and responsibilities and now everything is under my care.  Tough? Of course! Easy?  Not really… Hahaha.  These situation makes me appreciate greatly  all single parents.

My son is facing his “mid theme” review at school.  Usually it is my wife’s job to accompany him preparing, now it is mine.  I am a teacher,  but teaching subjects which are not my field is something else.  I tried to ask my wife though internet chatting media about some math problems but hey,  my brain is packed with lots of things and it doesn’t function properly.  How can I help my son with his problems about KPK and FPB (Lowest Common Multiple (LCM) and Highest Common Factor)?  I need to be creative!  So I asked my son if he understood about them and asked him to teach me.  Here we go,  he taught me well and now I understand! Instead of me giving him exercises,  he gave me some and he showed me how to do those problems.  Mission’s completed! 

To all single parents,  you guys are awesome! I salute you all.

 

 

Advertisements

Failure and Sadness

Aku ingin melihat apa jadinya tulisan ini ketika dilakukan pada saat hati dan pikiran gundah gulana. So, let’s see.

Pernah merasa menjadi orang gagal? tidak enak bukan? apalagi kalau seumur hidup sepertinya belum pernah merasakan sesuatu kegagalan yang terlalu berarti.

Coba aku sebentar merenung, kegagalan apa saja yang pernah aku lalui?

Walau semasa kecil aku hidup dalam kekurangan, tetapi kalau dipikir-pikir hidupku bahagia walaupun tidak banyak yang ditawarkan dan juga tidak banyak kesempatan yang dapat aku manfaatkan. Contoh kecil, ketika teman-teman berlibur ke luar kota, naik gunung dan sebagainya aku sudah hampir pasti tidak akan ikut serta karena aku maklum orang tuaku tidak akan mampu membiayai. Bertanya kepada orang tuaku tentang kemungkinan aku pergi juga tidak aku lakukan, aku sadar sesadar-sadarnya bahwa aku hanya akan membuang waktu dan aku sudah tau jawaban apa yang akan aku perloleh. Kalaupun aku akhirnya bisa pergi ke beberapa tempat, itu hanya sekedar belas kasihan teman atau orang lain yang mau membantu membiayai. Kalau aku hitung mungkin sekitar 4 kali semasa aku kecil dapat berpergian untuk berlibur (di luar liburan keluarga) dan tidak sekalipun orang tuaku membiayai perjalananku. Memang aku punya kenangan liburan keluarga yang tidak pernah terlupakan sampai sekarang, tapi itu akan jadi sebuah cerita sendiri, suatu waktu nanti kalau aku sedang ada mood.

Apakah aku mengeluh? anehnya tidak. Aku begitu maklum dan menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Apakah ada rasa kecewa? oh ya.. tentu saja. Bayangkan saja teman-temanku berpergian sementara aku di rumah saja, aku hanya cukup senang melihat foto-foto perjalanan mereka. Pada saat itu aku selalu bercita-cita ketika dewasa nanti aku ingin menjadi orang yang berhasil yang mampu pergi kemanapun aku suka, membeli apapun yang aku mau dan aku tidak mau menghiba-hiba belas kasihan orang. Sakit rasanya mengingat untuk makan saja aku harus pinjam beras ke warung tetangga. Bukan menghina ibuku (Mom, I love you… I never blamed you on this) tapi aku berjanji bahwa ketika aku dewasa aku tidak akan pernah menyuruh anakku untuk jalan kaki ke warung untuk pinjam beras, never!!! Pada saat itu kok aku tidak merasakan apa-apa, hanya sekedar menjalani perintah orang tua, kadang malas karena harus berjalan kaki ketika aku kepingin main. Hanya itu saja tidak merasa malu atau hina. (I was wondering what or how my mom felt that time knowing she asked her own son to borrow stuff from our neighbor because she didn’t even have a face to do it herself, it must be devastating. Oh God, I love you mom, more than anything)

Dalam segala keterbatasan, toh aku tumbuh dengan baik, menjadi orang yang bertanggung jawab dan dapat dihandalkan. Apakah aku berhasil? well, keberhasilan itu relatif. Ada yang bilang aku biasa saja, ada yang bilang aku hebat karena bisa tinggal di luar negeri 2 kali dan selama bertahun-tahun pula . Satu hal yang aku tepati adalah tidak pernah meminta anakku untuk berhutang, nge-bon, atau meminta sesuatu kepada orang lain! Aku berusaha mencukupi kebutuhan fisik anakku selagi aku mampu. Kalau dianggap tidak cukup ya maafkan, tetapi sejauh ini Puji Tuhan aku mampu. Anakku mau piknik dengan teman-teman sekolah aku berikan kesempatan. Mainan aku sediakan bahkan berlebihan dibanding teman-temannya. I spoiled him rotten!!! (I think that’s my first fault… )

Aku ingat (sepertimya aku pernah cerita juga di salah satu blogku dulu) bahwa kami waktu kecil tidak memiliki televisi. Setiap sore aku bersama adikku berjalan kaki ke tetangga hanya untuk menumpang nonton TV. Saat itu TV adalah barang mewah, tidak semua orang punya dan masih hitam putih. Kami bergandengan tangan ketuk pintu lalu dari dalam ada teriakan, “engga disetel!!! lain kali ya..” aku bersama adikku pulang dengan kecewa.. mau apa lagi? dalam hati aku berjanji,” Nanti aku beli TV raksasa dan setiap ruangan aku isi dengan TV!!!”

Adakalanya aku benci jadi orang miskin. Adakalanya aku merasa hina jadi orang tidak mampu. Tapi aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Aku sayang orang tuaku dan berusaha mengungkapkannya serta berusaha membalas budi. Sayang sekali Ibuku pergi menghadap yang Ilahi sebelum aku mampu membalas budi dan itu terus menjadi ganjalanku. Banyak cerita yang belum aku utarakan dan aku terus menerus sedih karena kehilangan masa-masa ngobrol di tempat tidur hingga lewat tengah malam bahkan ketika aku sudah menikah… Mom was always the closest person in my life and I always miss her until now.

Berkaca dari masa kecilku yang sebetulnya seru dalam ketidak-berdayaan, toh aku menjalaninya dengan baik dan penuh kenangan yang sering aku bayangkan kembali ketika sudah dewasa. Aku merasa bahwa masa kecilku “boleh juga” dan berhasil mencetakku menjadi sebuah pribadi yang tidak pernah menyia-nyiakan hidup, seorang yang selalu bersyukur dengan semua berkah dari Tuhan dan selalu berkata bahwa kalaupun aku harus memilih kehidupan yang lain, aku akan tetap memilih hidupku yang sudah aku jalani berpuluh-puluh tahun ini. (oh dengan satu tambahan kalau boleh, piano… I want to be able to play piano)

Kembali ke yang tadi, berkaca pada masa kecilku itu tadi, aku jadi cenderung memperlakukan anakku sesuai dengan yang aku inginkan pada saat kecil. Apakah masa kecilku dianggap sebuah kegagalan? Tidak! Masa kecilku adalah masa-masa karakterku ditempa menjadi orang yang mampu berterima kasih, dapat menerima keadaan dan mampu beradaptasi di manapun aku berada.

Jadi kapan aku merasa gagal?

Perjalanan kedua selewat masa kecilku adalah masuk biara. Hanya bertahan 2 tahun lalu aku memilih jalan lain, kuliah menjadi sarjana dan menjadi seorang guru. Apakah aku keluar dari biara dianggap sebuah kegagalan? anehnya aku tidak merasakan itu. Aku justru menganggap masa di biara adalah satu masa dalam hidupku yang harus aku lalui dan menjadi batu loncatan sebagai sebuah langkah yang sangat penting dalam hidupku hingga menjadi seperti aku sekarang ini. Biara adalah masa terpenting karena tanpa masa itu tidak mungkin aku menjalani kehidupan saat ini. Biara memang harus gagal meskipun tidak aku anggap sebagai sebuah kegagalan.

Masa-masa kuliah yang berat aku lalui dengan gembira, aku masih tetap miskin tapi aku merasa kaya karena mampu membiayai kuliahku sendiri. Saat itu aku menyadari bahwa tempaan di masa kecil membuat aku menjadi tangguh menjalani kehidupan apa adanya sebagai mahasiswa miskin.

Ketika sudah menjadi sarjana lalu menjadi guru memang ada banyak cerita, aku kok tetap tidak melihat dan menemukan kegagalan. Kalaupun aku berhenti bekerja di suatu sekolah itu karena keputusanku sendiri. Dan aku menganggap masa masa itu juga harus aku lalui dan harus aku tinggalkan. Yang pasti dari itu semua aku memperoleh pelajaran dan pengalaman. Aku diajarkan untuk rendah hati, menanggalkan kekeras-kepalaan, keangkuhan dan belajar menunduk. Di situ juga aku mengerti bahwa kejujuran yang disertai diplomasi dan kemampuan berkomunikasi yang cerdas dalam kenyataan hidup sangat penting dan perlu dikuasai. Ini pelajaran kesekian yang aku peroleh dan dikemudian hari akan sangat berguna dan juga mempengaruhi cara berpikir serta bertindakku dalam karir.

Pekerjaan apa lagi yang aku jalani sesudah masa menjadi guru? lumayan beragam ternyata, dari tour guide, sandwich artist, bartender, cook, chef, dishwasher, manager, sacristant (koster) di gereja, cleaning service, hingga menjadi tukang ketik di kantoran hahaha…

Dari semua itu aku mempelajari beberapa hal: pekerjaan adalah semata-mata pekerjaan, apapun yang aku lakukan dari mencuci piring, membersihkan WC hingga pekerjaan kantoran tidak berarti apa-apa jika hatiku tidak di situ dan aku tidak menyukainya. Itu yang pertama. Yang kedua, job is just a job, it doesn’t mater what, and it’s always there but the people you work with makes alĺ the difference! Tidak masalah pekerjaannya apa, selama aku berada di sekeliling orang-orang yang aku hormati, aku care about, maka pekerjaan itu menjadi sangat berarti.

Aku tidak menemukan kegagalan di semua itu. Yang ada hanya berbagai kesempatan yang muncul yang aku manfaatkan dan kemudian aku tekuni. Ada yang berhasil dan menanjak dengan cepat tapi ada juga yang stagnant, tidak banyak perubahan. Tapi perlu diingat, aku berpendapat seperti ini: apapun pekerjaan yang aku ambil ternyata kalau aku renungkan memang “harus aku lalui” karena sekali lagi tanpa melalui itu aku tidak akan sampai ke perjalanan yang sedang aku jalani ini.!!! Jadi walaupun seandainya tidak mulus atau malah berhenti di tempat pada suatu saat, itu memang “harus” begitu. Aku hanya perlu bersabar menunggu dan bergerak cepat ketika ada pintu menuju perjalanan lain terbuka. Jadi tidak ada kata gagal di sana. hmmm….

Apakah aku sebetulnya tidak berani mengakui kegagalan?

Baiklah, angap saja aku sering gagal. Aku beranggapan bahwa untuk mengerti sebuah prinsip maka aku harus mengetahui alatnya, bagaimana menggunakannya, berlatih dan di sana aku belajar mengenai sebuah prinsip. Contoh sederhana; Untuk bisa memaku dinding untuk menggantung sebuah pigura, aku harus mengetahui apa itu martil/palu, apa itu paku, bagaimana menggunakan palu, dan bagaimana memegang paku agar jari kita tidak terpukul atau terluka. Untuk memaku di dinding aku tidak perlu belajar fisika mempelajari teori Newton. Tapi sebaliknya ketika aku sudah pernah menggunakan palu dan paku begitu ada kesempatan aku membaca teori Newton aku jadi lebih mudah mengerti. Jadi jika aku jarinya pernah terkena palu apakah itu sebuah kegagalan? Aku melihatnya sebagai proses belajar, bukan kegagalan.

Aku ingat ketika dahulu aku belajar silat. Suhuku mengajari aku cara jatuh. Berhari-hari aku berlatih bagaimana memposisikan kepala dan lengan agar ketika jatuh aku bisa mendarat dengan mulus tanpa menderita luka, lecet atau lebih parah misalnya patah tulang. Bukan latihan yang mudah dan tanpa rasa sakit. Kadang aku pulang dengan beberapa bagian tubuh memar dan benjol-benjol. Apakah itu karena aku gagal jatuh? sama sekali tidak. Aku belajar jatuh! Dengan berjalannya waktu, aku menjadi ahli. Aku ingat ketika demo di panggung sebuah acara budaya aku dibanting guruku. Orang-orang teriak karena ngeri takut aku terluka. Aku bangun dengan masih tersenyum hanya celana dan kaos putihku yang kotor badan segar bugar tanpa ada tergores. Demo dilanjutkan sekarang giliran guruku yang aku banting hahahaha…

Hari ini aku begitu bersedih karena peristiwa di rumah tadi malam. Saat itu hingga tadi aku merasa gagal serta berusaha mencari di mana kesalahan yang aku lakukan. Di gereja dalam hati aku berteriak-teriak dalam doa minta pencerahan dan pendampingan agar aku dapat melalui masa sedih dan perasaan yang galau ini. Aku tidak menerima apa-apa. Tidak ada bisikan gaib atau wangsit. Salib di atas altar hanya membisu (anehnya aku bahkan tahu bahwa salib itu barusan diperbaiki, tadinya tubuh Yesus agak miring.. sekarang tegak menunduk rapih… ga penting banget deh nulis ini!)

Pendek kata, pulang dari gereja masih galau bahkan agak sedikit pening karena anggur yang aku teguk sengaja lebih banyak dari biasanya padahal perutku kosong belum sarapan. Ada-ada aja deh hehehe…. Biasa lah, kalau orang sedang kesulitan teriak-teriak minta tolong pada Tuhan mengharapkan mukjizat instant seolah-olah Tuhan akan menjentikkan jari-jarinya lalu keajaiban terjadi. Semua kesulitan hilang, masalah selesai dan hidup happily ever after! Nope! realitas tidak begitu.. aku duduk merenung seharian di warung kopi berpikir, refleksi dan berdebat dengan diri sendiri serta menulis tulisan ini.

Dan bisikan gaib itu datang, Wangsit muncul tanpa harus duduk semalam suntuk di kuburan angker sambil bakar kemenyan. Jawabannya ada dan sudah aku alami berkali-kali seumur hidup. Yaitu, bahwa apapun yang aku alami entah yang semalam atau jauh jauh sebelumnya adalah tahap esensial yang harus aku alami, bukan kegagalan, tapi hanya perlu berlatih bagaimana aku memegang paku dengan baik dan mengayunkan palu dengan fokus yang sempurna sehingga aku tidak terluka. Itu proses belajar… when you master it, everything will be fine!***

Mourn & Move On

Pada suatu pagi, dalam sebuah obrolan di Wag:

A: Guys, denger2 X baru menikah lagi. Bener? #kepo 🙂

Lalu ada sebuah foto pernikahan muncul dengan sebuah komen dari salah seorang anggota Wag lainnya, yang kebetulan bule.

D: Yes, he announced on FB some time ago

Seorang teman yang lain ikut nimbrung:

E: Cepat move on ya kalau laki-laki itu.

Dan diskusipun semakin ramai karena semata-mata teman kami yang baru menikah itu di awal tahun yang lalu baru saja kehilangan istrinya.

I: Aku belum memberikan selamat karena aku masih berkabung.

I: Kalau aku jadi dia, mungkin butuh waktu lebih lama untuk move on. Bagaimana bisa melupakan seseorang yang sudah mendamping selama lebih dari setengah umurku?

D: Tidak mudah untuk mengurus anak yang masih kecil sementara dia harus bekerja. Ada prioritas yang harus didahulukan. Dengan ada ibu baru akan lebih mudah untuk semua orang.

Diskusi kami terbagi menjadi 2 kubu, aku yang lebih “romantis” dan emosional (kata mereka) dan beberapa teman yang lebih rasional, praktis dan tidak judgmental. Sahabat-sahabatku yang rasional bersikukuh bahwa yang dilakukan demi kepentingan anaknya yang masih kecil, dan mereka berargumen bahwa tidak mudah menjadi orang tua tunggal, Tidak ada gunanya berlama-lama yang kemungkianan akan mengorbankan karir dan kepentingan anak. Aku dipihak lain berkata bahwa menjadi orang tua tunggal adalah bentuk pengorbanan yang (kalau aku) dengan rela melakukannya sebagai bentuk rasa cinta terhadap pasangan yang sudah meninggal. Mencari pasangan lain seakan-akan mengkhianati janji pernikahan, mengingkari cinta yang selama ini mengikat sebuah perkawinan. Setidak-tidaknya berilah waktu yang memadai sebagai bentuk curahan rasa cinta dan tidak selekasnya memulai lembaran baru seolah-olah yang baru lalu tidak berarti apa-apa lalu move on. Tapi sekali lagi, berapa lama sih waktu yang pantas untuk mulai lembaran baru?

Aku saat itu sudah berada di kantor dan ada beberapa tugas yang harus diselesaikan. Karena aku pikir tugasku itu tidak sulit dan akan cepat selesai, tidak ada salahnya aku ikut nimbrung dalam perdebatan yang seru, penuh senda gurau tapi lumayan menggelitik karena ini menyangkut kenyataan hidup sehari-hari.

Sebetulnya berapa lama waktu yang appropriate untuk berkabung? nah ini sebetulnya topik yang seru.

Walau katanya waktu adalah relatif, tapi aku mulai berpikir, berapa lama sih waktu yang wajar untuk move on dan memulai kehidupan baru? Tampaknya, seperti halnya dipercayai bahwa waktu adalah relatif, pertanyaan ini juga sulit dijawab. Sebab walaupun ada banyak riset tentang ini berdasarkan banyak kebudayaan dan latar belakang serta tradisi masyarakat, jawabannya bermacam-macam, ada yang hanya dalam hitungan hari 40 hari, 1 tahun, 1000 hari bahkan 4 tahun. Yang mana yang paling betul? tidak ada! Jawaban yang tepat adalah: Tergantung! Tergantung apa? ya tergantung macam-macam, tergantung tradisi, budaya masyarakat, tergantung kesiapan yang bersangkutan, tergantung prioritas dan problematik kehidupan yang dihadapi, dan lain-lain, pokoknya: Tergantung! Ada benarnya juga sih teman-temanku berkata bahwa aku seorang yang romantis, emosional dan entah apa lagi. Aku merasa yakin akan membutuhkan waktu yang lama untuk berkabung, ini aku berkabung baru untuk teman loh, bagaimana kalau benar-benar anggota keluarga atau malah pasangan hidupku sendiri? sangat tidak mudah. Untuk teman saja aku masih membutuhkan waktu lama untuk bisa mencerna ini semua.

Berapa lama sih masa seseorang berkabung? Aku iseng-iseng ke sana kemari mencari jawaban, dan terus terang tidak ada time table untuk itu. Ada yang setelah 12 bulan masih terasa baru saja terjadi kemarin, tapi ada yang merasa seakan-akan sudah berlalu lama sekali. Dia dan orang-orang disekitarnya mungkin mempunyai harapan tentang berapa lama Ia harus mulai move on, tetapi rasa sedih itu berubah-ubah pada saat dia mengerti betapa bedanya hidupnya tanpa orang tersebut. Setiap orang berbeda dan tidak ada waktu yang jelas berapa lama seseorang dapat melewatinya dan sembuh dari rasa sedih. Katanya ada 5 tahapan orang berduka, dari mulai penyangkalan dan mengisolasi diri, Marah, bargaining, depresi hingga akhirnya dapat menerima. Dalam melalui tahapan-tahapan itu setiap orang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan waktu 1 tahun hanya sampai pada tahap di mana seseorang menyadari secara fisik dan emosional bagaimana hidupnya sekarang berubah mulai dari hal-hal kecil misalnya ketika bangun tidur biasanya ada yang membuatkan kopi, atau hanya sekedar memeluk dan mengucapkan “selamat pagi”, bahkan suara omelan karena menaruh kaus kaki sembarangan membuat seseorang begitu kehilangan. Tetapi ada yang dapat melaluinya begitu cepat, dapat menerima kenyataan dan tidak mau berlarut-larut untuk memulai kehidupan baru.

Dengan berjalannya waktu bagi seseorang yang sedang dirundung kesusahan, keseimbangan antara hari-hari yang meresahkan dan hari-hari baik di mana seseorang yang bersedih mulai dapat kembali menjalani hidup yang normal secara bertahap mulai berubah. Semakin lama hari-hari yang buruk semakin berkurang dibandingkan hari-hari yang baik dan normal. Perjalanan ini tidak sama pada setiap orang. Ada yang secara cepat dapat mengatasi kesedihannya dan mulai menjalani hidup dengan normal, tapi ada yang terus menerus dirundung kesedihan dan menjalani kehidupannya dengan susah payah. Namun jangan salah, Ada kalanya karena sebuah hal kecil seseorang yang sudah merasa baikan tiba-tiba kembali dirundung rasa sedih yang bukan main. Pada prinsipnya setiap orang berbeda-beda.

Kematian adalah bagian dari fakta kehidupan. Seseorang dilahirkan, tumbuh berkembang menjalani kehidupan kemudian diakhiri dengan sebuah kematian serta berpisah dengan orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Itu adalah fakta yang tidak dapat ditampik dan kita atau mereka yang masih berada di dunia ini mengalami kedatangan dan kepergian berkali-kali. Semakin lama orang semakin matang dan menerima aspek kehidupan ini dengan semakin rasional dan tidak lagi melibatkan terlalu banyak aspek emosional.

Diskusi bersama teman-temanku pagi itu memang dapat memperlihatkan bahwa kami berbeda dalam menghadapi banyak hal. Aku yang terlihat begitu emosional sementara yang lain sangat rasional. Sambil tertawa-tawa kami bergurau dan ngobrol ringan soal banyak hal. Tentang topik awal diskusi kami memang akhirnya harus aku akui bahwa secara praktis memang anak kecil itu membutuhkan peran ibu dalam hidupnya dan kalau dilihat dari foto-foto mereka memang tampak sangat bahagia. Jujur saja, I feel happy for them and who am I to judge? If it works for them so be it. ***

Alone

Aku duduk di depan komputer pagi ini. Kantor sangat sepi karena hampir seluruh karyawan cuti akhir tahun, hanya beberapa hourly custodians yang hilir mudik dengan tetap hening mengangkut sampah-sampah di semua cubicals sekelilingku.

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2018 aku bekerja, mulai besok hingga tanggal 1 Januari di tahun yang baru, 2019 aku libur dan baru kembali beraktivitas tanggal 2 nanti.

Tidak banyak sebetulnya pekerjaan yang harus aku lakukan, karena atasanku hanya meninggalkan tugas yang bisa aku selesaikan hanya dalam 2 jam dan itu semua sudah rampung aku kerjakan kemarin. Hari ini aku hanya perlu mem-verifikasi sekitar 1500 sisa items dari 6600-an yang ada di sistem CBORD yang sudah tertunda beberapa saat. Mungkin tengah hari nanti akan sudah selesai pula dan tugasku untuk tahun ini selesai sudah.

Musik lembut dari Relaxing Jazz & Bossa Nova Music Radio terus mengalun dan aku sungguh menikmati suasana hening yang hangat di dalam ruangan kantorku. Di luar saat ini sangat dingin sekitar -13º C. Sungguh nyaman, damai dan hangat perasaanku saat ini.

Seperti biasa di tahun-tahun lalu, pada saat menjelang akhir tahun aku punya kebiasaan untuk merenung dan melakukan semacam refleksi melihat kembali, napak tilas, seluruh perjalanan hidupku selama sepanjang tahun hingga saat ini.

Aku tersenyum dan pikiranku mulai bermain-main dalam benakku. Melalui jendela yang besar di samping ruang kerja, aku memandang ke luar yang mulai turun butiran salju masih sangat kecil-kecil, flurries disebutnya. Ini akan menjadi hari yang sempurna, pikirku walau sebetulnya mata mulai tidak bersahabat karena suhu ruang yang hangat dan musik yang mendayu-dayu, kantukpun muncul. Untung aku sudah siap dengan segelas kopi dari tadi pagi mampir di warung kopi langganan ketika dalam perjalanan ke kantor dari rumah.

Tahun ini adalah tahun yang menarik sekali. Diawali dengan lulusnya Nina di QE (Qualify Exam) pertama disusul dengan QE terakhir dipertengahan tahun yang merupakan kelegaan tersendiri. Qualify Exam itu ujian komprehensif untuk 2 mata kuliah wajib. Banyak mahasiswa yang terpaksa harus menghapus cita-cita mereka untuk meraih gelar PhD, karena gagal melewati ujian ini. Aku bersyukur bahwa Nina sudah melewati masa yang membuat diriku begitu tegang dan khawatir.

Diriku sendiri juga mengalami peristiwa-peristiwa menarik selama tahun ini. Awal tahun tampaknya karirku menanjak dengan mulus. Sesudah di pertengahan tahun sebelumnya aku berhasil diangkat sebagai State Classified Employee (Pegawai negeri) Di awal tahun ini aku ditawari untuk promosi jabatan. Aku memutuskan untuk melamar dan mendapat jabatan itu walau masih dalam status sementara hingga nanti ada tawaran resmi. Semua berjalan lancar hingga akhirnya bulan Agustus aku terpaksa harus meninggalkan pekerjaanku karena ijin kerjaku tidak turun turun dari pemerintah pusat urusan Imigrasi (USCIS). 2 Bulan aku menganggur dengan perasaan sedih, kuatir dan bangkrut. Padahal bertepatan dengan tanggal aku berhenti bekerja, gaji karyawan secara serempak dinaikkan, nasibku yang tidak beruntung karena aku tidak bisa menikmati itu semua padahal kenaikannya lumayan besar lebih dari 15%.

Selama 2 bulan itu aku banyak pergi ke Food Bank yang menyediakan bahan makanan gratis. Aku bersyukur bahwa masih ada jalan ketika aku sedang dirundung kesulitan karena tabunganku akhirnya ludes juga sebab tidak ada pemasukan sama sekali. Walau begitu urusan perut tidak terlalu bermasalah karena aku bisa memperoleh bahan makanan seperti sayuran, roti, buah-buahan, kue-kue, susu, yogurt dan kadang-kadang daging seminggu 2 kali.

Selama aku menganggur, ada 2 lowongan pekerjaan yang ditawarkan, Di pekerjaan lamaku akhirnya posisi yang selama ini aku pegang ditawarkan secara resmi. Lalu ada sebuah lowongan lagi yang sudah sejak lama aku inginkan. Aku melamar dua-duanya dan melalui tahap, eliminasi, interview serta test. Sebulan kemudian aku dapat berita posisi lamaku sudah diisi orang lain. Jadi seandainya aku kembali ke pekerjaan yang lama otomatis aku akan pindah ke lokasi lain. Terus terang aku agak jengkel karena posisiku itu diberikan kepada orang lain yang kemudian aku ketahui bahwa kualitas penggantinya masih jauh dibawah aku. “O well, it’s their loss!” Kataku pada diri sendiri dan pada saat itu juga aku memutuskan apapun yang terjadi, tidak akan mau kembali lagi ke pekerjaan lama. Dan keputusanku itu bertepatan dengan informasi positif yang aku peroleh dari posisi ke-dua yang aku minati. Aku memang tidak dipilih untuk termin pertama, karena sejak awal sudah tahu bahwa akan ada 2 posisi yang bakal perlu diisi, yang pertama akan diberikan kepada temanku, Maria, sedangkan posisi yang kedua baru akan diisi kemudian. Itu sebetulnya posisi yang aku incar.

Ijin kerjaku akhirnya turun juga. Ini pengalaman pertama aku dimana proses memperoleh ijin kerja memakan waktu lama sekali. Memperpanjang ijin kerja bukan hal yang baru buatku. Dulu di Hawaii aku selalu melakukan ini setiap tahun selama bertahun-tahun dan tidak pernah membutuhkan waktu panjang berlarut-larut seperti ini. Biasa hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 2 bulan dari 90 hari yang mereka janjikan. Tahun ini membutuhkan waktu lebih dari 140 hari dan mengakibatkan aku kehilangan pekerjaan. Anehnya setahun sebelumnya ketika untuk pertama kali aku melamar ijjin kerja di Fort Collins ini, aku hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 80 hari. Tapi mungkin ini jalan yang harus aku lalui untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik.

Sejak awal sebetulnya aku sudah mentargetkan bahwa pada bulan Desember aku harus sudah berganti pekerjaan karena aku tidak mau hanya tetap dipekerjaan yang dulu. Salah seorang sahabatku kemudian hari berkata,

” Jenengan itu orang yang beruntung, dulu bilang bulan Desember akan ganti pekerjaan, dan coba lihat, sekarang bulan Nopember jenengan sudah dapat pekerjaan baru.”

“Ya aku harus berterima kasih sama Mas. Karena Mas dapat pekerjaan baru maka posisi lamanya bisa aku ambil alih.” Kataku sambil tertawa.

Memang itulah yang terjadi, di awal bulan Nopember aku mendapat pekerjaan yang aku inginkan itu. Posisi itu baru saja ditinggalkan oleh sabahabatku itu yang memperoleh pekerjaan yang jauh lebih baik. Jadi terus terang, penantianku selama 2 bulan itu akhirnya membuahkan hasil yang sangat manis karena pekerjaanku yang sekarang jauh lebih baik dari segi karir dan juga dari segi penghasilan.

Sambil terus bekerja, aku kembali memikirkan apa saja yang sudah aku lalui. Spring kemarin aku bisa mengajak Nina dan kano liburan.. Banyak kejadian seru bahkan ada yang membuat tegang karena hampir kehabisan bahan bakar ketika berkeliling di Death Valley seperti yang aku ceritakan di blog-ku yang berjudul Petrifying Adventure (https://justjosite.wordpress.com/2018/03/18/petrifying-adventure/)

Aku juga sepanjang tahun ini mulai mengalami sulitnya menjadi orangtua bagi seorang yang beranjak dewasa. Masa remaja adalah masa yang sangat penting, sekaligus sulit tidak hanya bagi si anak juga bagi orang tuanya. Anak semata wayangku terlihat berjuang keras untuk mengerti perubahan dirinya, berusaha belajar banyak hal baru yang belum pernah dia alami dalam hidupnya dari mulai perubahan fisik, emosi bahkan relasi sosial dengan banyak orang. Sebagai orang tua aku harus bisa belajar sabar dan be on his side sebagai bentuk dukungan dan bisa berjalan bersama. Praktiknya tidak semudah itu, kadang kami merasa dicampakkan bagai orang punya penyakit yang sangat menular, dia menjauh dan kadan aku justru merasa tidak mengenal dirinya.

Belasan tahun aku bergumul dengan anak-anak remaja dalam menjalankan profesiku sebagai guru. Namun hingga saat ini masih mengalami banyak kesulitan menghadapi mereka. Aku juga mengami masa-masa sulit seperti ini ketika menginjak masa remaja. Bukan masa-masa yang bisa dibanggakan dalam beberapa hal, tapi juga saat-saat yang tidak mudah dilupakan. Di masaku itu banyak kesempatan untuk berkegiatan fisik, menempa prestasi dalam pendidikan dan mengarahkan hidupku secara positif. Tantangan anakku jauh berbeda. Walau kami tinggal di kota kecil tapi jarak dan kondisi menjadi halangan untuk dia bisa terus in contact with the peer. Ini tidak ada masalah di jamanku, aku bisa bersama teman-teman yang bagiku (dan bagi K saat ini) adalah segala-galanya… Orang dewasa, guru dan orang tua hanyalah aliens yang nyinyir, banyak aturan dan tukang ngatur.. rese lah pokoknya. Kontak sosial mereka banyak dilakukan di jalur maya… Selama masa sekolah sih tidak banyak masalah, ketika liburan dimulai, nah ini baru masalah. Kebutuhan untuk bersama, berhubuhgan dengan peer group tampak begitu tinggi tapi jarak, kondisi cuaca menghalangi mereka untuk bertemu. Jadi bermain game online jadi pilihan utama. Repotnya mereka ini seringkali lupa waktu dan duduk di depan TV dengan game console bisa berjam-jam. Ketika diingatkan langsung jadi ajang debat. Untunglah malam tahun baru mereka membuat rencana untuk menghabiskan waktu bersama. Entah berberapa mereka berkumpul di satu rumah. Sejak pagi memang mulai turun salju, tapi mereka tidak peduli dan tetap melanjutkan rencana mereka. Bahkan dari cerita Kano jam 11 malam mereka bermain sledge. Kebetulan di dekat rumah mereka berkumpul jalannya menurun dan penuh salju, jadilah mereka bermain meluncur … Tampaknya mereka menikmati kebersamaan itu dan hari pertama di tahun 2019 terlihat mereka kelelahan karena malam tahun baru itu mereka hampir tidak tidur. Setidak-tidaknya mereka melakukan sebuah aktivitas bersama yang mereka sangat butuhkan di masa liburan.

Tahun baru seolah-olah diajak memulai sesuatu yang baru, melepaskan segala hal yang jelek dan berusaha meraih yang jauh lebih baik. Seperti tahun lalu di akhir tahun aku check up ke dokter demikian juga tahun ini.. Berdasarkan hasil tes, kolesterolku membaik dan tidak beresiko terkena stroke atau serangan jantung, tapi berdasarkan hasil tes yang lain aku punya resiko kena diabetes, dan produksi hormon thyroidku terhitung tinggi walau akhirnya sesudah konsultasi dengan dokter via email aku masih termasuk normal namun harus terus waspada dan menjaga agar tidak Hypothyroid. Nah gaya hidup kuncinya.. makan sehat, banyak olah raga. Repotnya kerjaanku sekarang mayoritas duduk, nah besok aku akan ke gym daftar dan mulai program sehat, makan juga mulai lebih diperhatikan… Itu niatku, semoga tahun 2019 menjadi tahun yang jauh lebih baik dari sebelumnya… amin!***

Work + Food = ?

Sudah hampir 2 bulan ini aku memulai pekerjaan baru. Berbeda dengan yang sebelumnya, pekerjaan baruku ini lebih banyak menuntut duduk di depan komputer, bahkan kalau dihitung-hitung hampir sepanjang hari aku bergumul dengan angka dan memandang layar komputer. Jadi memang sesekali aku harus berdiri, jalan-jalan atau apapun hanya sekedar meluruskan punggung dan menghilangkan perasaan penat serta mata yang mulai berkunang-kunang.

Asyiknya, aku bertugas sebagai floater, artinya aku tidak bertugas di satu tempat tapi bisa berpindah pindah dari satu dining center ke dining center lainnya. Repotnya setiap tempat mempunyai kekhasan masing-masing. Dalam 3 minggu aku masih kelabakan dan belum seluruh tempat dapat aku kuasai. Lambat laun aku mulai bisa menyesuaikan diri, belajar dari sana sini, membaca, eksplor berbagai hal dan semua itu aku jadikan tantangan sehingga pekerjaan ini menjadi menarik dan tidak membosankan.

Satu kelebihan dari pekerjaan ini, aku bisa makan gratis 2 kali sehari dan bebas boleh memilih apa saja karena semua dining centers tempat aku bertugas menyajikan makanan yang all you can eat dengan menu beraneka ragam dari yang sama sekali tidak halal hingga makanan yang super sehat, Gluten free, vegan food dan sebagainya. Jenis makanannya juga beraneka macam ada makanan khas Eropa, Asia, mediterania, mexican, India, dan lain-lain. Yang jelas, ini bahaya sekali buat aku yang memang tukang makan.

Pagi hari biasa aku berjalan kaki ke tempat kerja atau pergi berkendaraan dengan istri yang akan berangkat ke kampus, dalam perjalanan biasanya mampir membeli kopi yang kemudian aku bawa ke tempat kerja. Sesudah sampai di kantor dan absen, aku langsung ke dinning hall untuk sarapan. Yang selalu ada adalah menu waffle yang buat sendiri, rasanya maknyus sekali. Ada gelas kecil untuk menampung adonan waffle lalu dituang ke mesin waffel kemudian alatnya diputar lalu tunggu beberapa menit hingga matang lalu ditaruh ke piring kemudian pilih sirup maple atau madu, whipped cream serta topping lain sesukanya. Menu yang hampir selalu tersedia biasanya bacon, scrambled egg, berbagai jenis daging, breakfast sausages dll…

Sarapan sambil minum kopi dan check email masuk yang berhubungan dengan pekerjaan jadi kegiatan rutin pagi hari. Sambil sarapan biasanya aku sudah mulai tahu kesibukan apa saja yang akan aku hadapi dengan membaca pesan-pesan yang masuk, bahkan ada tempat produksi yang biasa sudah mengirim email jam 3 pagi. Agak menyebalkan memang, tapi ya aku maklumi saja sebab mereka sudah mulai bekerja sejak jam 2 pagi sementara aku baru mulai duduk di meja menghadapi komputer menjelang jam 8.

Setelah sarapan kesibukan dimulai dengan banyak tugas yang harus aku lakukan dari menerima invoices, print menu, memesan barang dan bahan baku ke Vendor sesuai yang dibutuhkan berdasarkan permintaan dari production chef, menyiapkan lembaran inventory dan lain sebagainya. Kesibukan itu lumayan memakan waktu karena biasanya tahu-tahu sudah menjelang waktu makan siang. Badan mulai terasa kaku dan pegal-pegal, terutama bahu dan leher karena selama berjam-jam tidak bergerak hanya jari-jari yang terus menari-nari di atas keyboard. Terkadang aku harus berhenti sejenak dan berdiri untuk sekedar melemaskan badan yang sudah mulai kaku atau mengisi botol minumku yang sudah kosong.

Aku punya waktu istirahat makan siang selama 1 jam. Biasa sebelum makan siang aku mencari tahu menu apa saja yang disajikan. Ada beberapa pilihan dining halls yang dapat aku datangi, Kadang aku berjalan kaki ke Braiden yang jauhnya beberapa ratus meter menyebrangi lapangan dan tempat parkir, tergantung hari itu aku bekerja di mana. Jika di Aspen yang paling dekat adalah Rams Horn tinggal beberapa langkah aku sudah tiba di sana. Ada juga Durrell dan The Foundry. Itu semua 4 tempat makan yang biasa aku datangi, pilihan nya tergantung mood ku saat itu dan jenis makanan yang hari itu ada di menu.

Makanan memang selalu menarik perhatianku dan membuat hati-hariku di tempat kerja seru. Jika satu hari aku makan kalkun panggang dengan kentang tumbuk dan buncis panggang, besoknya aku makan brisket bakar, lalu di hari lain aku memilih Beef Fajita dengan guacamole, sour cream dan lain-lain sebagaimana biasanya makanan ala Mexico, lalu ada menu Fish n’ Chips atau makan nasi goreng dengan lumpia dan General Tso Chicken. Itu semua sebetulnya makanan utama, Kalau mau salad ya bisa pilih sendiri di salad bar, disana disediakan segala macam jenis selada, bayam, segala macam sayuran pelengkap lainnya seperti broccoli, bunga kol, paprika, bawang, timun dan sebagainya.. Lalu ada juga potongan ikan tuna, bacon, tahu, ham dan keju-kejuan serta berbagai pilihan dressing. Untuk pencuci mulut juga disediakan berbagai macam cookies, cakes, pies dan es krim.

Sekarang minumannya apa? ya segala macam ada, dari mulai soda seperti coca cola, Sprite, Fanta, rootbeer; Ada berbagai jenis juice yang tinggal dipilih; Ada teh manis, teh pahit, teh dengan rasa buah-buahan. Lalu ada kopi dan juga entah minuman apa yang pahitnya tidak kalah dengan jamu!

Selesai makan siang aku punya banyak waktu untuk menghirup udara segar, walau dingin aku menyempatkan diri jalan kaki keliling-keliling, menikmati danau, memberi makan tupai atau hanya sekedar menikmati matahari hangat dan mengendurkan otot-otot yang kaku (sekalian membakar sedikit kalori dari asupan makanan berlimpah tadi hehehe).

2 bulan aku tidak bekerja lalu 2 bulan dengan pekerjaan baru, hasilnya? berat badan meningkat pesat! terakhir lihat timbangan sudah naik sekitar 10 lbs… bahaya ini! Pertama aku agak khawatir dengan kolesterol serta teman-temannya karena aku ingat tahun lalu aku test gula darah dan lain-lain, hasilnya ada yang baik seperti kadar gula darahku bagus tapi kolesterol sudah di ambang batas. Nah jadilah aku cepat-cepat pilih dokter karena asuransi kesehatanku ganti. Dalam beberapa hari mendatang aku akan konsultasi bila perlu test darah lagi dan tanya olah raga apa sebaiknya yang bisa aku lakukan karena aku punya Sciatica yang sudah menahun. Kedua karena bentuk tubuh sudah semakin menggembung artinya begitu ada rekomendasi, aku akan daftar ke pusat kebugaran dan siap cap cusssss…. ***

Commitment

Aku duduk menghadap jendela raksasa memandang lapangan luas yang mulai tertutup salju. Student center hari ini sangat sepi karena semua kedai makanan tutup, kecuali kedai roti lapis yang sepertinya hampir tidak pernah tutup. Orang-orang berjaket tebal dan penutup kepala berlalu lalang. Mereka- mereka ini aku anggap gila karena saat ini suhu -11° C dan aku tahu kemana mereka akan pergi, yaitu ke stadion. Ada pertandingan sepak bola hari ini, antara team mahasiswa CSU dengan team tamu. Aku tidak tahu siapa tamunya kali ini karena tahun ini aku tidak mengikuti sepak bola, pertama karena kesempatan menonton terbatas, TV selalu dibajak Kano; kedua karena team sepak bola CSU tahun ini buruk sekali. Mangkanya aku bilang mereka gila sebab aku yakin hampir pasti CSU kalah lagi (dan ternyata ramalanku tepat hehehe) dan forecast cuaca mengatakan sepanjang hari ini akan turun salju!

Lalu buat apa aku di sini? sebetulnya karena aku harus ke toko mencari dryer sebab yang di rumah rusak. Repot kalau haru pergi ke laundy ketika cuaca buruk. Aku menunggu bus yang hanya lewat 1 jam sekali. Tadi aku tertinggal bus karena berangkat agak terlambat dari rumah dan barusan karena asyik menonton orang-orang gila lewat menuju setadion dengan perlengkapan yang masive.. eeeh aku lupa waktu dan ketika tiba di tempat bus aku tertinggal lagi. Siwalan!!! jadilah aku 2 kali tertinggal bus kota 😢😢😢

Yah, memang hari ini aku sedang kurang baik nasibnya. Pertama sobatku tidak bisa mengantar aku untuk mencari dryer, kedua sudah beberapa hari ini aku kurang enak badan, tetapi masalah mesin pengering ini butuh perhatian utama sebab cucianku sudah setinggi gunung jadi aku mau tidak mau harus berusaha mencari. Aku harus commit walau apapun yang terjadi, termasuk saat ini aku salah kostum karena hanya memakai kaos tipis dan sweater sehingga tidak cukup untuk menahan udara dingin. Aku berangkat terburu-buru dan tidak sadar bahwa suhu di luar -11° dan jalanan begitu licin karena penuh es. Salju yang turun saat ini ternyata berbentuk butiran es bukan serpihan salju dan aku hanya memakai boots biasa dan bukan untuk berlajan di jalanan penuh es, sehingga akhirnya aku harus jalan tertatih-tatih kalau tidak mau tergelincir dan jatuh terjerembab 😢 Lengkap sudah kekacauan hari ini. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada bersantai di rumah dengan penghangat ruangan, segelas kopi atau coklat panas sambil membaca buku atau menulis sesuatu. Tapi sekali lagi aku harus commit!

Mumpung pikiranku jadi terdengar serius, apa salahnya aku bahas komitmen itu apa.

Commitment is the state or quality of being dedicated to a cause, activity, etc. atau an engagement or obligation that restrict freedom of action.

Buat aku, komitmen itu adalah segala-galanya karena menyangkut hampir semua value kehidupan yang aku yakini. Melanggar sebuah komitmen yang sudah aku canangkan adalah menghancurkan semua hal-hal baik yang aku anut, Titik! Karena menurutku banyak aspek dan nilai-nilai kehidupan yang akan terpengaruh jika aku melanggar sebuah komitmen. Ini adalah masalah dedikasi, integritas dan kualitas pribadi. Aku ambil contoh beberapa hal yang aku pegang teguh, misalnya:

1. Komitmen adalah persistensi. Jika sudah komit terhadap sesuatu, maka aku seolah-olah sudah melakukan sebuah janji darah, artinya apapun yang terjadi aku akan mempertahankannya. Tanpa persistensi maka hancur semua nilai-nilai yang aku yakini, hilang sudah seluruh integritas yang ada dalam diriku. Aku bukan siapa-siapa lagi… akarku sudah tercabut.

2. Komitmen adalah ekspresi diri. Ekspresi diri adalah titik puncak dari siapa aku dan bagaimana aku sebagai seorang manusia. Aku meyakini bila memiliki keselarasan antara aku dan bagaimana aku menjalani hidup serta mempraktikkan nilai-nilai kehidupan, maka aku mampu mengekspreskan diri seutuhnya dan menjadikan seorang aku yang sejati. (lama-lama ini kok seperti baca cerita silat Kho Ping Ho ya? hahaha, kalo ada yang pernah baca, pasti mengerti hahaha)

3. Komitmen adalah serious business.

Komitmen itu adalah sesuatu yang powerful karena mempengaruhi bagaimana aku berpikir dan bertindak. Bukan seperti orang yang setengah hati dan ogah-ogahan lalu menggunakan bahasa klise “insyaAllah” yang kemudian diplesetkan menjadi mudah-mudahan atau “engga janji ya”, membuat sebuah komitmen artinya aku berusaha keras dan berusaha mencari pemecahan bila menghadapi suatu rintangan serta tidak menyerah serta menoleh kebelakang.

4. Komitmen adalah sebuah promise and risking it all.

Seperti contohnya sebuah pernikahan dimana kita berjanji sehidup semati dalam susah dan senang dalam kondisi sehat dan sakit, aku berjanji dan akan berjuang untuk tetap komit dalam segala kondisi dan berani menanggung resiko.

5. Commited means being accountable.

Secara singkat sebetulnya menyuratkan sebagai pribadi yang bisa diandalkan. Seorang yang komit dapat dilihat dengan usahanya untuk melaksanakan apa yang dia janjikan, get the job done dan trustworthy.

Hmm…. ini kok benar-benar jadi serius deh… ya sudah lah… lumayan juga ada waktu berpikir sambil menunggu.

Bus datang tepat pukul 1:45. Aku segera naik karena aku benar-benar kedinginan jadi tidak mau buang waktu. Di dalam bus terasa hangat dan aku bisa terus berpikir.. kurang dari 30 menit aku sudah turun dan berjalan menuju toko yang aku sudah rencanakan.

Masuk toko dan dalam 10 menit aku sudah selesai membeli dryer yang aku butuhkan. Mereka berjanji hari Selasa akan diantar ke rumah. Beres!!!! lebih lama usaha menuju toko ini daripada proses transaksinya. Mission accomplished!

Satu hal lagi yang aku pelajari dari sebuah komitmen, jika berhasil maka memberikan perasaan puas yang bukan main. Walau kedinginan sampai ke tulang-tulang tapi nikmat karena ada rasa hangat dari dalam bahwa aku dapat melaksanakan misiku. ***

Letting Ourselves Get Lost

Setelah hari demi hari dijalani, gerak kehidupan seolah-olah berlalu dengan sangat cepat– tuntutan demi tuntutan untuk berhasil meningkat, hanya meninggalkan waktu yang sangat terbatas untuk sejenak bersama keluarga, sahabat bahkan dengan diri sendiri. Ketika momen untuk berefleksi sulit didapat… bila ada, itu adalah waktunya menyesat!

—————-

Mataku terbuka perlahan-lahan dan aku mulai terjaga, terbangun karena ada bunyi yang sangat aku kenal jika hujan. Talang air yang berbunyi mirip kentongan hansip di kampung tapi jauh lebih lembut.

“Hmm… sepertinya hujan,” kataku pada diri sendiri. Tapi kok aneh, biasanya ada bunyi gemelitik di atap atau dipepohonan atau rumput ketika air hujan menyentuh, ini hanya bunyi di talang.

Di luar masih agak gelap sehingga aku tidak dapat melihat apapun walau saat ini sudah pukul 6 pagi. Musim gugur sudah tiba sehingga kini kegelapan mulai lebih panjang dari siang.

Kupejamkan mataku kembali sambil menikmati suara air di talang tadi. Jika hujan semakin deras, tempo ketukan dari aliran airpun semakin cepat dan semakin keras, jika hujan mulai reda maka temponyapun semakin melambat dan suaranya semakin senyap.

Kantukku hilang, kulirik jam disamping pembaringan masih menunjukkan pukul 6 pagi dan tanda-tanda matahari belum ada sama sekali hanya remang-remang dari lampu kebun belakang. Kurapatkan selimut karena dingin dan bunyi pemanas ruangan terdengar sayup-sayup.

“Suhu ruangan harus aku sesuaikan.. heater-nya kurang hangat.” kataku dalam hati.

Lalu iseng-iseng aku memandang keluar jendela kamar yang tirainya hampir selalu aku biarkan terbuka, toh matahari biasanya mulai keluar sekitar jam 7 lewat dan itu sudah lewat batas waktu bangun pagi. Jadi tidak masalah.

“Wah kayanya diluar turun salju!” aku terperanjat. Segera aku senggol istriku yang masih tertidur.

“Hey.. di luar turun salju.” Kataku.

“Emang, khan kata ramalan cuaca gitu.” Katanya tanpa membuka mata lalu melanjutkan tidurnya.

Aku beranjak dari tempat tidur dan berdiri menghadap jendela. Atap rumah sudah mulai putih semua. Dedaunan juga putih, hanya rumput yang sebagian masih hijau, terutama di bawah pohon karena salju tertahan dan tidak jatuh ke rumput.

Yang membedakan salju dengan hujan adalah suaranya. Hujan selalu berisik ketika menyentuh benda apapun tetapi salju sangat senyap, tidak bersuara sama sekali. Hanya suara talang air dikarenakan salju yang mencair sebab sebetulnya musim gugur masih terlalu hangat untuk salju sehingga berubah menjadi aliran air yang berisik mengalir ke bawah.

“Kita ke downtown yuk. Sarapan di sana, ngopi, baca buku dan santai jalan-jalan. Aku pengin ke toko pastry, keju dan rempah-rempah. Nanti sehabis makan siang kita pulang. Mau engga?” tanyaku.

“Dingin-dingin gini? khan lagi turun salju.” kata istriku malas.

“Daripada di rumah. Bosen aku dah hampir 2 bulan kebanyakan di rumah. Tinggal pake baju hangat pake boots. Ayolah..” ajakku lagi.

“Ya udah sana kamu mandi duluan. Sekalian tanya Kano dia mau ikut engga.” Jawab istriku, matanya tetap meram.

Aku berjalan menuju kamar mandi yang berada persis disamping kamar tidur. Melalui ujung mata kulirik istriku yang menarik selimut tebal menutupi tubuhnya dan melanjutkan tidurnya.

Satu jam kemudian kami sudah berjalan di luar rumah. Salju sudah berhenti dan hanya meninggalkan tumpukan yang tidak terlalu tebal di beberapa tempat. Tanah masih terlalu hangat sehingga salju langsung mencair.

“Kamu yang nyupir, Jo” Kata istriku.

SIM sementaraku memang sudah beres dan aku harus lebih sering mengemudi agar terbiasa nyupir di sebelah kanan. Aku masih canggung terutama tongkat persneling di sini ada di sebelah kanan, jadi kalau mau ganti perseling aku sering tertawa sendiri atau ditertawakan karena tangan kiri otomatis bergerak dan kemudian sadar bahwa di sebelah kiri tidak ada apa-apa hanya pintu dan seharusnya tangan kanan yang digerakkan untuk meraih tongkat.

“Kalo kamu gitu terus bisa ga lulus loh waktu driving test” Kata Nina

“Hahaha… iya! Aku belum biasa. Liat aja mau ngasih lampu sein malah wiper yang gerak karena salah. Semuanya serba terbalik. Hehehehe.” kataku.

“Mangkanya kamu harus lebih sering nyupir.” Kata istriku lagi.

“Oke.. oke.” jawabku setuju.

“So, kemarin kamu ngapain aja?” Tanya istriku.

Kendaraan kami belok ke kiri dari Plum street memasuki jalan Shield.

“Eh hati-hati, kalo belok ke kiri kamu harus tetap di lajur kiri, trus kasih sein, noleh ke belakang, liat kaca spion baru pindah lajur ke kanan kalo aman.” Kata Nina

Yes, Ma’am. Aku dah kerjain khan?” kataku.

“Iya tapi nolehnya kurang keliatan. Itu tujuannya untuk liat blind spot.” kata Nina lagi.

“Ok.. next time I’ll do better.” jawabku

“Kamu tadi nanya soal kemarin khan? jadi kemarin itu pagi-pagi aku terima pesan untuk makan siang bareng mas Aris, Maria, sama Janelle. Kita makan di Twisted Noodle. Aku pesen spicy parmesan Pasta, karena aku suka ada artichoke-nya, ayam, udang dan jamur. Pastanya aku pilih rigatoni. Dari makan siang aku jalan kaki ke Palmer ke Human Resource bagian payroll, ketemu Soledad dan Paula.” jelasku

“Ada apa ke Palmer?” tanya Nina

“Ya mau ngasih tau aja kalo berkas-berkasku sudah siap, ijin kerja dah lengkap.” kataku.

“Terus?”

“Ya ngobrol sama Paula. Aku bilang bahwa walau sudah ada ijin kerja aku belum lapor ke manager di Housing karena mau nunggu kabar dari bagian Data specialist. Nah Paula semangat banget. Dia langsung telepon Amy Mosser kasih tau kalo berkasku sudah lengkap dan nanya gimana prospeknya. Keliatan dia dapet info yang bagus tapi dia engga bisa cerita ke aku karena khan ada kode etik profesional. Dia senyum-senyum sambil ngedipin mata ke aku lalu akhirnya bilang gini: You don’t have to do anything.. just wait, hang tight because it seems like everything is in your favor. That’s all I can tell you right now. Anyway, I am happy for you but before I get approval from main HR, I cannot do anything. So you wait and no need to report to your previous managers until you get the news from HR. Gitu ceritanya.”

“Wah bagus dong, Ya mudah-mudahan aja kamu cepet dapet berita. Dah kelamaan ini.” kata Nina. Terlihat wajahnya agak lega. Aku tahu dia begitu kuatir dengan kondisiku terutama kondisi mentalku karena bosan dan tidak ada penghasilan selama hampir 2 bulan.

“Ini terus aja khan di Laurell baru belok ke kiri begitu sampai di College?” tanyaku sambil memperhatikan jalan di depanku.

“Iya. Dan jangan di lajur kanan karena kalau di kanan nanti terpaksa harus belok ke kampus. Ambil lajur kiri aja lurus sampe nanti di perempatan Laurell dan College.” kata Nina

Jalanan tidak begitu ramai karena Sabtu bukan hari kerja. Setelah menemukan tempat parkir di pusat kota kami berjalan perlahan karena walaupun trotoar sudah bersih dari salju, tetap kami harus berhati-hati kalau-kalau ada genangan yang membeku yang menjadikan jalan begitu licin.

Kemudian kami mencari sebuah kedai kopi lalu duduk menikmati kopi dan sarapan.

“Jadi kamu pasti pindah kerja? Gimana kalau ternyata engga diterima?” Tanya Nina membuka percakapan.

Aku menghirup kopi yang aromanya sedap sekali lalu kemudian menjawab,” Ya lihat saja nanti. Kelly, bakal bossku yang baru, waktu itu bilang dia pengin aku kerja buat dia dan mas Aris sendiri bilang kemungkinan dapetnya 99%.”

“Ya aku sih jaga-jaga aja kalau-kalau kamu ga masuk.” timpal Nina lagi.

“Mangkanya aku belum bilang apa-apa ke bagian housing walau pengumuman lowongan dah ditutup, paling sial ya aku mulai jadi hourly lagi. Tapi kalau nurutin hati, aku engga mau balik lagi ke sana karena posisiku sudah diambil orang lain. Kalau aku kerja di sana lagi pasti dikirim ke tempat lain, engga akan sama Christina lagi. Males lah. Dulu aku pernah bilang kalau engga sama Christina aku akan keluar haahaha..” kataku sambil mengunyah bagels yang aku pesan.

Bagels yang aku pesan enak sekali walau agak terlalu banyak cream cheese. Tapi tekstur roti yang sangat kenyal dan padat ini memang indah sekali apalagi dipadu dengan rasa manis dari red onion, rasa asin dari Capers, aroma irisan tipis ikan salmon asap lalu ada rasa masam dari tomat bahkan sedikit ada rasa pahit, pedas dan nutty dari baby urugula memanjakan hampir seluruh titik-titik pencecap di lidahku… indah!

“Sayang Kano engga mau ikut. Dia khan suka banget bagels. Aku bisa pesanin yang ada jalapeno-nya. Hebat juga tuh anak. Dulu dia sama sekali ga suka pedas, sambel ABC aja dia ga mau. Eh sekarang jalapeno dia makan. Hahahaha.” kataku.

“Dia khan dah besar, Jo. Tahun depan dia akan masuk SMA loh. Engga sampe setahun lagi malah.” kata Nina.

“Iya ya, engga kerasa. Padahal kalau liat foto-foto waktu baru dateng, dia masih keliatan kaya anak kecil. Aku inget waktu transit di Chicago dia minta dibeliin apple juice. Aku kasih dia uang dan aku suruh dia beli sendiri. Hahahaha.” ceritaku.

“Terus gimana?” Tanya Nina.

“Aku mau dia berani lah, dari kecil khan dia dah biasa bahasa Inggris, malah boleh dibilang bahasa Inggris itu bahasa pertama dia. Nah waktu itu dia nanya sih gimana caranya beli dan harus bilang apa. Aku ajarin lah.. eh berani loh dia.” Ceritaku dengan bangga.

“Baguslah… sekarang ngomong dia malah lebih bagus dari kamu.” Kata nina sambil tertawa.

” Haahaha…. iya. malah aku sering engga ngerti kalau dia bicara karena terlalu cepat. Atau kupingku mulai budeg, ga tau juga hehehe…” kataku.

“Hmm… aneh ya.. engga biasa-biasanya tempat ini sepi.” tiba tiba Nina bicara sambil melihat sekeliling.

“Mungkin karena orang malas keluar rumah, Khan tadi bersalju.” jelasku

“Mungkin juga karena ini hari sabtu ya, jadi orang-orang bangun jauh lebih siang.” Kata Nina.

“Bisa jadi.” kataku pendek sambil melempar pandangan ke sekeliling kedai itu yang memang benar terlihat lengang.

“Kamu sadar engga 5 tahun lagi Kano akan kuliah. Kalau kita tetap di sini dia akan move out dari rumah, masuk student dorm lalu kita nanti tinggal berdua lagi.” tiba-tiba Nina bicara sambil pandangannya menerawang jauh ke luar.

“Hmm… waktu kok cepat sekali ya, perasaan belum lama ini aku masih gendong dia di Dada pake Baby Bjorn dan belanja, ngedorong shopping cart di Don Quijote sambil dilirikin ibu-ibu muda karena bawa cute baby hahaha atau maen di taman dia lari-lari ke sana kemari bawa bola.” Kataku seolah-olah berbicara pada diri sendiri sambil membayangkan masa lalu.

“How are we going to pay his college?” tiba-tiba Nina memecahkan lamunanku.

Dunno! nanti juga akan ada titik terang. It has been like that. Solution shows itself at the last moment, a perfect moment. Kita selalu mengalami itu.. aneh tapi mungkin begitu cara Tuhan bekerja dalam hidup kita. Sok inget-inget, berapa kali kita ngalami keajaiban kaya gitu? Ketika kita buntu dan tidak tau lagi harus bagaimana, eh tiba-tiba muncul solusi yang sama sekali tidak kita duga. Di hari pernikahan waktu makan siang misalnya, inget? Waktu menjelang kita pindah ke Hawaii, waktu masa 2 tahun pertama di sana hampir habis, waktu bea siswa kamu habis tau-tau aku di-hired pekerjaan baru yg gajinya selangit, waktu Kano umur 2 bulan dan didiagnosis ada kelainan jantung yang bikin kita pusing soal biaya perawatan, lalu waktu kita harus bayar $18.000 gara-gara Kano dibawa ke emergency, waktu menjelang aku sama Kano mau nyusul kamu ke sini. Masih banyak lagi. Hmm… kalau dipikir-pikir hidup kita itu aneh ya, menarik, jatuh bangun, tapi at the end everything falls to its place and they came to us at the perfect moments.” Jawabku

Aku terdiam, juga Nina. Kami seolah-olah hanyut dalam pikiran masing-masing. Bagels kami sudah habis hanya tersisa remah-remah di piring, kopi juga sudah mulai dingin. Di luar keramaian mulai hadir. Orang-orang berlalu lalang dengan jaket tebal, sepatu boots dan penutup kepala. Kendaraan mulai banyak berseliweran. Dan Matahari mulai terang melelehkan salju yang ada di pepohonan yang mulai gundul.

“Tahun ini akan jarang ada pohon yang sampai merah warnanya. Salju merusak semuanya. Daun-daun belum sempat merah langsung rontok.” kata Nina yang seolah-olah dia mengikuti isi pikiranku.

“Iya, mulai hari ini di mana-mana akan kotor penuh daun yang gugur.” kataku setuju.

“Minggu depan aku mau ke sini lagi. Kalau Kano mau kita bisa pergi bertiga.” kata Nina.

“Hmm? ada apa memang minggu depan?” tanyaku penasaran.

“Jumat, 2 Nopember, seluruh down town akan penuh lampu. Tiap taun khan ada acara penyalahan lampu. Semua pohon akan dikasih lampu. Ingat tahun lalu?” kata Nina.

“Oh iya… itu awal masa-masa akhir tahun yang keren. Lampu-lampu, lagu natal, semua berhias. Can’t wait! wah ini bakalan jadi natal ke 3 kita di sini ya… wow… 3 tahun sudah. Ngapain aja kita selama ini.” kataku.

“Eh, kamu ngapain sih mau ke toko keju sama spices?” tanya Nina.

“Engga tau, iseng aja sih. Kemaren ini aku nonton acaranya Ina Garten di Food Network. Itu looooh program Barefoot Contessa. Dia khan selalu gitu, tinggal di kota kecil terus kalo mau masak dia pergi ke toko-toko kecil beli keju yang masih fresh, beli daging di butcher engga kaya kita yang belinya di supermarket. Terus beli bumbu-bumbunya juga di toko kecil. Seru keliatannya! Aku sih cuma mau liat-liat aja, ga butuh apa-apa. cuma seneng aja liatnya.” jawabku.

“Okay, kirain tuh kamu mau masak apa gitu.” kata Nina.

“Loh kalo kamu pengen makan sesuatu, something different, ya bilang aja. Mumpung kita masih ada di sini.” kataku.

“Aku pengen pasta sih.. kemaren kamu ke Twisted noodle, aku jadi kepengen. Bisa bikin Cajun salmon pasta?” Tanya Nina penuh harap.

“Bisa dong, di rumah dah ada half and half, tinggal beli cajun seasoning aja di toko bumbu. Pulangnya kita mampir ke King Soopers beli salmon. Beres! Eh pastanya mau apa? linguine, spaghetti, penne atau apa?” tanyaku.

“Apa aja yang ada di rumah, biar ga usah beli.” kata Nina.

“Seingatku cuma ada macaroni, whole wheat spaghetti, rottini sama penne.” jawabku.

“Ya salah satu dari itu aja.” kata Nina

“Ok. Ayolah sekarang. Sekalian kalo gitu aku mau cari fresh parmesan.. diparut di atas pasta bakal enak banget.” ajakku sambil berdiri.

Kami beranjak dan keluar dari kedai kopi yang sekarang mulai didatangi banyak pengunjung. Di luar ternyata mulai hangat jadi aku tidak perlu penutup kepala. Menjelang sampai di toko bumbu aku sudah mulai mencium aroma yang sedap. Tokonya tidak besar tapi tertata dengan apik dan menarik. Rak yang dipenuhi botol-botol bumbu membuat aku betah berkeliling di dalamnya. Sangat menyegarkan dan memberikan Earthy fragrant.

“Kita harus lebih sering kaya gini. Aku merasa rileks, lepas dari kesibukan sehari-hari, tugas, mikirin kerjaan dan jauh dari rutinitas.” Kataku.

“Kalo keseringan ya ga spesial lagi dong.” kata Nina.

“Ya harus ada variasi. Nongkrong di taman sambil ngobrol atau baca buku, atau piknik misalnya.” kataku.

Sure” jawab Nina pendek.

“Sekarang mau kemana?” Sambung Nina.

“Pengen nyari keju sih, kalo kamu tertarik.”

“Oke” Kata Nina.

Kami keluar dari toko bumbu sesudah membayar sebotol Cajun Seasoning yang aku butuhkan untuk menyiapkan makan malam nanti. Sebetulnya aku bisa saja membuat sendiri karena cajun seasoning sebetulnya hanya terbuat dari bubuk paprika asap, thyme, oregano, garam, cayenne pepper, merica, bubuk bawang dan garlic. Tetapi aku ingin mencoba komposisi perbandingan bumbu yang toko ini buat karena tertarik dengan yang mereka jual.

“Kok aku jadi inget film You’ve got Mail. Itu loh film jadul yang mainnya Tom Hank sama Meg Ryan.” kataku begitu ada di luar dan mulai berjalan kaki.

Very typical movies that you like!” Kata Nina.

” Hahahaha.. dasar tukang ngejek!. Itu film cute banget. Dulu pertama kali nonton film itu aku ngebayangin gimana rasanya hidup di sekitar upper West Side di New York. Minum kopi di coffee shop kecil sambil ngobrol, beli sayuran atau buah-buahan di farmer’s market di sekitar taman atau tengah kota, duduk-duduk di taman dan sebagainya. Mirip sama yang lagi kita kerjain sekarang.” Kataku.

“Ya beda lah… di Upper West side New York khan bangunannya jauh lebih besar-besar, tinggi-tinggi dan menurutku malah di sini jauh lebih mungil-mungil, lebih bersih dan lebih cantik.” Kata Nina.

“Iya sih.. mangkanya aku menikmati banget suasana kota kecil kaya gini. Suatu hari nanti kita akan kangen masa-masa seperti ini.” Kataku setengah menerawang.

That’s true.. something like this is hard to come by” Nina mengangguk setuju.

Kami berjalan kaki perlahan-lahan. Angin dingin berhembus sekali-kali membuat kami agak menggigil dan terpaksa merapatkan jaket. Matahari mulai tertutup awan dan langit kembali menjadi pucat. Down town memang cantik, bangunan-bangunan tua yang dijadikan toko yang mungil-mungil berhias dengan indah, tidak masalah di pagi, siang atau malam hari selalu menawarkan suasana yang menarik. Restoran-restoran baik yang sederhana maupun untuk kalangan atas semua tersedia, banyak tempat yang menyediakan tempat duduk di luar sehingga kita dapat bersantai menyantap makanan sambil menikmati suasana kota.

“Sorry rencana liburan musim.gugur batal gara-gara aku ga kerja. Sayang juga jatah libur, comp-time yang aku tabung juga hangus.” Kataku sambil melihat-lihat etalase toko yang kami lewati.

“Ya sudah mau gimana lagi. Pelajaran buat tahun depan jangan sampai ijin kerja terputus. Lagian salju keburu turun, kalau kita jadi ke Durango juga semua sudah gundul. Nanti aja kita perginya Spring.” Kata Nina.

“Si Kano gimana? ga kecewa dia?” tanyaku.

“Biasa aja. Dia pada dasarnya lebih excited sama Ski trip dia di bulan Januari.” Jelas Nina

“Oh iya ya. Dan kali ini katanya nginepnya lebih lama.”

“Seminggu kalo engga salah.”

“Lebih mahal engga biayanya? ” tanyaku

“Aku dah bilang dia untuk lebih rajin baca reading plus, lumayan loh 1 artikel yang dia baca dia dapat 1 Dollar. Tahun lalu khan kita ga bayar.” Jawab Nina.

“Mudah-mudahan aja dia rajin kaya tahun kemaren.” kataku.

“Dia dah mulai kalo engga salah dari bulan lalu, kok. Tenang aja.”

Kami terus berjalan dan tidak berbicara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Yang aku pikirkan adalah bagaimana memberi kesempatan pada Kano agar dapat ekplor semua kesempatan yang tersedia. Winter yang lalu dia dapat pergi beberapa hari snowboarding lalu disusul di musim panas dia melakukan perjalanan camping dan hiking ke Yellow Stone selama seminggu. Musim dingin ini dia akan pergi ski lagi.

“Kano termasuknya anak yang beruntung ya bisa menjalani itu semua. Waktu seumur dia aku cuma maen layangan hahahhaa.” Kataku

“Ya mudah-mudahan dia bisa menghargai apa yang dia selama ini bisa alami.” Kata Nina.

“Kayanya begitu walau sekarang dia sedang mengalami masa-masa bergolak sebagai remaja. Pusing aku menghadapi dia.” kataku

“Ya kita yang dewasa harus bisa lebih memahami. Ini masa yang penting buat dia belajar mandiri, belajar menjadi dewasa.” Sambung Nina.

“Iya, aku dulu juga mengalami masa sulit waktu seumur dia.” Kataku sambil sekilas teringat masa-masa gila, kacau-balau dan tidak karuannya masa itu.

Kami mampir di toko keju yang juga tidak kalah menariknya dengan toko rempah barusan. Di sini malah lebih rame lagi karena pelanggan bisa duduk dan makan keju serta minum wine. Segala macam keju dapat dijumpai di sini, dari yang sebesar roda sekuter dan tebal seperti barell hingga yang sudah dipotong-potong menjadi porsi kecil. Aku memilih sepotong keju parmesan yang sudah mereka bungkus seperti segitiga, disampingnya ada yang sangat besar seperti barell yang sudah dibelah. Toko ini mempunyai keharuman yang khas, gurih, berbau susu dan sesekali aku mencium harum wine karena di beberapa meja aku bisa lihat beberapa orang sedang asyik minum dan menikmati makanan yang berkeju.

“Kamu mau makan siang apa? bentar lagi sudah lunch time loh. Cepet banget ya ha ha ha..” Kataku.

“Terserah.. sebetulnya aku masih kenyang sih. Kamu aja maunya apa, paling aku makan sup aja atau sesuatu yang ringan.” jawab Nina.

“Aku juga masih kenyang. Ga kepengen apa-apa. Kamu yang nentuin deh.” kataku lagi.

“Makan pastry sama minum hot chocolate aja yu. Tadi khan kita lewat.”

“Ok.” jawabku

Kami berbalik arah dan berjalan lambat-lambat. Udara masih dingin walau sudah tengah hari, cocok untuk secangkir coklat panas dan makanan kecil, obrolan santai dan tak perlu berpikir hal-hal serius. Akhir pekan ini walau dimulai dengan salju ternyata menyenangkan juga.***

Enjoy!! You’re Unemployed!

“The fame thing isn’t really real, you know. And don’t forget I’m also just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her,” kata Anna Scott.

Matanya mulai berkaca-kaca dan kemudian dia mengucapkan selamat tinggal kepada William Tacker serta keluar meninggalkan toko. Film yang sedang aku tonton ini menjelang bagian akhir, semacam film bertemakan fairy tale gaya Hollywood seperti cinderella, pretty woman dan sebagainya yang biasanya berakhir dengan happy ending.

Aku tersenyum-senyum di bangku taman sambil menyaksikan film lama ini yang kalau tidak salah diputar sekitar akhir tahun 90-an, Notting Hill, yang aku putar di HPku.

Sudah 1 minggu lebih aku tidak bekerja karena ijinku habis dan masih menunggu hingga keluar ijin yang baru. Mayoritas kegiatanku hanya sebatas menikmati hari disamping pekerjaan seputar rumah.

Hari ini aku ada janji makan siang bersama beberapa orang sahabat. Karena agak kepagian, aku duduk di bangku taman dan iseng-iseng menonton film yang bisa aku putar dari internet yang menyajikan ribuan film secara streaming.

Film-pun selesai, seperti yang kuduga berakhir dengan happy ending. William menyadari kebodohannya dan dibantu teman-temannya menembus lalulintas yang padat di kota London berusaha mengejar Anna sebelum dia terbang kembali ke Amerika. Film romantic comedy yang menghibur dan dapat mengisi waktu selama aku menunggu.

Aku beranjak dari bangku taman dan berjalan melewati lapangan rumput yang sangat luas, lalu sebuah danau buatan yang kalau winter penuh dengan bebek yang bermigrasi ke sini. Akhir musim semi biasanya mereka terbang kembali ke habitat aslinya karena cuaca menjadi terlalu panas untuk mereka.

Kujumpai 2 orang sabahatku di tempat yang sudah kami sepakati.

“So, do you miss work?” Tanya Maria.

“Not really. Honestly I am happy that I don’t have to go to work. I wish They were still paying me though. hahahaha..” Kataku sambil cengengesan

I know, right?” Kata Maria yang juga ikut tertawa.

Maria adalah salah satu temanku di tempat kerja tetapi beda divisi. Dia adalah seorang baker yang piawai. Sudah beberapa kali dia membuatkan aku Challah Bread yang enaknya bukan main. Tempat kerjanya memang bersebelahan dengan tempatku jadi kami memang sering ketemu. Hari ini kami janjian untuk makan siang bertiga di kantin kampus yang paling baru. Kami bertiga, yaitu Mas Aris, Maria, dan aku memang sering ngobrol bareng. Sepertinya kalau kami bisa bertiga kerja bareng akan seru sekali.

“How do you feel about the test you took last week?” Tanya Maria.

“I don’t feel good at all. I think I flunked the test. I didn’t expect they would test me using numeric key pad. So I don’t think I will get the job.” Jawabku ketika dia bertanya mengenai test untuk melamar kerja. Kebetulan Maria juga tertarik pada pekerjaan yang sama.

“Well, you never know.” Timpal Maria, Aku tahu dia hanya sekedar menghibur.

Kami memasuki dinning hall yang besar dimana berjejer berbagai kios dengan beragam jenis makanan seperti ala korea, mexican, mediteranian, vegan dan sebagainya.

Lalu kami tiba di depan counter makanan Colombia. Aku belum pernah mencoba makanan ini. Kalau dilihat-lihat kok agak mirip-mirip dengan jenis makanan gaya mexico atau spanyol. Di sana ada black beans, 2 macam jenis daging yang disuwir, lalu beberapa jenis condiments seperti guacamole, potongan alpukat, lettuce, keju dll. Waktu aku coba, memang tak berbeda jauh rasanya dengan makanan hispanic bahkan agak aneh karena daging suwirnya malah mirip dengan makanan di Hawaii yang namanya kalua pig. Jadi terus terang makanan ini tidak terlalu special. Disamping makanan Colombia, aku juga memesan beberapa potong Buffalo wings dan baby back ribs dari counter yang lain. Sayap ayam yang aku nikmati juga biasa saja, saosnya malah sama sekali tidak special karena sepertinya mereka hanya menggunakan saos standar seperti Frank’s hot sauce, Ribs-nya agak overcooked sehingga buatku terlalu dry dan lagi-lagi saosnya tidak menarik. Tapi saat itu makanan tidak terlalu penting, yang asyik adalah sahabat-sahabat yang menemani makan siangku ini. Obrolan ngalor-ngidul dari masalah kerjaan hingga saling menggoda. 1 jam lebih sama sekali tidak terasa karena serunya.

Ya beginilah cara aku mengisi waktu “liburku”. Kemarin aku habiskan sepanjang hari dengan membersihkan dapur lalu sisanya aku habiskan dengan nonton beberapa film. Pagi tadi sesudah Kano berangkat ke sekolah, aku ambil kelas aquatic fitness. Kebetulan kelas itu isinya ibu-ibu yang sudah sepuh bahkan ada yang sudah berusia 80-an tapi masih sangat sehat. Itulah hebatnya Colorado, mayoritas masyarakatnya mencintai kegiatan kebugaran. Aku agak menganggap enteng aquatic fitness ini karena gerakannya sangat sederhana dengan nama-nama aneh kekanak-kanakan seperti washing machine yang gerakannya mirip dengan menari swing atau contoh lain rocking horse, dan bronco kicks yang mirip-mirip dengan gerakan anak-anak kalau main kuda-kudaan. Nah begitu esok harinya badanku sakit-sakit dan aku sulit berjalan karena betisku serasa remuk. Jangan pernah meremehkan orang-orang tua di Colorado, mereka tidak kalah sehatnya dengan orang-orang paruh baya, aku saksinya hahaha. Teman- teman fitness ternyata lumayan seru terlepas dari usia mereka yang sudah lanjut. Kami ngobrol sambil olahraga dari soal cuaca, makanan hingga pertandingan bola.

Sesudah olahraga aku berendam di Jaccuzi air panas. Otot-ototku menjadi lebih rileks terutama semburan arus air panas dari lubang-lubang yang disediakan di kolam berendam itu seperti memijat punggung dan juga kaki, nikmat sekali rasanya.

Dari salah seorang ibu-ibu itu aku dihadiahi beberapa buah squash raksasa. Bingung juga mau diapain sebab ada beberapa yang sebesar paha orang dewasa.

Karena bingung tidak tau harus diapakan maka aku antar ke rumah Mary Anne, host family-ku. Aku hanya cukup ambil sebuah yang rencananya akan aku buat tempura. Dari Mary Ann aku bawa pulang tomat dan telur ayam kampung organik karena mereka punya kebun dan memelihara banyak ayam.

Tidak perlu pergi bekerja memang ada senangnya. Setiap hari aku tidak perlu berpikir bahwa besok harus bangun pagi karena harus siap-siap berangkat kerja. Aku bisa melakukan hal-hal santai yang aku gemari, masak, membaca buku, nonton film misalnya, tapi sesudah beberapa saat aku bosan juga, terlebih semakin lama dompet semakin tipis.

Aku banyak menghabiskan waktu dengan memasak, dari gado-gado, kangkung cah, udang goreng dan sebagainya. Sebagian bahan makanan aku ambil dari foodbank yang menyediakan banyak bahan makanan tanpa dipungut bayaran. Banyak sayuran, buah-buahan, susu, roti tersedia di sana. Aku hanya perlu mengolahnya di rumah.

Sesudah masak ada kalanya aku pergi ke kampus dan membawa makanan untuk piknik di salah satu meja taman bersama Nina. Sesudah makan siang Nina biasanya kembali ke kelas atau ke kantor untuk mengerjakan tugas, diskusi dengan teman-temannya atau seminar sementara aku pulang membereskan sisa masak, mencuci piring dan sebagainya lalu naik bus kembali ke kampus menemui Nina lagi, dari sana kami akan membawa mobil untuk menjemput Kano yang selesai kegiatan ekstra kurikuler pukul 4 sore. Bus sekolah hanya beroperasi tepat pada saat sekolah usai, jadi jika mengikuti kegiatan sepulang sekolah, maka para siswa harus pulang sendiri.

Sesudah rumah beres, aku bersiap-siap menuju bus kota untuk ke kampus, biasanya itu sekitar pukul 3 siang. Biasa sambil berjalan kaki aku mendengarkan musik dan di dalam bus aku bisa membaca berita atau melakukan hal lainnya dengan menggunakan HP.

Tiba-tiba terdengar bunyi “ting!!” dari HP-ku. Sebuah email masuk dari Human Resouces Office-nya CSU. sekilas aku membaca judulnya. Congratulation, you have been reffered to …..

Dadaku serentak bergetar dan berdegub kencang. Tanpa menunda-nunda lagi aku buka email itu.

Dear Joe,

We are pleased to inform you that you are in final consideration for the position of HDS Departmental promotion…

Aku menghela napas panjang. Aku lolos seleksi di tingkat HRD dan dirujuk untuk interview sebagai tahap akhir seleksi untuk pekerjaan yang sudah lama aku idam-idamkan.

Kupejamkan mata dan bersyukur karena sebelumnya sama sekali aku tidak yakin bahwa akan lolos. Masih ada beberapa minggu ke depan untuk tahap-tahap berikutnya dan aku harus juga memikirkan tindakan yang harus aku lakukan bila nanti benar-benar aku bisa pindah kerja. Tapi aku tidak mau berandai-andai, bermimpi boleh saja tapi jalan masih panjang, terutama ijin kerja belum turun juga. Aku terus berdoa mudah-mudahan saja Tuhan senantiasa menyertai aku, karena aku sungguh berharap dapat memperoleh pekerjaan di kantor ini.

Bus kota memasuki terminal di kampus, dan aku turun dengan senyum lebar. Ada berita baik yang akan aku sampaikan kepada istriku. ***

Job…. less!!!

“So, Christina. What should I do with my keys and work phone?” Tanyaku

“Uuuuuh, I don’t know ,” Kata Christina dengan wajah bingung.

Let me call Kevin.” Sambungnya sambil meraih teleponnya lalu menelepon Kevin, sang manager. Dan percakapan lewat teleponpun dimulai.

Sejak 10 hari yang lalu memang aku sudah diberitahu oleh Christina bahwa ijin kerjaku akan habis dan aku perlu menunjukkan kepada personil HR bahwa Kartu ijin kerjaku yang baru sudah ada. Sudah beberapa hari ini aku memang kusut dan galau karena kemungkinan besar aku akan kehilangan pekerjaanku karena ijin kerjaku habis.

Waktu itu, ketika aku pertama kali mendengar berita, aku sedang bekerja di lobby dan tidak mendengar sama sekali bahwa teleponku berdering sekian lama karena pada saat itu sangat bising. Tiba tiba Christina ada di belakangku dan berteriak mengagetkan aku. Christina memang begitu, dia hobby bercanda dan main-main.

“I called you so many time, you didn’t answer!” Protes Christina.

“Oh, did you? I am so sorry I didn’t hear anything. It’s very noisy over here.” Jawabku

“You have to go to see Soledad. She sent me email just now and I printed it out for you. Here!” Katanya sambil memberikan sehelai kertas. Soledad adalah staff HR bagian payroll.

“What Happens?” Tanyaku kebingungan.

“Just read the email. She said that your working permit is almost expired and you have to go to HR office to show them your new one.” Kata Christina dengan napas yang masih memburu karena sepertinya dia tadi berjalan cepat atau lari dari kantor karena ingin segera memberitahukan berita ini.

“But I haven’t got the new one yet. I am still waiting for it to come in the mail.” Kataku terkejut.

Oh no! When do you think you will get it?” Tanyanya khawatir.

“Hopefully in two weeks or so.” Jawabku mulai ikut-ikut khawatir.

“2 weeks? but your card will be expired soon.” Katanya lagi hampir berteriak.

” I know.” Kataku lesu. Sekarang aku betul-betul khawatir.

“You’d better talk to soledad. Call her as soon as possible.” Usulnya.
Ok. I will.” Jawabku

Esok harinya aku ke HR office dan berbicara dengan Soledad dan atasannya, Paula. Dari situ aku harus menyimpulkan bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali menunggu hingga ijin keluar. Aturannya memang begitu dan aku harus mengikutinya apalagi statusku adalah “pegawai negeri”.

“So I will be terminated?” Ucapku pada Paula, antara bertanya dan memberikan statement yang butuh konfirmasi.

“I guess so, unless you can show me something.” Jawabnya sambil mengangkat tangan seperti orang yang pasrah.

“I only have a receipt that my case is still pending.” jawabku.

“I know, but it is not enough.” Katanya dengan wajah prihatin.

Paula tampak begitu prihatin dengan kondisiku saat itu. Wajah Jermannya yang bulat, putih dan kemerah-merahan menunjukkan keramahan yang menghibur. Sebetulnya, kalau saja lebih kurus dia akan tampak menarik.

“Why didn’t you try to be a citizen or at least permanent resident?” Tanyanya

“I can’t. My Visa status won’t allow me. Actually If I was able to do it, it would be perfect for my son. He is a US citizen and somebody needs to be with him at least until he can be by himself or until he finishes his college.” Kataku melenceng dari obrolan kami.

“How old is your son?” Tanyanya tertarik dengan topik baru yang tidak membuat depresi.

He just turn 13 last June. Now he is in 8th grade” jawabku

“Oh nice. Yeah.. Hopefully you can get your permit before the time is expired.” Katanya

“Thanks, Paula. I will contact you as soon as I get a new progress.” Kataku sambil pamit.

Aku berjalan lunglai sambil membayangkan kesulitan yang akan aku alami beberapa minggu ke depan karena tidak punya pekerjaan. Padahal pada saat ini ada 2 interview yang sedang akan aku hadapi. Satu untuk naik pangkat dan satu lagi untuk pekerjaan kantoran sebagai data specialist. Kalau ijin kerja tidak cepat keluar bisa runyam.

Tapi ya, aku cuma bisa menunggu walau pikiran, kekhawatiran sempat membuat aku “down” dan memilih bolos kerja beberapa hari menggunakan jatah liburku yang nanti akan hangus. Aku sudah menabung jatah libur itu berbulan-bulan dengan mimpi nanti sekitar Thanksgiving aku bisa mengajak keluarga berlibur ke suatu tempat atau bahkan Natal dan Tahun baru bisa pergi agak jauh. Tapi apa daya, lacur semuanya akan hangus. Ya sudah. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menunggu. Menunggu dengan pikiran kusut dan hati ketar-ketir karena kuatir.

Dan…. hari terakhir ijin kerjaku berlakupun tibalah. Pagi-pagi aku bergegas menuju mailbox dalam perjalanan menuju tempat kerja walau aku sangat sangsi akan menemukan kartu ijin kerjaku di situ karena semalam sebelumnya aku check online bahwa kasusku masih pending.

Yup.. nothing was in there except junk mails, catalog from outdoor gear company, and a postcard from somebody that I care less. I turned around in disappoinment (Which actually I had predicted earlier) and walked slowly to the bus stop.

Ada rasa sedih bahwa aku harus meninggalkan team kerjaku. Christina sudah woro-woro ketika break beberapa hari lalu bahwa hari ini akan jadi hari terakhirku bekerja dengan team yang hebat ini. Aku men-training hampir semuanya kecuali 2 orang ibu-ibu yang berbahasa Spanyol. Progress berbahasa Spanyol ku masih kalang kabut karena terbentur kegiatan selama Summer kemarin lalu beberapa minggu sibuk di summer class, dan karena kelelahan. Yah berpisah itu berat, terutama aku bisa saksikan Christina merasa sangat terpukul. Kami berdua memang pasangan kerja yang solid dan dapat bekerja sama dengan baik sekali dan bisa saling mengisi serta mengerti satu sama lain.

Siang nanti aku akan menyerahkan telepon kerjaku serta kunci kantor dan resmi melepaskan posisiku.

Aku membayangkan mulai besok aku bisa bangun siang, mulai menikmati dapurku lagi, mencoba memasak bayak jenis makanan dan resep yang sudah lama aku tunda. Aku bisa nonton beberapa film dan membaca buku-buku yang sudah lama teronggok di sudut kamar dan berdebu. Pikiran ini lumayan menghibur daripada memikirkan hari yang sangat emosional ini.

Tiba-tiba telepon kerjaku berdering.

“Good morning, this is Joe’s speaking” sapaku otomatis.

“Hi Joe, Good Morning. This is Amy from HR Office. I am calling to inform you that you are invited to have a job interview next Thursday. What time is a good time for you to come?” kata seorang wanita di sebelah sana.

Aku berpikir sejenak. Minggu depan khan aku sudah jadi pengangguran, jadi bisa kapan saja.

“I will be free all day. Whenever the panel is ready, I’ll be there.” Jawabku.

“Oh good. Let me see. How about at 9:00 A.M?” kata wanita itu.

“Sure. It’ll be perfect.” jawabku.

“All right then. I will schedule you at 9 in the morning and I will send confirmation through email with all the detail. Have a good day.”

“Thank you, you too.” jawabku sambil menutup telepon.

Well, setidak-tidaknya minggu depan ada sesuatu yang dapat aku nantikan. Ini akan menjadi interview aku yang ke 4 selama setahun lebih tinggal di Fort Collins. Seperti sudah menjadi sebuah rutinitas karena aku mulai familier dengan ritualnya, jenis pertanyannya dan kadang memang membuatku agak terintimidasi karena panel yang aku hadapi berjumlah 2 hingga 6 orang. Seperti orang di dikeroyok 🙂

Hari terasa berjalan sangat cepat karena aku berusaha mengerjakan semua tugasku dengan sempurna. Selama nanti aku pergi, Christina akan mengambil alih tanggungjawabku; oleh karena itu aku ingin meninggalkan semuanya dalam kondisi yang sempurna.

Jam 2 siang ternyata semua karyawan kampus dikumpulkan. Laura, direktur utama kami punya sebuah pengumuman penting. Semua karyawan dinaikkan gajinya! semua berteriak gembira dan bertepuk tangan sementara aku tersenyum masam… tanggal 1 September secara resmi gaji dinaikkan dan itu tepat di tanggal aku mulai menganggur.

” Christina,” bisikku.

I have to leave now. I have 2 apppoinment with HR office and to return my keys to HSC.” sambungku.

Now?” tanya Christina.

“Yes, now.” Jawabku.

Christina memberi tanda kepada staff lainnya dan kami satu persatu keluar ruangan. Aku tahu, ini saat yang tidak menyenangkan untuk mengucapkan kata perpisahan.

“I’ll make it quick.” Kataku.

“This is not a good bye… I’d rather say “see you later” because I will come back soon” kataku.

Kulihat Christina mulai berkaca-kaca. Kupeluk dia lalu bergantian dengan rekan-rekan yang lain.. Lalu aku langung balik badan karena kulihat Christina mulai tak tahan melawan perasaan sedihnya….

Aku berjalan perlahan-lahan menuju tempat parkir. Langit mulai gelap tertutup awan dan hujan rintik-rintik disertai kilat serta halilintar mulai mewarnai sore ini.

Besok, 1 September akan menjadi awal lembaran baru yang masih kosong dan siap aku tulis dengan sebuah petualangan lain… entah nantinya akan mengulang dengan kegiatan sama seperti 1 tahun belakangan ini? ataukah sesuatu yang baru? Aku tak tahu.

Alexander Graham Bell pernah berkata:

” When one door closes, another opens; but we often look so long and so regretfully upon the closed door that we do not see the one which has opened for us”

Nah, aku harus ingat ini dan belajar peka terhadap sekitar serta melihat kesempatan-kesempatan lain yang terbuka di depanku… we’ll see…***

Purpose

Aku duduk di warung kopi langgananku sesudah bekerja keras sepanjang pagi. Hari ini hari Sabtu, biasanya aku libur, tetapi karena bagian Conference CSU ngaco, maka turn over group yang akan menggunakan Student Halls terjadi hari Sabtu dan hanya menyediakan 2 jam saja untuk menyiapkan asrama. Bersungut-sungut jelas tidak akan menyelesaikan masalah, walau kami hanya berhasil mengumpulkan 4 orang sukarelawan termasuk aku dan bossku, tapi kami kerja cepat dan dalam 1 jam semua beres. Akhirnya aku bisa menikmati kelegaan dan rasa bahagia sambil nyeruput es kopi kegemaranku. Ada rasa puas bahwa semuanya beres dan aku bisa memulai akhir pekan tanpa beban lagi.
Sambil duduk merenung dan menikmati kopi, tiba-tiba aku teringat percakapan di WA dengan seorang sahabat kentalku yang barusan kehilangan putri satu-satunya.

“Hallo Jo, lagi ngapain?”
“Akhir-akhir ini gua sering teringat Jo pernah bilang gini: Kalo ga ada Kano, gua ga tau mau ngapain lagi. Hidup gua selesai.”

“Inget engga?”

“Itu persis yang gua rasakan sekarang.” Katanya lagi.
Aku tercenung dan terus terang aku tidak tahu harus bersikap bagaimana karena kehabisan kata-kata. Kondisi sahabatku ini memang sangat berat, tapi aku kenal dia seperti adikku sendiri dan aku yakin dia punya kekuatan yang sangat hebat. Sebagai seorang single parent yang kehilangan satu-satunya alasan untuk hidup (kalau mengutip ucapanku yang dia barusan bilang tadi) memang tampaknya hidup sudah selesai.

Dari percakapan itu aku terus berpikir tentang tujuan hidup. What is actually my purpose of life? sepertinya sudah beberapa kali aku menulis tentang ini, dan selama ini sesungguhnya masih merupakan sebuah pertanyaan yang belum pernah dapat dijawab dengan tuntas karena ujung-ujungnya tidak lebih dari jawaban klise seperti misalnya kebahagiaan atau ingin hidupku menjadi lebih baik.
Belum lama ini aku membaca sebuah blog yang bercerita tentang Dalai Lama yang melakukan perjalanan ke sebuah ski resort. Salah seorang yang menyertai perjalanan beliau menyampaikan sebuah pertanyaan:
What is the meaning of life?”

Dengan santai Dalai Lama menjawab,

The meaning of life is happiness”

Lalu beliau melanjutkan,

“Itu bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Yang sulit adalah, Apa yang membuat kamu bahagia? Apakah uang? rumah yang besar? keberhasilan? teman? kebaikan? atau yang lain? itu adalah pertanyaan yang harus kita semua berusaha jawab.

What makes true Happiness?”

Tapi sekarang ini jangankan membahas mengenai arti sebuah kehidupan, sahabatku ini sedang dirundung sebuah kesedihan yang sangat masif. Kehilangan satu-satunya orang yang paling dekat, paling dicintai dan menjadi pusat dari seluruh fokus kehidupannya bukan sesuatu yang mudah.

Menurut salah seorang psikolog yang pernah aku baca tulisannya, kesedihan merupakan perasaan yang “hidup” yang fungsinya adalah mengingatkan kita pada sesuatu yang bermakna, berarti dan penting yang memberikan arti kehidupan.
“When we feel sadness, it centers us. In general, when we recognize our emotions and allow ourselves to feel them in a healthy and safe capacity, we feel more grounded, more ourselves and even more resillient.”

Mungkin ini yang perlu dilatih. Kita tidak bisa menghilangkan kesedihan dengan mengabaikan emosi. Menutup emosi juga sama saja menutup diri kita dari rasa senang. Kita tidak bisa hanya memilih rasa senang tanpa juga merasakan kesedihan. Kemampuan kita untuk merasakan emosi adalah kodrat manusia.

Semua orang berlomba-lomba mengejar kebahagiaan, itu bukan hal yang aneh. Ada yang beranggapan berlibur membuat bahagia, ada yang belanja, memiliki rumah yang besar, mengejar kekuasaan di ranah politik, menjadi kaya, pesta, berfoya-foya, apa lagi? semua hal-hal random kita kejar sekedar berusaha mencari kebahagiaan. Akhirnya kita lelah, semuanya itu memang menyenangkan, tapi sesudah semua berakhir apakah kita bahagia? Lalu apa? seperti pertanyaan Dalai Lama, what makes true happiness?
Lalu aku pernah juga membaca mengenai purpose of life. Aku lupa siapa yang nulis tapi aku ingat yang dia katakan, The purpose of life is being useful, to be compassionate, to be honorable. Nah ini buatku menarik. Yang aku tangkap secara tidak langsung, tujuan hidup itu mengarah ke luar, bukan ke dalam; ke orang lain, ke sekeliling kita, bukan untuk diri sendiri. Jadi tujuan hidup itu bukan hanya semata-mata untuk menyenangkan diri sendiri, mendahulukan kepentingan diri sendiri atau keuntungan diri sendiri.
Ada salah seorang penulis juga berpendapat bahwa Kebahagiaan adalah produk sampingan, byproduct, dari being usefulness; Semakin kita berguna bagi orang lain, semakin kita menjadi agen perubahan yang memberikan manfaat bagi orang lain, mempunyai empati, compassionate, itu yang akan membuat seseorang bahagia.

Nah setelah kehilangan seseorang yang menjadi fokus dari tujuan, misi dan motif dalam menjalani kehidupan, logikanya tentu saja sangat wajar jika aku kehilangan tempat berpijak. Buat apa lagi aku hidup jika seseorang yang menjadi fokus kehidupanku tidak ada lagi? Aku kehilangan arah, aku tersesat, I am totally lost!

Setelah aku lama merenung, aku mulai melihat banyak flaws, kesalahan, ketidak-benaran, kesalah-kaprahan soal perkataanku bahwa “jika Kano tidak ada lagi, maka hidupku selesai!” Memang kata “Kano” seakan-akan menjadi pusat dari tujuan hidupku, tapi justru itu yang menjebak. Aku seharusnya bukan memusatkan seluruhnya pada satu objek, yang kebetulan seorang manusia, si Kano itu. Tapi pusatnya justru seharusnya pada usefulness, being useful-nya. Tidak penting siapa, karena seperti yang aku ungkapkan di atas, tujuan hidup itu seharusnya “ke luar”!!! Bolehlah ke satu orang, atau beberapa orang seperti keluarga atau orang orang yang kita cintai misalnya. Tapi itu bukan suatu yang absolut. Karena jika itu absolut maka jika kita kehilangan dia atau mereka, habislah sudah. Jadi yang paling utama adalah “ke luar”-nya itu.

Ke luar tanpa suatu misi maka akan sulit menjadi berguna. Mungkin sebaiknya untuk bisa keluar aku harus tahu apa yang ada “di dalam” dahulu, dari situ sepertinya akan lebih mudah mengetahui what my calling is.

Mengetahui panggilan hidup maka akan menciptakan misi, misi akan membuat kita tetap fokus, membuat hidup kita tidak tumpul atau membosankan dan yang terpenting, misi memberikan alasan kita untuk hidup, mengarah pada penentuan tujuan hidup, the purpose of life and hopefully at the end, the reason of my existence!

Gitu ya? hmmm…. kayanya ini akan jadi semacam refleksi hidup yang harus terus menerus dilakukan…

Duh berat amat sih… nulisnya sampe kepala senut-senut…

Sebelum aku tutup aku barusan diingatkan oleh seorang sahabatku yang bilang, “Mas, aku percaya kebahagian bisa dicapai dengan being useful, tapi ingat loh, harus ballance, you have to be useful but don’t let others take advantage of you!”

Bener juga sih.. kita berasa berguna tapi kalo dimanfaatkan ya ujung-ujungnya bukan bahagia tapi SEBEL!!!! Have a good week everybody☺ ***

End of Spring Semester

Colorado State University Transit Center ramai sekali hari ini tapi bus-bus kota sebaliknya tampak kosong. Menjelang hari-hari terakhir perkuliahan di semester musim semi memang selalu begini. Mahasiswa-mahasiswi hampir semuanya telah menyelesaikan ujian dan kebanyakan siap-siap pulang kampung. Asrama-asrama mulai ditinggalkan penghuninya, di tempat parkir disediakan tempat-tempat sampah raksasa di mana para mahasiswa membuang banyak hal, dari persediaan makanan yang tidak sempat dihabiskan, bantal, seprai, selimut bahkan TV, kulkas, kipas angin dan barang-barang elektronik yang tidak bisa mereka bawa atau sudah rusak. Di salah satu sisi juga ada sebuah kontainer yang menampung barang-barang yang disumbangkan mereka. Bisa dilihat barang-barang menumpuk, beberapa kulkas, microwave, sepeda, gantungan baju, rak plastik dan sebagainya yang mereka sumbangkan. Beberapa sukarelawan memasukkan barang-barang itu ke dalam kontainer yang nanti akan mereka bagikan ke penduduk yang membutuhkan, rumah-rumah penampungan gelandangan, panti sosial dan sebagainya. Para mahasiswa mulai mengangkuti barang-barang pribadinya ke dalam mobil atau truk dibantu teman-temannya maupun keluarga yang menjemput. Sebentar lagi asrama-asrama ini kosong dan berubah menjadi semacam “hotel” untuk kegiatan summer camps, conference, dan sebagainya. Tadi pagi beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang tinggal di asrama tempatku bekerja bersalam-salaman, berpelukan mengucapkan selamat tinggal serta selamat berlibur. Mereka hampir semuanya tidak akan kembali lagi ke asrama karena hanya mahasiswa tahun pertama saja yang diwajibkan tinggal di asrama. Tahun ke dua dan seterusnya mereka mencari tempat tinggal di luar kampus.

Di akhir semester musim semi juga diwarnai dengan kelulusan, selama minggu terakhir ini banyak upacara wisuda. Di sini tampaknya wisuda tidak digabung menjadi 1 seremoni tetapi banyak, sehingga bisa dijumpai banyak mahasiswa yang mengenakan toga di didampingi oleh keluarganya di mana-mana selama beberapa hari. Itu sebabnya kampus dan CSU transit center begitu ramai.

Aku menyaksikan keramaian ini sambil asyik duduk menikmati hangatnya sinar matahari yang sudah berbulan-bulan tidak aku nikmati. Aku duduk menunggu Kano yang pulang dari sekolah dan akan sama-sama baik bus menuju rumah. Menjelang akhir semester ini selama 1 bulan kano mengikuti kegiatan track and field seperti tahun lalu. Kalau tahun lalu Kano masuk ke grup lari dari sprint, estafet hingga lari jarak jauh, tahun ini kano memilih lempar cakram dan tolak peluru. Kegiatan dimulai sepulang sekolah hingga jam 4 sore. Karena bus sekolah sudah tidak ada, Kano harus naik bus kota dari sekolah ke Down Town lalu dilanjutkan bus berikutnya ke CSU. Biasanya dia tiba di kampus pukul 5 sore di mana aku menunggu sambil membawa makan malam, lalu pulang sama-sama atau kano pulang sendiri membawa makanan yang sudah aku siapkan, sedangkan aku kembali bergabung dengan Nina untuk belajar hingga malam hari. Tahun lalu Kano hampir setiap kali aku jemput ke sekolah dan pulang sama-sama, tahun ini dia sudah pulang sendiri walau perjalanan lumayan jauh dan berganti bus kota.

Pada saat menunggu inilah aku melihat sesuatu hal yang menarik. sesuatu dibungkus piring kertas diberi nama dan tertempel di sebuah tiang.

Aku perhatikan tidak ada seorangpun yang tertarik untuk melihat isinya, maupun mengambilnya. Di piring kertas itu hanya tercantum sebuah nama.

Tak beberapa lama bus nomor 31 tiba. Para penumpang turun dan penumpang yang tadi menunggu lalu dengan tertib naik. Sang sopir turun karena masih sekitar 10 menit lagi bus itu akan berangkat. Pak sopir berjalan menghampiri tiang dan mengambil piring kertas itu membuka serta mengambil isinya yang ternyata adalah sebuah charger HP. Dia tertawa dan menoleh ke arah aku duduk. Aku begitu terpesona menyaksikan kejadian ini. Pak sopir baik ke bus, mengambil pulpen dan menulis kata Thank You, lalu menempelkan kembali piring kertas itu ke tiang.

“Wow, pikirku. Coba di tempat lain, barang itu pasti sudah lenyap!”

Ya, betul sekali. Di sini semua cukup aman karena kebanyakan orang jujur, tidak suka ikut campur urusan orang lain dan juga tidak tertarik pada barang yang bukan miliknya.

Kejadian lain yang tidak kalah menariknya juga pernah aku saksikan. Pada waktu itu aku duduk di dalam bus kota nomor 6 yang akan membawa aku ke tempat fisioterapi. Ada 3 orang anak SMP yang akan naik bus sambil membawa sepeda. Semua bus kota di sini memang dilengkapi dengan rak sepeda di bagian hidung bus

Rata-rata sebuah bus dapat mengangkut 3 buah sepeda. Nah 3 anak itu masing-masing membawa sebuah sepeda tapi ternyata bus itu sudah mengangkut 1 sepeda sehingga hanya 2 sepeda saja yang bisa diangkut. Anak yang masih memegang sepeda akhirnya menaruh sepedanya di tempat perhentian bus, distandar dan ditinggalkan begitu saja tanpa dikunci, lalu naik ke dalam bus sambil berkata ke teman-temannya. “I’ll pick it up later!”

Sepeda itu bukan barang murah loh, yang kualitas paling sederhana saja harganya di atas $75 apalagi yang bagus, bisa ratusan dollar harganya. Kalau aku, jelas tidak akan pernah meninggalkan sepeda tanpa dikunci sembarangan karena kalau ada yang ngambil, repot harus nabung untuk bisa membeli lagi. Nah anak itu dengan santai meninggalkan sepedanya di pinggir jalan tanpa dikunci. Mengagumkan bukan?

Aku juga punya beberapa teman yang mobilnya diparkir dan tidak pernah dikunci. Suatu waktu topiku tertinggal di mobilnya. Waktu aku mau ambil, aku SMS dia tapi tidak dijawab, maka dengan santai aku ke mobilnya aku buka pintu lalu aku ambil topi yang tertinggal itu. Sesudah itu aku tinggalkan pesan bahwa aku sudah ambil topi di mobilnya. Malamnya baru dia membalas pesanku itu. Ada teman lain juga yang kebetulan tempat kerjanya berdekatan, masih satu kampus tapi beda departemen. Dia suka mampir di dekat kantorku dan meninggalkan mobilnya dalam keadaan hidup. Aku pernah tanya,

“Mas mobilmu kok ditinggal dalam keadaan hidup? dikunci engga?”

dijawab: ” engga aku kunci kok, aman. Sengaja aku tinggal dalam keadaan hidup supaya heater jalan terus, jadi tetap hangat.”

Waktu itu memang winter dan suhu sangat rendah, jadi wajarlah kalau ingin suhu di dalam mobil tetap hangat.

Nah dari kejadian-kejadian yang aku alami ini, aku melihat beberapa hal yang menarik. Pertama, apakah memang kebanyakan orang di sini itu jujur dan tidak suka mengambil milik orang lain? aku tidak bisa menjawab, mungkin saja sih, sebab jika orang-orang di sini suka mengambil barang yang bukan miliknya, maka tentu tidak akan ada orang yang seenaknya naruh barang tanpa pengawasan. Kedua, apakah banyak orang yang tidak atau kurang menghargai barang miliknya? Di sekitar apartemenku bisa aku lihat mainan anak-anak bertebaran di sekeliling kompleks. Ada mainan dari plastik, sepeda roda tiga, sepeda besar kecil, scooter, bola basket sampai ember dan sendok untuk main pasir dan senjata mainan. Oh selain mainan, di teras rumah yang tidak berpagar kami menaruh barang-barang pribadi seperti cooler, grill untuk barbeque, meja, kursi, dan lain-lain. Kalau semua dikumpulkan bisa membutuhkan beberapa truk besar.

Kalau soal mobil temanku yang dibiarkan dalam keadaan menyala, akhirnya aku tau jawabannya. Mobil jaman sekarang tidak pakai kunci starter lagi, cukup tekan tombol. Kalau mobil itu dicuri misalnya, dalam jarak beberapa ratus meter mobil itu akan mati dan tidak bisa dihidupkan lagi, karena kunci remotenya (yang dibawa oleh pemilik kendaraan) jaraknya terlalu jauh. Jadi aman!!!! Tapi kalau mobil temanku yang tidak pernah dikunci, aku tidak tau jawabannya deh hahaha. Ketiga, apakah mungkin masyarakat sini percaya akan keamanan? mereka yakin barangnya aman tidak akan disentuh atau diambil oleh siapapun? mudah-mudahan memang begitu deh. Yang jelas, semua ini buat aku merupakan pengalaman yang mengagumkan***